Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Refleksi Diri

Semua Manusia Adalah Guru

“Pak, lihat ini pohon Karet!” Seru muridku, Tedi, di suatu pagi. Kupandangi dengan seksama bentuk pohon yang ditunjukkan oleh muridku. Pohon ini masih kecil, tidak seperti kebanyakan pohon karet di hutan yang selalu di nakok [1] oleh masyarakat sini, di tempat Aku ditugaskan sebagai guru, di Talang [2] Tebat Rawas. Aku masih mengamati pohon muda itu sambil mendengarkan alunan instrumen ‘ Beginning of The Road ’nya Depapepe, berusaha mencari tahu apa yang sama dengan pohon karet yang sudah siap di nakok. Jepret! Suara kamera mengambil gambar yang diambil oleh muridku yang bernama Agus. Bak fotografer profesional, Agus mengambil foto pohon karet muda di hadapanku dari berbagai arah dengan berbagai posisi. “Lihat bentuk daunnya pak!”, Seru Agus mengambil perhatianku dari pengamatan pohon. Aha, itu jawabannya. Meski pohon ini masih muda, yang sama dengan pohon yang sudah besar adalah ciri daunnya. “Kalau yang ini pohon Nangka, Pak” Tedi berseru sambil men...

Catatan Di Malam Yang Hening

Di suatu heningnya malam, suara jangkrik bersahutan. Nyamuk-nyamuk terbang melayang di atas kepala. Kepala dari seseorang yang sedang merasa candu akan heningnya malam. Ditemani secercah cahaya tentram lampu senter. Muncul beberapa memori dalam ingatan masa lalunya yang membuat dirinya berpikir kembali. Apa yang telah dilakukan di masa lalunya hingga sekarang. Bukan sebuah kebetulan orang ini berada di dalam keheningan. Telah banyak jalan yang dilalui di masa hidupnya. Bukan hidup yang mudah tentu saja. Bagaimana tidak, manusia dilahirkan bersama sepaket karunia, tanggung jawab dan juga masalah. Soe Hok gie pernah berkata, “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda...” Orang ini bukanlah orang istimewa yang banyak dikata oleh orang lain. Orang ini menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki struktur DNA, yang tersusun dari atom. Dan atom dari zarah, partikel terkecil atom, yang sama persis menyusun struktur DNA orang lain....

Melodi Indah Kehidupan

Aku bukanlah pujangga seperti Chairil Anwar, maupun penulis yang mencintai alam raya layaknya Soe Hok Gie. Aku hanyalah pemuda yang merindukan kebahagiaan utopis dengan cara menulis. Namun jangan bayangkan tulisanku dapat disandingkan dengan tulisan Ayu Utami, Dewi Lestari bahkan Will Eisner sekalipun. Namun satu hal yang Aku yakini dalam setiap huruf dalam kata, kata yang menggenapi kalimat-kalimat kecilku adalah wujud orisinalitas petik hidup dari kehidupanku. Seperti satu tahun kedepanku yang nampak akan sama dengan satu tahun yang dilalui Pengajar Muda sebelumku. Namun satu hal yang kuyakini akan menjadi hal yang berbeda di tahunku, adalah tentang bagaimana cara menikmati setiap detik dalam hari-hariku. Bukan tentang seperti apa ceritanya. Layaknya petikan ‘ Gymnopodie ’ dari Depapepe, hidup itu berjalan lambat ketika awal memulainya, kemudian begitu mengasyikkan begitu memasuki melodi yang menyamankan gendang telinga. Sampai-sampai membuat waktu berjalan begitu cepat ...

Say Cheese to The Thruth of Our Mind (My Mind I Mean)

Sudah 3 minggu tidak menulis, dan kini menulis lagi. Yang terjadi adalah tulisan fiksi. Heran. Dasarnya aku adalah orang yang menyukai hal-hal logis yang penting-penting saja. Tulisan seputar Leadership . Ekonomi global. Ataupun tulisan mengenai pekerjaanku saat ini, audit. Itulah tulisan yang aku gemari untuk kutulis. Dan sekarang? Aneh. Sometimes , manusia butuh yang namanya, explore your imagination . Einstein saja punya masalah dengan metode pembelajaran tradisional, yang mendorongnya untuk penggunaan sisi kreatif dari otak. Mungkin ini yang membuatnya menjadi ilmuwan besar. Dia menatap sesuatu melalui mata yang berbeda untuk menemukan solusi untuk masalah tersembunyi. yaitu imajinasi. Mungkin makhluk hidup di sekitar kita yang bernama manusia ini, banyak yang belum mengenal diri kita yang sebenarnya. Kebanyakan mereka berfikir sesuai dengan apa yang mereka lihat saat itu. Misal diriku, mereka berfikir bahwa aku adalah orang yang pendiam, cuek, dan terkadang kol...

Awang-awang Liar

Bola mataku memandang kakiku sendiri yang terlihat dari posisi dudukku yang menyelonjorkan kedua kaki di atas tempat tidur. Kusenderkan  punggung   pada tembok. Jempol kaki kiri terasa sakit sekali, ada kuku memanjang yang tidak terpotong secara sempurna menyodok kulit daging di ujung jempol. gitar kupangku di atas kedua kakiku. Sambil kupetikan sebuah lagu “Rolling in the deep” nya Adele secara akustik di dalam kamarku. Saat petikan gitar ini menimbulkan gelombang suara mengalun renyah, pikiranku mengawang pada sosok gadis yang telah menjadi sahabatku selama aku kuliah. Puitis sekali pikirku, mengapa aku mendadak menjadi romantis begini, melankolis busuk. Brengsek. Sebuah pikiran terliar saat kucoba berimajinasi kembali tentang sosoknya. Sahabat yang sering kuajak berdebat. Ya, kami sering bertengkar. Seperti Tony Stark dengan Captain America dalam film “The Avenger”. Masih di atas kasurku, tepat di samping kanan angin berhembus pelan menyejukkan berasal dari s...

Coklat Hangat

"Langitnya putih ya, ga keliatan birunya... awan tipisnya menutup semua langit birunya..." Dari kursi mobil samping kursi pengemudi, kulihat keluar jendela, menatap jalanan yang mulai ramai, jam menunjukkan pukul 09.12 WIB. hamparan sawah yang hijau luas, tiang listrik yang kabelnya bergelantungan di sepanjang sisir sawah, kerbau-kerbau yang sedang membajak sawah. Di dalam mobil tidak terasa angin sepoi jalanan, kaca ditutup rapat, dinginnya AC membuat perut terasa ada yang sedang bermain perkusi. Lapar, bukan. Cuma ingin meneguk secangkir coklat hangat. Masih terngiang, hangatnya sapaan selamat pagi di kantor bersama anak-anak 'Bejege Office', galau bersama, berjuang, tertawa, berteriak melolong seperti serigala dan menangis haru bersama. Sedihkah? ya, tapi sedikit. Senang atau bahagia? tidak terlalu. Perasaan ini seperti menghirup udara pagi di puncak gunung sambil menatap matahari terbit. Sedikit rasa sedih dan bahagia, dominan rasa hampa namun ingin me...

Terbuang dan Kini Bangkit Kembali

20 November 2011. Tepat satu bulan sudah, aku bekerja sebagai auditor di kantor akuntan publik ini. Waktu yang sangat cepat kurasa. Mengapa terasa cepat? Teman-teman sejawatku yang bekerja sebagai auditor di sebuah kantor akuntan publik lain masih belum diperbolehkan menangani proyek langsung padahal sudah enam bulan bekerja. Ada juga yang sudah dua tahun dan masih kerjanya Cuma ‘membantu’ saja. Memang berbeda di tempat kerjaku, sebenarnya bukan hanya berbeda, tetapi juga aneh hehe. Baru sebulan aku bekerja, sudah menangani tiga proyek lapangan langsung bersama seniorku, dan minggu depan akan datang lagi proyek  raksasa dan sangat menantang. Apakah sulit? Aku tidak mau menyebut kata sulit, karena menurut Ali bin Abu Thalib, orang yang tidak takut adalah orang yang tidak mengenal kata sulit. Teringat kembali pada dua proyek audit yang terakhirku. Yang pertama berlokasi di Boyolali, dan satunya lagi yang terakhir berposisi di Klaten. Dua perusahaan yang berbeda kepemilikan (menuru...

Tiga Minggu Menjadi Auditor

15 November 2011 Pukul 04.30, angka jarum yang tertera pada jam dinding yang kulihat pertama kali saat kubangun tidur. Tak banyak ambil pusing, kulangsung mengambil posisi ‘ sit up ’, ambil tekukan perut hingga dua puluh kali dan dilanjut ‘ push up ’ lima belas kali. Itu yang selalu kulakukan begitu bangun pagi. Dari kata temenku sih, katanya pengencangan otot paling efektif adalah saat setelah bangun pagi. Saat itu adalah saat semua otot kita masih lemas, maka pada saat itulah saat yang paling tepat untuk mengencangkan otot kita (yeah tetapi itu juga katanya temen hehe). Hari ini memang berbeda dari hari biasanya. Hari-hari biasanya aku mulai masuk bekerja pada jam setengah delapan. Maka berangkat dari rumah jam tujuh pun tidak masalah. Sudah tiga minggu aku bekerja sebagai auditor. Keseharianku sudah bisa tertebak karena sistematisnya pola hidupku setelah bekerja. Bangun pagi jam setengah lima, olahraga, mandi, sembahyang, beres-beres rumah, sarapan lalu berangkat. Begitu terus da...

Kiamat (Perekonomian) Dunia Di 2012

Masa Depan (Kehancuran) Perekonomian Dunia Beberapa minggu yang lalu, saya berdiskusi dengan beberapa teman saya yang seorang dosen ekonomi, beliau adalah orang yang menekuni ekonomi makro. Dari diskusi tersebut kami temukan isu yang mengatakan resesi ekonomi 2008 belum berakhir, akan ada gelombang berikutnya yang jauh lebih besar, dan kejadian tersebut dikatakan akan terjadi di tahun 2012. Bila anda pernah mendengar isu kiamat di tahun 2012, maka ini kami sebut “Kiamat Perekonomian Dunia.” Sistem keuangan yang sudah bobrok dan tak pernah diwujudkan solusi konkritnya. Uang itu sendirilah masalahnya. Pada jaman dahulu, sistem transaksi kita menggunakan sistem barter, dan alat tukar standarnya adalah emas. Dengan berjalannya waktu, emas tersebut disimpan dalam gudang dan digantikan dengan surat sertifikat kepemilikan emas, dengan alasan jauh lebih praktis ketimbang membawa emas yang berat kemana-mana. Ketika semua orang menyimpan semua emasnya dan menggantinya dengan surat...

Dizza Arifa

Sosok gadis cilik yang riang itu muncul kembali. Dia berlari kecil menuju arahku. Semuanya tampak buram, jalanan, pepohonan, gedung sekolah, semuanya menjadi buram. Tak ada yang terlihat dengan jelas, kecuali gadis kecil itu. Ya, gadis yang riang itu kini berdiri di hadapanku. Matanya yang berwarna kebiruan tampak tajam sekaligus penuh hasrat semangat menatap mataku. Hidungnya yang mungil, rambutnya yang hitam kecoklatan dengan panjang sebahu lurus tergurai sedikit mengembang. Gadis cilik setengah Indo-setengah Jerman itu berusia sekitar 8 tahun. Dia mengenakan seragam SD nya, dengan rok mungilnya di atas lutut. Gadis itu menunggu responku atas kedatangannya. Saat ku tersadar, ternyata tubuhku kembali seperti saat aku SD. Tubuhku mengecil, kulihat sekilas tangan dan kakiku yang mungil, tubuh siapa ini, sesaat kuingat kembali. Aku kembali ke masa kecilku. Aku sedang di dalam mimpi. Mimpi bersama seorang gadis yang sudah belasan tahun tidak pernah kuingat wajah maupun namanya, Dizza Ar...

Ironi Sebuah Bangsa Yang Katanya Kaya

Di tengah terik matahari yang menyengat, di jalanan besar di kota Yogyakarta. Ketika itu tepat di lampu merah, semua kendaraan berhimpit-himpitan saling ingin mendahului. Mobil, motor, bis dan hingga truk bertumpuk menjadi satu di jalan besar yang tampak tak muat lagi jika di tambah satu mobil sekalipun. Di tengah hiruk pikuk macetnya kendaraan, seorang pengemis meminta-minta di bawah lampu merah. Pengemis tersebut adalah seorang pemuda yang tampak masih sehat dan segar fisiknya. Sungguh ironi memang, bangsa kita yang terkenal sebagai jamrud khatulistiwa, Negara maritim, Negara agrikultur dan sebutan lainnya yang cukup membanggakan kita, ternyata masih banyak ditemukan masyarakat mental pecundang, yaitu menjadi ‘peminta-minta’. Saya tak mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa pecundang. Negara kita, Negara Indonesia adalah Negara yang hebat. Dua pertiga teritorial Negara kita adalah perairan, dan kawasan Negara kita merupakan lingkar cincin gunung berapi, yang mengakibatkan tanah...