‘Trickle
Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis,
yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini
dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan
perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat
menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down
Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh
dunia.
Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini,
penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika
dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang
bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3
orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah
dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling
atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan
membantu mengangkat dua orang sisanya. Itulah harapan dan idealisme ‘Trickle
Down Effect’. Negara memberikan akses dan kemudahan bagi orang-orang terkaya di
tiap negara, dengan harapan aset kekayaan dari si kaya ini akan memberikan peluang
(misal, lapangan pekerjaan) bagi si miskin untuk ikut menjadi kaya.
Namun realitanya tidak
pernah seindah itu. Ternyata, saat orang pertama sudah naik, dia malah
berleha-leha dan tidak membantu. Para kapitalis yang sudah diperkaya, dan
diberi akses oleh negara, bukannya membantu rakyat miskin. Malah makin sibuk
memperkaya dirinya sendiri tanpa memperdulikan kaum bawah.
Istilah ‘Trickle Down
Effect’ pertama kali dikeluarkan oleh Ronald Reagen (Ex-presiden Amerika
Serikat ke- 40) dalam suatu pidato kepresidenannya di mana dia mengumumkan
pemotongan pajak besar-besaran bagi orang-orang kaya, suatu keistimewaan yang
dia klaim akan “merembes” ke seluruh rakyat.
“The ‘Tricle Down
Effect’ is a now-discredited theory of distribution which holds that the concentrartion
of wealth in a few hands benefits the poor as the wealth necessarily “Tricles
down” to them, mainly through employment generated by the demand for personal
service and a result of investments made by the wealthy” (Levy and Weitz, 2009).
Asal mula ‘Trickle
Down Effect’ ini sebenarnya sebuah ilmu yang mengadopsi dari ilmu dalam Islam,
namun kenyataannya banyak yang dirubah dari ilmu aslinya.
Bermula dari seorang
sahabat Rasul Saw bernama Amr bin Al Jamuh yang berumur cukup tua bertanya pada
Rasulnya karena terdorong untuk memberi dan berbagi kepada sesama, “Wahai
Rasul, aku punya sejumlah harta, bagaimana cara aku menyedekahkannya dan kepada
siapa aku infakkan?”
Rasulullah berpikir.
Beliau belum mendapatkan ide untuk menjawab pertanyaan ini. Sesaat kemudian,
datanglah firman Allah Swt dalam ayat sebagai berikut:
“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan.
Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaknya diberikan kepada ibu
bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang
sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka
sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (Al-Baqarah: 215)
Inilah asal mula ilmu yang akhirnya
diadopsi menjadi ilmu ‘Trickle Down Effect’. Pada ayat di atas memiliki
ikhtisar, jadilah manusia yang berkecukupan. Milikilah perekonomian jauh di
atas rata-rata. Maka saat kekayaanmu lebih dari cukup, berikanlah sebagian
kekayaanmu pada orang-orang sebagai berikut:
1.
Orang tuamu
2.
Kerabat terdekat
3.
Anak yatim
4.
Orang miskin
5.
Ibnu Sabil
Islam memberikan solusi bagi
perekonomian kita untuk menjadi lebih baik. Dan semua itu telah diatur karena
aturannya turun dari Allah langsung. Setiap individu manusia memang dituntut
untuk kaya, dan memberikan sebagian kekayaannya pada orang lain, yang urutannya
telah diatur dalam Islam.
‘Trickle Down Effect’ merupakan ilmu
yang mengadopsi dari ilmu Islam, namun tidak secara utuh, menjadikan
perekonomian bangsa kita masih carut marut sampai sekarang. Karena sistem
perekonomian yang kita anut adalah sistem tiruan dari sistem aslinya yang tidak
dilaksanakan sesuai ilmu aslinya. Pada dasarnya ‘Trickle Down Effect’ adalah
sistem yang pelaksanaannya Top-Down, sedangkan Ilmu yang diajarkan Islam
(sebut, ‘The original of Trickle Down Effect’) pelaksanaannya adalah Bottom-Up.
Sebagai individu yang memiliki akal pikiran dan tubuh, berhenti banyak
berbicara dan ambilah tindakan. Perubahan besar tercipta mulai dari diri
sendiri, kemudian merambat ke sekitar anda.
Refference:
1.
Michael Levy and Barton A. Weitz, 2009,
“Retailing Management. 7 ed”, Publisher: McGraw-Hill Irwin.
2.
QS. Al-Baqarah: 215
mantab mas postingannya
BalasHapusThank you :-)
BalasHapus