Langsung ke konten utama

Coklat Hangat

"Langitnya putih ya, ga keliatan birunya... awan tipisnya menutup semua langit birunya..."

Dari kursi mobil samping kursi pengemudi, kulihat keluar jendela, menatap jalanan yang mulai ramai, jam menunjukkan pukul 09.12 WIB. hamparan sawah yang hijau luas, tiang listrik yang kabelnya bergelantungan di sepanjang sisir sawah, kerbau-kerbau yang sedang membajak sawah. Di dalam mobil tidak terasa angin sepoi jalanan, kaca ditutup rapat, dinginnya AC membuat perut terasa ada yang sedang bermain perkusi. Lapar, bukan. Cuma ingin meneguk secangkir coklat hangat.

Masih terngiang, hangatnya sapaan selamat pagi di kantor bersama anak-anak 'Bejege Office', galau bersama, berjuang, tertawa, berteriak melolong seperti serigala dan menangis haru bersama. Sedihkah? ya, tapi sedikit. Senang atau bahagia? tidak terlalu. Perasaan ini seperti menghirup udara pagi di puncak gunung sambil menatap matahari terbit. Sedikit rasa sedih dan bahagia, dominan rasa hampa namun ingin melolong seperti orang gila.

Berkali-kali aku bertemu dengan manusia yang menggoreskan coretan tebal dalam sejarah hidupku, berkali-kali, dan kini sekali lagi. Akan menjadi catatan penting dalam sejarah kisah legendaku. Legenda? boleh kog tertawa, setiap orang punya legendanya masing-masing, akan ada yang mengenang dan dikenang. perjalanan berikutnya akan begitu lagi dan seterusnya.

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, seperti awan tipis ini yang kulihat di langit biru, mereka bertemu, bersenggama bersama, namun lihat saja sebentar lagi. Awan putih ini akan menghilang menyisakan langit biru sendirian. Dan bertemu lagi, berpisah lagi, begitu seterusnya.

Jangan bersedih kawan, juga jangan terlalu bergembira, semua ada awal dan ada akhir, akhir dari cerita kita akan menjadi awal bagi cerita kita selanjutnya. Kita akan bertemu lagi, 1 bulan, 3 bulan, 1 tahun, 5 tahun, atau  seperempat abad kemudian, mungkin. Dalam kisah yang baru, dalam skenario yang berbeda, dalam adegan yang berbeda. Sebagai aktor yang sama walau peran yang berbeda. Seru. Pastinya bakal menarik setiap pertemuan berikutnya, akan terisi kembali coklat manis dalam masing-masing cangkir kehidupan kita. yeah, coklat manis yang hangat, diberi es batu juga boleh, tak ada yang melarang. Karena hidup ini milik kita, bagi yang mempercayai dan meyakininya.


See You On The Top


Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...