Langsung ke konten utama

CERITA TENTANG NAIK KELAS (Part 1)


Terinspirasi dari perkataan Hendri Sartiago, Chief Executive Oficcer (CEO) General Electric (GE) Indonesia dalam acara akademi berbagi yang saya kunjungi sebulan yang lalu. Beliau berbagi cerita mengenai keprihatinan dirinya atas lambatnya Indonesia dalam memaksimalkan potensi ekonominya. Cerita di mulai tentang harga (Naah, bagian ini saya mulai teringat tulisan mas Aul). Berdasarkan pengalaman profesional bung Hendri di GE, harga ditentukan dari tiga elemen; biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk hingga sampai ke tangan konsumen + Value + Kelangkaan.

Elemen pertama, mengenai cost, kita sudah tahu dalam memproduksi suatu produk barang ataupun jasa pasti memerlukan suatu biaya yang dikeluarkan hingga produk tersebut sampai di tangan konsumen. Dalam penentuan harga jual suatu produk, elemen cost ini yang paling utama untuk diperhitungkan sebagai dasar penentuan harga. Kemudian nilai nominal selisih dari harga jual dengan harga dasar dari cost tersebut yang biasa disebut margin. Besarnya margin dapat ditingkatkan berbanding-lurus dengan besarnya value yang dimiliki produk tersebut. Hal ini menjelaskan mengapa harga teh kotak lebih mahal dari es teh spesial buatan bu Inem di warteg pertigaan.

Tulisan saya akan dibagi dan dijelaskan dalam 4 (empat) cerita sederhana mengenai value dan kelangkaan, selamat menikmati:


1. Cerita tentang pembuatan parfum
Di Institut Pertanian Bogor (IPB), mahasiswanya banyak yang membuat industri rumahan membuat ekstrak parfum. Dibuat dengan harga 75ribu per 8 (delapan) galon dengan cara menguapkan tanaman tertentu dan diambil ekstrak air bekas uapannya melalui pipa-pia kaca dan selang yang rumit. Hasil ekstrak parfum tersebut dibeli oleh singapura, disaring lagi 5 (lima) sampai 7 (tujuh) kali, dan dijual seharga 300ribu per galon ke Perancis. Di Perancis disaring sekali lagi, dan dikemas dengan apik, ditempeli brand Perancis dan dijual seharga ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah per 50-100mili nya. Emangnya ada yang mau beli? Ironisnya, pembeli terbanyak parfum branded itu adalah kita, Indonesia (Hiks, saya terharu sekali).

Cerita di atas, khususnya pada bagian ekstrak parfum yang dibeli oleh Singapura dan disaring lagi, dijual lebih mahal dan dibeli kembali oleh Perancis, ditambahi label dan dijual (lagi-lagi) lebih mahal. That’s story tell about value. Pada titik inilah para produsen kreatif mengambil untung lebih besar. Dengan menambah proses kerjanya, ditangani oleh orang-orang ahli, packaging yang lebih elegan, ditambah cost nya. Dan menghasilkan value yang lebih bernilai. Value tersebutlah yang membuat harga produk parfum dari Singapura dan Perancis lebih mahal dari ekstrak parfum buatan Indonesia.

Nominal value tersebut memang belum ada takarannya. Konsumen sendirilah yang menakar nominal dari value, dengan cara membandingkan dengan produk lain. Apakah puas dengan value yang ditawarkan atau malah lebih puas dengan value yang ditawarkan oleh produk sejenis dari merk lainnya. Apakah puas dengan value yang diterima dengan membayar sekian harga.

2. Cerita Toko Jam Tangan di Swiss
Cerita tentang kelangkaan, ada sebuah toko jam tangan di Swiss yang pernah didatangi oleh bung Hendri. Ketika bung Hendri masuk ke dalam toko, dia bilang mau cari jam tangan yang bagus. Ditawarilah oleh penjaga toko, jam tangan-jam tangan keren yang memiliki banyak feature, fungsi yang keren-keren dan tampilan yang sangat menarik. Harganya berkisar  100-800 US dollar. Bung Hendri bilang, “This is not my level mister, give me the next level.”

Pejaga toko mengajak bung Hendri ke lantai dua, di mana di lantai ini lebih sepi pengunjung, dan desain lantainya lebih glamour. Penjaga toko memamerkan jam tangan-jam tangan paling branded di dunia. Bukan feature yang ditawarkan namun kelas. Sebuh tingkatan kelas elite yang hanya pantas mengenakan jam tangan ini. Harganya berkisar antara 900 – 5.000 US dollar. Namun bung Hendri masih mengatakan, “Noo sir, this is still not my class, I want the the best of the best.” (ngomongnya pake logat ala parlente yang mulutnya dimonyong-monyongin)

Setelah mendengar itu, penjaga toko langsung mengambil telpon dan memanggil seseorang dari seberang telpon. Setelah menutup telepon penjaga toko mengajak bung Hendri ke lantai bawah kembali, kemudian turun tangga lagi, dan menuju ruangan bawah tanah. Di sana sudah ada dua orang berjas eksklusif dan berkacamata hitam, menyambut bung Hendri dan mengajaknya masuk ke ruangan yang sangat rahasia. Di dalamnya sudah menunggu lagi orang berjas putih dan menyilahkan bung Hendri duduk di kursi. Pintu ruangan ditutup dari luar dijaga oleh dua penjaga tadi. Penjaga berjas putih mengambil koper besi dari brankas besi dan membukanya di hadapan bung Hendri, isi koper tersebut ada sebuah jam tangan tua antik.

Penjaga berjas putih mengatakan, jam ini hanya dibuat 4 (empat) buah saja di dunia ini oleh pembuat jam legendaris yang sudah meninggal dunia 50 tahun yang lalu. Yang memakai jam tangan ini yang pertama adalah raja Inggris, jam tangan yang kedua berakhir tenggelam di lautan Atlantik, yang ketiga terjatuh di kawah gunung merapi, dan jam tangan yang keempat, yang terakhir, yang paling berharga (bahasanya rada lebay) berada tepat di hadapan anda. Harga yang ditawarkan mencapai 250.000 US Dollar.

(Cerita ini semi-fiktif, fiktif tokonya namun riil teknik penjualannya)

That’s a Rare, Kelangkaan. Sama seperti lukisan. Mereka bukanlah barang inferior maupun superior. Atau mungkin barang giffen? (Silahkan kalau mau didiskusikan)

Kelangkaan inilah yang secara ajaib mampu menaikkan harga jual jauh di atas dari nilai cost nya, bagaikan langit dan bumi. Padahal bisa saja, cerita tentang jam tangan yang tinggal dua di atas cuma karangan dari si sales, biar jam tangannya bias dijual mahal, alias bohong.

Nah, sampai di sini dulu ya tulisannya, bersambung ke part 2 (dua) ya biar tidak jenuh bacanya. Semoga bermanfaat J

-To Be Continue-



*(Kunjungi blog yang mengulas tentang ekonomi lebih dalam di ekonomgila.blogspot.com)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...