Terkadang,
perubahan tidak akan terjadi begitu saja setelah kita mengupayakannya...
Mungkin
kita tidak akan pernah melihat perubahan itu sampai ajal menjemput...
Mungkin juga
perubahan masih malu menampakkan dirinya, bahkan sampai orang yang kita kasihi
meninggalkan dunia...
Tapi
tetap percayalah, suatu saat nanti, apa yang kita upayakan, akan memberikan
hasil yang sangat bernilai.
Malam itu, banyak sekali kendaraan motor dan
beberapa mobil terparkir di depan rumah yang biasanya selalu sunyi senyap. Di pelataran
rumah sudah dipenuhi orang tua-orang tua, di mana yang laki-laki menggunakan
peci dan yang perempuan memakai jilbab atau sekedar menutup bagian atas
kepalanya dengan selembar kain atau selendang.
Aku masih ingat sekali, dulu aku menghabiskan masa
kecilku di rumah ini bersama ayah, ibu dan saudara-saudaraku. Rumah yang
dulunya masih dikelilingi hutan yang lebat. Rumah kami dulu jauh lebih kecil
dari bentuknya saat ini. Masa-masa kecilku, sampai aku menamatkan SD, kulewati
di rumah ini.
Setelah itu, ayah, ibu dan anak-anaknya pindah ke
rumah gubuk di kebon. Supaya dapat bekerja lebih lama, sehingga hasilnya lebih
banyak. Supaya ayah bisa membiayai kelanjutan sekolahku di kota. Di kota Prabumulih,
yang jaraknya hampir seharian dari desaku, bila ditempuh dengan bersepeda, yaitu
satu-satunya alat transportasi di desa pada masa itu.
Saat itu, aku baru saja tamat SD. Berarti, aku sudah
cukup besar untuk bisa ikut menyadap karet di kebon, seperti anak-anak lainnya
di desa ini. Jika saja, saat itu aku membantu ayah, ibu dan kedua kakakku
menyadap karet di kebon. Penghasilan keluarga kami pasti semakin banyak. Sehingga
kami dapat membelikan seragam sekolah baru untuk kedua adikku. Kedua adikku bisa
sekolah setinggi-tingginya. Sedangkan aku membantu orang tuaku saja di kebon.
Nanti ketika masa umurku sudah cukup siap untuk menikah, aku akan menjadi
bujang. Kemudian menikahi salah satu gadis manis di desa ini. Membangun rumah
pondok kami sendiri di tengah kebon, dan punya anak-anak yang lucu, dan nakal.
Saat mereka besar nanti, mereka akan membantuku nyadap karet.
Ah sayang, tapi ayahku bukanlah ayah yang biasa
seperti ayah-ayah lainnya di desa ini. Ayahku sangat cerdas, dia menyelesaikan
SDnya hanya dalam lima tahun. Saat kelas lima dia diperbolehkan mengikuti ujian
akhir, karena dianggap sangat mampu oleh gurunya. Dan ayah berhasil melalui
ujian akhir dengan nilai yang sangat baik. Ayah juga pernah melamar bekerja di
Pertamina Prabumulih, dan dia diterima bekerja. Bekerja dari bawah, dengan
rajinnya, hingga mampu memiliki penghasilan lebih dari cukup. Bahkan cukup
untuk membiayai dirinya dan keluarganya.
Tapi nasib baik tidak berpihak pada ayah, karena
mendadak kakek terjangkit penyakit keras di kala itu. Kemudian kakek tidak
mampu melanjutkan ngurus kebon dan anak-anaknya, tidak lain adalah adik-adik
ayah. Ayah adalah anak sulung dari empat bersaudara. Bentuk tanggung jawab
sebagai anak tertua, ayah terpaksa keluar dari pekerjaannya, dan kembali ke kebon
menggantikan peran kakek sekaligus mengurus adik-adik ayah.
Mengapa ayah begitu ‘kekeuh’ berniat menyekolahkanku
ke SMP di kota, sedangkan hampir semua anak-anak di desa, bisa menamatkan SD
saja sudah menjadi prestasi tersendiri. Kakak pertamaku hanyalah tamatan SD, sedangkan
kakak keduaku hanya menyelesaikan sekolah sampai kelas lima SD. Mereka terpaut
jauh umurnya denganku, kakak pertamaku sudah jadi bujang, begitupun kakak
keduaku sudah menjadi gadis. Umur mereka sudah cukup siap untuk menikah. Setiap
harinya, mereka membantu ayah dan ibu nyadap karet di kebon.
Ayahku adalah sosok yang cerdas dan keras. Pada
waktu kakak pertama dan keduaku seharusnya sekolah, perekonomian kelauarga ayah
masih buruk sehingga tidak mampu menyekolahkan mereka lebih tinggi lagi. Maka,
ketika perekonomian keluarga sudah cukup stabil beberapa tahun kemudian yaitu
ketika aku sudah saatnya masuk SMP, ayah melanjutkan ambisi dari hati kecilnya,
yaitu menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya.
...
Aku masih ingat ketika pertama kali ayah mengantarku
mendaftar SMP. Dengan sepeda kumbangnya yang sudah berkarat di
mana-mana. Aku diboncengnya di belakang, sambil kupeluk tubuh ayah yang kurus.
Kulit ayah yang hitam dan kasar karena keseringan berjemur matahari ketika
menyadap karet. Garis mukanya tegas dan jelas, peluh keringat mengalir dari
pelipisnya. Guratan keriput tua di bawah matanya yang sendu, banyak memperlihatkan
betapa kerasnya hidup ayah. Demi menghidupi keluarganya, demi menyekolahkan anak-anaknya,
demi membuatku menjadi manusia yang lebih terdidik darinya. Aku peluk perut
ayah lebih erat.
Tiga tahun SMP dan tiga tahun SMA, kuhabiskan di
kota Prabumulih, Sumatera Selatan. Ayah jarang menengokku di kota karena selain
jauh, ayah juga harus terus bekerja supaya dapat membiayai sekolahku, juga
kedua adikku yang mengikuti jejak langkahku mengenyam manisnya madu pendidikan.
Adikku yang pertama jaraknya dua tahun di bawahku.
Sedangkan yang kedua, jaraknya tiga tahun di bawah adikku yang pertama. Aku,
sebagai kakak bertanggung jawab penuh pada kesejahteraan adik-adikku selama di
kota. Aku seperti kepala keluarga bagi adik-adikku. Kami tinggal di sebuah
rumah sewa yang sangat sederhana, cukup sederhana untuk sekedar tempat berteduh
dari terik matahari dan berlindung dari dinginnya malam.
Keluargaku memang miskin, untuk makan di rumah saja
sudah sederhana sekali, maka apalagi untuk makan ketika di kota. Pernah suatu
kali, kami kehabisan bahan makanan di rumah, dan uangpun sudah ludes habis.
Kami kelaparan ketika itu. Aku pergi keluar rumah, menuju hutan di pinggiran
kota, sambil membawa sebilah pisau. Di pinggiran kota, banyak kebon yang sudah
ditinggal dan tak terurus oleh pemiliknya, entah karena pemiliknya sudah kaya
atau memang malas saja mengurus kebonnya itu. Di kebon itu aku mencari sesuatu
yang bisa dijadikan makanan. Biasanya ada tumbuhan singkong yang daunnya bisa
dimasak, dan sebuah atau dua buah nanas yang bisa dijadikan kudapan utama.
Namun hari itu, aku hanya memperoleh sebuah nanas yang tidak terlalu besar.
Kubawa nanas itu ke rumah, kubelahnya jadi potongan-potongan kecil yang siap
dimakan sekali lahap. Dan satu lagi, aku taburkan garam, supaya lebih lezat.
Ya, itulah menu makan kami yang sangat menggiurkan di hari itu.
...
Ayahku adalah manusia yang luar biasa. Dia melakukan
lompatan besar di lingkungannya. Ketika semua anak di desa begitu lulus SD
langsung bekerja, menyadap karet di kebon, ayah justru menyekolahkan
anak-anaknya. Tidak hanya berhenti sampai pendidikan SMP, tidak tangung-tanggung,
ayah menyekolahkan aku dan adik-adikku sampai kuliah.
Dulu aku mendaftar UMPTN masuk UNSRI, tidak
tanggung-tanggung, ayah mendorongku untuk mengambil kedokteran. Bisa
dibayangkan apa kata orang-orang di desa. Ayah terlalu nekat, itu kebanyakan
omongan dari orang-orang desa. Menyekolahkan anaknya sampai SMA saja sudah
merupakan terobosan besar, apalagi bisa sampai kuliah. Ini, malah lebih berani
lagi, menyekolahkan anaknya di kedokteran. Para juragan karet di desa, yang
hidupnya cukup berlebih pun cuma mencibir keputusan ayah. Namun, ayah tetap
bergeming pada pendiriannya, dia bekerja lebih rajin. Ibu terus setia
menemaninya bekerja keras, membanting tulang supaya dapat membiayai kuliahku.
Saat aku mulai masuk tahun kedua di kedokteran UNSRI,
adalah saatnya adikku yang pertama untuk masuk kuliah juga. Dia mendapat PMDK
di kedokteran UNDIP, Semarang. Adikku itu memang sangat cerdas, dia menuruni
gen cerdas ayah. Tidak seperti diriku yang harus belajar siang malam untuk bisa
masuk kedokteran UNSRI. Sedangkan adikku yang bungsu, baru kelas tiga SMP.
Dua tahun kemudian, adalah tahun yang berat bagi
kami. Saat itu aku memasuki tahun ketigaku di universitas. Adikku yang pertama
memasuki tahun keduanya kuliah, dan adikku yang kedua di kelas 1 SMA. Pada
tahun itu, ayah meninggal dunia. Aku dan adik-adikku pulang kembali ke rumah. Ayah
sudah kehabisan tenaganya. Seluruh hidupnya dia kerahkan untuk memberikan
kualitas pada keluarganya. Tidak pernah sekalipun ayah menyerah pada pedih
perihnya tantangan dan cobaan kehidupan. Ketegasan dan keuletannya akan menjadi
warisan utama bagi kami untuk melanjutkan semangat hidupnya yang masih tertanam
di dada kami.
...
Masyarakat sempat berpikir setelah meninggalnya
ayah, kehidupan di keluarga kami akan hancur, kuliahku dan adik-adikku tidak
akan terurus lagi, dan mereka berpikir kami semua akan kembali menjadi orang
desa, dan hidup kembali pada kebiasaan desa, menyadap karet di kebon.
Bila saja ibu dilahirkan di kota sebagai anak orang
kaya, memiliki kecukupan harta dan hidup makmur di kota. Bila saja ibu bersekolah
sampai paling tidak tamat SMA dan menjadi wanita yang cerdas. Bila saja ibu hidup
berkecukupan dan menikah dengan lelaki kaya dan terhormat dari kota. Membawa
ibu ke kehidupan mapan di kota, memiliki anak-anak yang sehat dan berkulit
bersih. Menjadi ibu rumah tangga yang kesehariannya mengurus rumah dan
keperluan sehari-hari suami dan anak-anaknya. Menjadi semakin tua dan tumpul
pikirannya. Sampai suaminya meninggal, dan menjadi janda yang hidup dari jatah
pensiunan suami. Melamun di teras rumah sambil meminum secangkir teh setiap
harinya, sedangkan anak-anaknya sekolah di sembarang sekolah, dan tak terurus
arah pendidikannya. Menjadikan anak-anaknya tidak mengenal moral dan adat
budaya dengan baik, menjadi masyarakat umum yang tidak berkontribusi apapun
pada bangsa.
Namun itu tidak pernah terjadi. Ibu bukanlah anak
orang berada, bukan juga dari kota, dan tidak pula tamat sekolah. Membaca dan
menulis saja tidak mampu. Tapi, ibu adalah manusia yang sangat luar biasa kuat,
semangat dan juga setia. Dia mendampingi ayah dengan ulet dan rajinnya bekerja
di kebon. Dia tidak hanya menikahi ayah, tapi juga menikahi semangat dan
mimpinya.
Maka, setelah tiadanya ayah, ibu dengan penuh
tanggung jawab mengambil peran sebagai kepala keluarga. Sebagai pemimpin
keluarga, ibu terus menggerakkan dan mendorong kami untuk menyelesaikan kuliah.
Membimbing kami untuk meraih kehidupan yang berkualitas.
Beliau bekerja sangat keras, ke kebon setiap hari. Menyadap
karet dengan rajinnya, dibantu oleh keponakan dari saudari ibu. Mencarikan
nafkah untuk keluarganya sekaligus untuk membiayai kuliahku dan adikku serta
biaya sekolah adik bungsuku. Peran ibu, sunguh tiada terkira. Sebagai orang tua
tunggal yang ditinggal suaminya, dan mengurus anak-anaknya yang sudah besar, di
mana dua anaknya kuliah kedokteran dan anak terakhirnya sekolah SMA di kota. Jasa-jasa
ibu sungguh sepertinya tidak akan pernah mampu kubalas dalam satu kehidupanku
ini.
Tahun berganti tahun, akhirnya aku berhasil
menyelesaikan kuliahku. Adikku yang pertama memasuki tahun keempatnya di
kedokteran UNDIP. Adikku yang bungsu, melanjutkan kuliah di teknik perkapalan
UNDIP. Kemudian, aku mengambil program pengabdian sebagai dokter di pelosok
daerah selama tiga tahun.
Setelah tiga tahun menyelesaikan pengabdian, aku
bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Prabumulih. Aku juga mengambil
spesialis penyakit ilmu dalam. Adikku yang pertama begitu lulus juga mengambil
spesialis ilmu anestesi. Adik bungsuku baru saja menjadi sarjana muda teknik
perkapalan.
Sekarang, aku bekerja di rumah sakit Lubuk Linggau.
Adikku yang pertama menjadi dokter
spesialis di rumah sakit Prabumulih. Dia juga bekerja sebagai dosen di UNSRI.
Sedangkan adikku yang bungsu, dia bekerja sebagai insinyur di sebuah perusahaan
milik negara di kota Prabumulih.
Awal tahun 2014, aku bersama keluargaku pindah ke
kota Linggau. Baru empat bulan dari kepindahanku, ibu meninggal dunia. Aku dan
saudara-saudaraku pun kembali ke rumah di mana kami dulu dibesarkan, dididik
dan bermain bersama. Kini, kami semua berkumpul untuk mengantar kepulangan ibu
pada Penciptanya. Di depan rumah, banyak sekali motor dan mobil dari
orang-orang yang akan mendoakan ibu. Karangan bunga dari rekan-rekan dokter,
dari rumah sakit dan sahabat-sahabatku, dan adik-adikku selama kuliah yang kini
telah sukses banyak menghiasi halaman rumah kami yang sangat sederhana. Ya,
sederhana karena hanya parit hiasan depan rumah kami.
Namun pada hari itu, masyarakat desa mengetahui satu
hal. Impian dan kerja keras ayah dan ibu kami, yang ingin memberikan kualitas
hidup pada keluarganya, sudah menggantung di muka rumah kami. Paradigma di
masyarakat telah berhasil ayah lampaui, dilanjutkan oleh ibu yang setia pada
pandangan ayah, membentuk pemikiran baru di masyarakat tentang makna pendidikan
untuk pencapaian kehidupan yang lebih berkualitas. Lompatan besar yang ayah dan
ibu lakukan, memberi perspektif baru di desa kami, desa Pagar Agung.
Perubahan
tidak akan terjadi begitu saja setelah kita mengupayakannya.
Mungkin
kita tidak akan pernah melihat perubahan sampai ajal menjemput.
Dan
mungkin... Perubahan masih malu menampakkan dirinya, bahkan sampai orang yang
kita kasihi meninggalkan dunia...
Tapi
tersenyum dan bahagialah, karena perubahan itu pasti akan terjadi, di sini,
tepat di mana kamu dulu mengupayakannya.
Dan itu
bukanlah perubahan kecil, itu adalah perubahan yang besar, yang membawa
kehidupan jadi lebih berkualitas.
Catatan: Cerita
ini berdasarkan kisah nyata di Desa Pagar Agung, Kecamatan Rambang, Kabupaten
Muara Enim. Tokoh aku yang kini memiliki nama dan gelar, dr. Ardianto Tamin
Sp.PD menjadi inspirasi bagi masyarakat Rambang untuk melanjutkan
pendidikan setinggi-tingginya hingga saat ini. Termasuk menginspirasi adik-adiknya
si tokoh aku sendiri yang bernama, dr. Arliansah Tamin, Sp.An. M.Med.
dan Arwiktar Tamin Amd.
Hal itu
tidak lain adalah berkat visi dari ayah si tokoh aku yang bernama A. Tamin
bin Mahagap (meninggal tahun 1996) dan kerja keras serta kegigihan ibunya yang
bernama Soleha binti M. Kuri (meninggal tahun 2014) dalam memperjuangkan
keberlanjutan pendidikan anak-anaknya, setelah ditinggal suaminya.
Saat
ini, Desa Pagar Agung dikenal sebagai desa yang banyak menelurkan sarjana
berkualitas di Kecamatan Rambang, Muara Enim.
Komentar
Posting Komentar