Siang itu begitu terik. Panasnya
matahari membakar kerongkongan hingga kering. Kulit terbakar dan mata memerah. Keringat
yang beberapa saat lalu mengucur deras, kini mulai kering. Seperti sungai yang
habis airnya karena kemarau.
Pria itu, berjam-jam berdiri di
bawah terik matahari. Bukannya dia sengaja ingin bersengsara berjemur matahari.
Namun, keadaan tidak mampu membuatnya beranjak menuju tempat yang teduh. Bersembunyi
di bawah rindang dedaunan pohon yang besar. Berlindung dari panasnya matahari.
Pria itu terikat di sebuah batang kayu yang besar. Tangan dan kakinya diikat di batang kayu itu. Dijemur di bawah terik
matahari. Dipasung oleh masyarakat, di sebuah desa yang bernama desa Sijunjung,
Padang.
Pemberontak. Sebuah tuduhan yang
ditujukan kepada pria tersebut oleh kepala desa Sijunjung. Di kala itu, adalah
masa pasca kemerdekaan Republik tercinta, Indonesia. Di masa pemberontakan
terhadap negara oleh beberapa kaum yang haus kekuasaan dan mengedepankan
egonya. Pria itu disangka sebagai salah satu pelarian pemberontak yang berusaha
bersembunyi di desa tersebut.
Pria itu sudah sangat kepayahan
dengan kondisinya yang telah beberapa hari tidak makan, menempuh perjalanan
yang sangat jauh, dan berakhir dipasung di bawah sang surya.
Sang kepala desa memerintahkan
untuk menghukum mati pria itu ketika jam tiga tepat. Dan kini jam tiga sudah
akan tiba beberapa saat lagi. Kepala desa telah datang, di tengah kerumunan
masyarakat. Memandang pria itu beberapa langkah kaki di depan wajahnya.
“Wahai pemuda, apa pesan
terakhirmu sebelum ajal menjemputmu?” Tanya kepala desa.
Pemuda itu diam. Matanya masih
menyala, memandang kepala desa dengan perasaan capai namun dengan tatapan yang
tajam.
Masih hening beberapa saat.
Kemudia pria itu mulai mengangkat
bibirnya untuk bricara.
“Pak tua, saya tidak akan
berbicara panjang lebar. Namun saya punya sesuatu untuk kalian warga desa
Sijunjung. Dan sesuatu itu berupa surat yang saya simpan di dalam sepatu saya
ini.”
Pria itu melirik ke sepatunya
memberi isyarat.
Salah satu warga mengambil inisiatif
maju mendekati pria itu. Melepas kedua sepatunya dan mencari surat di dalam
sepatunya. Ketemu.
Surat itu diberikan kepada kepala
desa. Segera dibukanya surat yang terlipat tersebut dan kepala desa membaca isi
surat tersebut.
Terbuka lebar mata sang kepala
desa selesai membaca surat itu. Menyadari suatu kebenaran. Sang kepala desa
memerintahkan orang-orang untuk melepaskan pria itu. Dan segera menyuruh
seluruh masyarakat meminta maaf kepada pria itu tidak terkecuali kepala desa sendiri.
Apakah isi surat tersebut? Dan
siapakah pria itu?
Surat itu ternyata adalah surat
yang ditulis oleh bapak negara kita sendiri, bapak Soekarno. Yang isi suratnya
menyatakan bahwa pria itu, ditugaskan negara untuk menjaga desa Sijunjung dari
pemberontak. Dan beberapa hari lagi setelah surat ini dibaca, bantuan dari
negara tiba.
Sejak hari itulah, pria itu
tinggal di desa Sijunjung. Awalnya hanya beberapa bulan masa penugasan. Namun
akhirnya tinggal untuk waktu yang lama. Karena, pria itu menikahi anak sang
kepala desa. Mereka berkeluarga, memiliki anak. Anak-anak mereka tumbuh dewasa,
bekerja, dan menikah. Sampai mereka memiliki anak-anak lagi yang merupakan cucu
dari pria itu dan anak kepala desa. Dan salah satu cucu itu adalah aku.
Komentar
Posting Komentar