Menguak Mitos Prinsip “Mengeluarkan biaya serendah-rendahnya memperoleh pendapatan setinggi-tingginya”
*Benjamin
Ridwan Gunawan
Sudah
pada sering mendengarkan kalimat pada judul di atas? Orang-orang kita banyak
yang suka cari gampangnya saja, pakai usaha sesedikit mungkin tapi inginnya
dapat sebanyak mungkin. Contohnya apa? Melakukan Korupsi, suap, dan jalan
pintas lainnya untuk mendapatkan pendapatan secara instant. Well, itu adalah
hal yang tidak baik. Memang prinsip ekonominya jalan, namun sama sekali tidak
memberikan manfaat buat orang lain, boro-boro manfaat, yang ada malah merugikan
orang lain.
Kalau
di versi kampungnya contoh kegiatannya adalah dukun, atau ngepet. Ingin
kerjanya sedikit tapi hasilnya banyak. Hahaha dah ga jamannya begituan, yang
ada babi jaman sekarang pada disembelihin buat dijadiin tas atau jaket
(hati-hati bagi temen-temen yang beli barang dari kulit, bisa jadi itu adalah
kulit babi ngepet :P)
Ada
dua hal dalam prinsip ini, yang pertama adalah biaya, dan yang kedua adalah
pendapatan. Biaya, adalah apa yang kita keluarkan untuk memperoleh pendapatan
di masa depan, dalam prinsip ini, biaya yang dikeluarkan harus seminimal
mungkin.
Pendapatan,
adalah manfaat yang diperoleh atas biaya yang kita keluarkan di masa lalu,
dalam prinsip ini, pendapatan yang harus kita peroleh adalah semaksimal
mungkin.
Bisa
dibilang ini adalah prinsip hasil turunan dari konsep kapitalisme,
memberdayakan apa yang kita miliki untuk memproleh sesuatu yang belum kita
miliki sebelumnya.
Pokok
masalah: Namun ada
sesuatu yang sebenarnya kurang dimengerti oleh orang-orang mengenai prinsip
ini. Ada hal yang harus dimengerti lebih dari sekedar mengeluarkan biaya
serendah-rendahnya. Melakukan berbagai cara hingga menghalalkan cara apapun
walaupun hal itu merugikan orang lain demi memperoleh pendapatan semaksimal
mungkin, yang bahkan pendapatan tersebut pada akhirnya hanya dikuasai sendiri
tanpa dibagi dengan yang lain.
Pembahasan: Dalam hal ini biaya tidak selalu
dinilai dengan uang, bisa juga dengan tindakan atau usaha. Sedangkan pendapatan
juga bisa dalam bentuk selain uang seperti, pangkat, kehormatan, penghargaan
atau bisa juga kekasih.
Untuk
mampu memperoleh pendapatan setinggi-tingginya dengan biaya yang harus
dibayarkan dengan harga yang minimal, tidak semua orang dapat melakukannya.
Membutuhkan kemampuan yang tinggi agar bisa bekerja dengan efisien dan efektif
untuk memperoleh pendapatan tinggi.
Contohnya
begini, untuk memperoleh uang satu miliyar bisa dilakukan dengan banyak cara
(kecuali korupsi apalagi ngepet ya), misalnya melakukan wirausaha, bekerja pada
perusahaan multinasional, bermain saham atau bahkan menjadi pemain bola tingkat
dunia. Seberapa efisienkah anda dalam melakukan usaha atau mengeluarkan biaya
sehemat mungkin, hemat waktu dan juga hemat uang (efisien dalam hal ini
memiliki arti yang sama dengan hemat).
Sesuaikan
juga dengan keahlian yang benar-benar anda kuasai, jangan terpengaruh dengan
gosip yang sedang nge-trend di masyarakat. Jangan dikira, berwirausaha adalah
jalan tercepat memperoleh uang satu miliar tadi. Bila anda tidak ahli dalam
wirausaha maka anda melakukan kegiatan yang tidak efektif.
Atau
anda mencoba menjadi pemain bola tingkat dunia, satu kontraknya, anda akan
dibayar satu miliar. Bila anda tidak pernah bermain bola, bahkan parahnya lagi
anda tidak tahu bola sepak itu berwarna apa ya sebaiknya jangan melakukan ini
untuk jalan pilihan anda memperoleh uang satu miliar anda.
Lakukanlah
pekerjaan yang merupakan keahlian anda, atau lakukan pekerjaan yang anda sukai,
maka jalan untuk memperoleh pendapatan yang anda harapkan dapat menjadi lebih
efisien dan efektif.
Saran,
dan kesimpulan:
walaupun sekarang lagi nge-trend yang namanya entrepreneurship, jangan
memaksakan diri semuanya harus jadi wirausaha. Entrepreneurship bukanlah melulu
tentang wirausaha, membangun perusahaan sendiri, yang dimaksud Entrepreneurship
di sini adalah jiwa yang kuat, jiwa mandiri, dan jiwa kepemimpinan. Intinya,
mau jadi apapun dirimu, milikilah jiwa entrepreneurship, bahkan menjadi seorang
penulis ekonom gila sekalipun. Dobraklah batasan dalam pekerjaan yang kamu
lakukan, lakukan inovasi, kuatkan dirimu, maksimalkan keahlianmu dan peroleh
pendapatan maksimal dengan efisien dan efektif dari pekerjaan yang kamu
kerjakan. Maka mengeluarkan biaya serendah-rendahnya dapat berarti melakukan
pekerjaan yang kamu kerjakan dengan efisien dan efektif, karena kamu
benar-benar menyukai pekerjaan itu, menguasainya dan akhirnya kamu dapat
melakukan pekerjaan itu dengan sangat baik.
Memperoleh
pendapatan setingi-tingginya, hal itu menjadi tak mustahil lagi, dengan bekerja
sepenuh hati, pendapatan yang akan kamu perolehpun juga akan maksimal.
Selamat
menikmati informasi dari tulisan yang ala kadarnya ini :D
*Sebagai
lelaki yang bercita-cita menjadi CEO terbaik sedunia, saat ini si penulis
sedang menyukai cerita-cerita tentang kepemimpinan dan dedikasi pada hidup,
sehingga tiba-tiba muncul ide tentang tulisan ini.
Saran
Di
sini saya sebagai salah satu pemangku kepentingan dari kelompok pelanggan dan
pemerhati lingkungan (iya pemerhati lingkungan, paling cuma rajin nyiram
tanaman satu pot doang itupun kadang suka lupa) ingin memberikan saran konkrit
bagi perusahaan motor yang telah berjaya dengan memperoleh penjualan besar di
tahun-tahun belakangan ini:
1.
Batasi penjualan motor-motor baru, misal satu rumah maksimal dua. Iya dong pak,
lihat saja kalau siang hari di jalan gejayan atau di daerah tugu, udah panas,
macet oleh kendaraan motor, sesak, hawanya bikin orang emosi aja (walaupun
kadang saya naik mobil, emosi saya biasa aja tuh… *nggaya. Tapi seringnya naik
motor ding).
2.
Bila ingin menjual motor baru, tawarilah pemilik motor yang motor lamanya sudah
berumur lebih dari lima tahun, lakukan tukar tambah motor baru dengan motor
lamanya. Motor yang umurnya sudah lebih dari lima tahun, biasanya mesin sudah
tidak bisa berjalan dengan optimal lagi, pembakarannya menyebabkan
karbondioksida yang dibuang lebih tak teratur dan kadang kadarnya lebih banyak.
Penjualan motor dengan cara ini dapat lebih mudah mengontrol jumlah motor yang
beredar di jalanan.
3.
Lakukan program CSR yang memerhatikan lingkungan kota Jogja, masih terdapat
banyak jalanan yang sesak dilalui kendaraan motor tapi tak ada pohon rindang
disekelilingnya, contohnya saja jalan gejayan sama seturan (panas cuy).
4.
Kembangkan produk yang ramah lingkungan, jangan hanya motor irit bensin aja
pak, sekali-kali bikin sepeda jalanan dengan merek motor anda juga dong. Nah
ini bakal menjadi gebrakan baru, kedepannya akan banyak bermunculan
sepeda-sepeda bermerek Yamaha, Honda, Suzuki dll. Mumpung sekarang eranya lagi go
green, dan semuanya lagi pada gandrung sama sepeda. Kalau tidak salah
ingat, saya pernah lihat ada sepeda dengan merek BMW (entah saya yang salah
lihat BMX saya baca jadi BMW kali ya hehehe).
Ya
sekian saja tulisan saya yang ngalur-ngidul tidak jelas kemana arah tujuannya.
Terima kasih sudah membaca, semoga bermanfaat.
Komentar
Posting Komentar