“Bagus...
Alus... Pinter...”
...
Dari kecil aku tak pernah menghiraukan
kata-kata papa. Papa yang tinggi besar. Papa yang punya kumis tebal, kalau
sedang mencium pipiku, rasanya gatal seperti digaruk pakai sikat. Papa yang
senang bercanda. Papa yang akan memukulku kalau aku tidak mau sholat. Papa yang
menyuruhku membaca koleksi buku-buku tebal kisah Ramayana dan Mahabarata sedari
aku masih kecil, juga koleksi buku-buku Ko Ping Ho punya papa yang ada puluhan
jilid. Papa juga yang menemaniku belajar matematika atau IPA di malam hari
ketika papa pulang kerja.
Selain papa sangat menyukai kisah para
dewa dari agama Hindu dan silat dari Cina, Papa begitu tergila-gila dengan ilmu
paspal (baca: ilmu pasti alam), karena menurut papa, ilmu paspal akan
membuatmu menjadi orang yang logis, taktis, cerkas (ini tidak salah tulis
cerdas, tapi betul cerkas yang artinya sama seperti cekatan) dan dapat berbuat
adil. Intinya papa ingin anak lelaki semata wayang ini, kelak menjadi pemimpin
yang adil dan bijaksana.
Walaupun sampai sekarang, kadang aku
masih tidak terlalu setuju dengan pikiran papa mengenai hubungan antara
pemimpin yang adil dan pandai matematika atau IPA. Kalau memang benar begitu,
seharusnya orang-orang yang menjadi pemimpin seperti presiden, menteri dan anggota
DPR harusnya orang paspal semua. Hahaha.
-<>-
“Anak-anak, sekarang lihat benda ini”
Aku memperlihatkan sebuah botol bekas
air mineral ukuran 1,2 liter yang di dalamnya ada sebuah balon kempis berwarna
kuning yang mulutnya dimasukkan sebuah sedotan yang diikat. Ini adalah sebuah
tiruan paru-paru untuk mengetahui cara kerja pernapasan manusia.
“Bila bapak tarik balon di dasar botol
ini, apa yang akan terjadi dengan balon warna kuning yang ada di dalamnya?”
Aku mencubit permukaan kulit balon yang direkatkan
di dasar botol. Yang bila kulit balon ini kutarik nantinya akan membuat balon
kuning di dalam botol akan mengembang. Sama seperti paru-paru yang mengembang
ketika diafragma ditarik sehingga udara berisi oksigen masuk.
“Apakah balon kuning akan mengembang,
atau tidak terjadi apa-apa?”
Murid-murid mulai berteriak berebut
menjawab. Ada yang setuju bahwa balon di dalam botol akan mengembang, dan ada
yang menjawab tidak terjadi apa-apa. Tapi yang jelas, semuanya penasaran dan
sampai berdiri dari kursi agar dapat melihat lebih jelas benda yang kupegang di
tengah kelas.
Kutarik kulit balon di dasar botol.
Semua diam.
Ketika balon berwarna kuning di dalam
botol mengembang terisi udara, murid-murid semuanya riuh berteriak terkejut.
Perhatian mereka berhasil ditangkap penuh.
“Kenapa bisa begitu pak...?”
Anak-anak memang lucu (walaupun
terkadang aku sering pusing karena mereka), mereka mudah penasaran dengan
hal-hal baru yang menurut mereka aneh atau unik. Inilah yang kujadikan kunci
untuk membuat mereka memahami pelajaran yang kuajarkan kepada mereka.
“Baik anak-anak, akan bapak beritahukan
rahasia dari benda ajaib ini...”
Percakapan berikutnya tidak perlu aku
tulis karena ini bukan tulisan ilmiah mengenai cara mengajar IPA yang pastinya
akan panjang dan membosankan.
-<>-
“Anakku... jadilah cah bagus, alus atine lan
pinter...”
Lagi. Papa membisikkan kata-kata itu di
telingaku ketika aku sedang tidur, tapi masih terjaga. Ini sudah hampir jam
satu dini hari. Lagi-lagi papa pulang larut malam. Ngapain sih papa kerja
sampai semalam ini. Ah, aku ingat, papa pernah bilang kalau kota Jakarta itu
sangat macet, jadi papa sering menunggu agak malam sampai jalanan tidak terlalu
macet dengan sekalian lembur.
“pa..”
Aku beranikan memanggil papa.
“Papa jangan kerja lagi pa, temani aku
bermain setiap hari...”
Papa tidak menjawab. Dan kesadaranku
mulai masuk ke alam mimpi. Sepertinya aku mengigau, sehingga papa tidak
menggubrisnya.
-<>-
Ajaran orang tuaku yang lebih dominan ke
matematika dan IPA begitu membekas sampai saat kini. Aku lebih antusias
mengajarkan perkalian-pembagian kepada muridku daripada mengajar sejarah
Majapahit. Aku lebih senang mengajar tentang sistem pencernaan manusia daripada
mengajar siapa raja pertama kerajaan Islam di Indonesia.
Tapi ironis, semenjak SMP – SMA di mana
nilai pelajaran IPA yang selalu di atas rata-rata, di masa SMA masuk jurusan
IPA, kuliahnya malah di ekonomi. Aku ini memang orang aneh. Tidak konsisten.
Pengkhianat.
Mungkin itulah wujud kemerdekaan
pertamaku setelah sekian lama aku menuruti keinginan orang tua, mengikuti apa
yang mereka suka. Akhirnya aku menjadi tampak tidak konsisten.
Tapi malah ketika di penempatan, aku
lebih suka mengajar paspal. Sekali lagi, aneh!
-<>-
Semuanya tampak gelap.
Aku berusaha bergerak menyeruak keluar.
Kelaur dari sebuah benda tipis yang membungkusku dan menutupi pandanganku.
Benda itu adalah sarung papa. Sewaktu
kecil aku sering sekali ditimang papa, badanku diangkat dengan kaki papa yang
dibalut sarung. Badanku diangkat dengan sarung yang disangga oleh kedua kaki
papa. Di mana kalau kaki papa dirapatkan,
sarung akan menutupi diriku. Umurku masih 3 tahun saat itu.
Aku senang sekali ketika ditimang papa
seperti itu. Sarung papa yang tipis membuatku seolah terbang di atas lantai.
Telapak kaki papa kugenggam dengan erat agar tidak jatuh. Jari jemarinya yang
kasar kuremas dengan tanganku yang masih kecil. Dan sebentar lagi papa akan
mengucapkan mantranya kepadaku.
“Bagus... alus... pinter...”
Komentar
Posting Komentar