Ketika kita baru saja mengawali tahun yang baru di 2020, segala resolusi yang sudah matang kita siapkan sejak akhir tahun lalu. Ketika kita siap menjalaninya. Semuanya tidak bisa berjalan sesuai dugaan kita.
Selain awal tahun baru yang dihadang hujan besar dan banjir, kini Virus Corona menghadang. Tahun 2020 akan selalu diingat sebagai tahun penuh cobaan.
Sudah dua kuartal Virus ini menerjang tidak hanya di negeri kita, tapi dunia. Dari hari ke hari kasus demi kasus semakin bertambah. Pada awal bulan April ini, anjuran pemerintah untuk menjaga jarak dalam urusan sosial, sentuhan fisik, dan tetap tinggal di rumah semakin diwajibkan.
Semua bekerja di rumah. Semua harus tetap tinggal di rumah apapun yang terjadi. Tidak ada yang boleh keluar jika tidak penting sekali, banyak toko tutup, rumah makan, mall, dan lainnya. Semua kegiatan berkumpul di tempat publik ditiadakan, semua event dicancel. Semua itu dilakukan demi meredakan lonjakan persebaran virus. Kemudian masalah lain timbul, bagaimana roda perekonomian kita berjalan?
Mungkin buat anda yang masih bekerja di perusahaan yang memberikan kesempatan work from home namun tetap digaji, atau anda seorang pekerja freelance yang sudah terbiasa bekerja dari rumah, hal ini bukan masalah buat anda. Sedangkan bagaimana nasib para pekerja harian, yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja setiap hari, harus keluar, harus menafkahi keluarganya? Dimana tidak ada jaminan dari pemerintah memberikan makanan 3 kali sehari, logistik harian, dan segala sesuatu yang harus dibeli dengan uang. Mereka dalam masalah.
Dan seberapa lama mereka harus bertahan dalam kondisi ini? Apakah Virus Corona ini akan segera berakhir dalam jangka waktu dekat? Saya kira tidak. Saya tidak ingin menakut-nakuti. Tapi data dari negara lain yang telah terlebih dahulu menghadapi virus ini dan yang telah masuk babak recovery menunjukan angka yang signifikan dibanding angka di Indonesia.
Di Amerika Serikat, dengan jumlah penduduk 300an juta, saat ini jumlah kasusnya sudah mencapai 180ribuan. Dan di China, khususnya di Wuhan dengan pengendalian social distancing yang sangat amat ketat dari pemerintah, saat ini sudah memasuki babak recovery, dimana jumlah penduduk kota tersebut 11juta dengan total kasus 80ribuan.
Saya ingin berkata, dengan mengambil contoh di Amerika Serikat yang saat ini masih di babak pertarungan, angka kasus dibanding total penduduk adalah 0.06%. Apabila proporsi tersebut diaplikasikan di Indonesia maka hitungan kasarnya total kasus yang akan dialami di Indonesia bisa mencapai 150ribuan. Ini hitungan kasar bukan dari seorang ahli statistika atau matematika, sudah ada para ahli yang menghitung dengan berbagai asumsi dan skenario. Hanya angka mereka masih berkisar di angka ratusan ribu kasus juga.
Intinya adalah, saat ini total kasus yang dialami di Indonesia baru mencapai 1600an. Dan dari angka 1.600 menuju 150.000 itu masih 100 kalinya lagi, artinya babak pertarungan di Indonesia ini masih tahap awal, masih jauh menuju fase kembali normal. Meskipun banyak kasus yang terjangkit tapi tidak tercatat atau tidak disebarkan oleh pemerintah. Namun yang kita tahu perjalanan kita masih panjang.
Mari kita kembali lagi ke masalah ekonomi, karena saya bukan ahli kesehatan atau matematika, saya tidak akan mebahas banyak masalah penyebaran dan penanganan pandemi ini. Namun saya adalah seorang konsultan keuangan dan praktisi pengusaha mikro yang sudah berpengalaman cukup lama sejak tahun 2010. Saya ingin berbagi pada anda yang mengalami masalah ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pangan anda selama pandemi ini terjadi.
Paling tidak, anda harus bersiap menghadapinya untuk 3-4 bulan ke depan. Anda harus siap menghadapi Ramadhan lebih awal, maksud saya berpuasa lebih awal. Karena anda harus banyak menghemat, banyak rumah makan tutup selama periode ini, dan pasokan sembako saat ini mulai kewalahan memenuhi lonjakan permintaan. Banyak masyarakat kelas menengah atas yang melakukan belanja secara masif dan signifikan untuk menyimpan bahan baku selama beberapa hari atau minggu ke depan.
Lihat saja jika anda ke supermarket terdekat, semua kebutuhan pokok seperti bahan makanan utama (beras, telur, sayur), makanan ringan, alat kebersihan (hand sanitizer, sabun cuci tangan, sabun cair) hampir semuanya sudah habis dan menyisakan rak kosong. Di market online pun juga mulai kehabisan stock, seperti di TaniHub, SayurBox, dan grocery online lainnya. Di beberapa tempat hal ini menimbulkan kenaikan harga pada bahan makanan pokok.
Sekali lagi pertanyaan saya, bagaimana nasib para rakyat dengan daya beli yang rendah? Dengan kemampuan ekonomi yang terbatas dan pendapatan yang saat ini sedang mandeg atau berhenti, karena mereka tidak bisa keluar untuk bekerja. Sebut saja, tukang ojek baik yang online maupun pangkalan, pekerja buruh bangunan, pabrik, buruh harian, dan lainnya. Selain dana mereka terbatas, harga bahan pokok semakin melonjak karena penawaran semakin kewalahan memenuhi permintaan. Ingat pelajaran ekonomi tentang teori ekuilibrium (keseimbangan pasar)?
Ada beberapa hal yang bisa saya bagi buat anda yang membaca ini baik pada anda yang merupakan golongan pendapatan mandeg (yang saat ini sedang berhenti) dan untuk anda yang masih menerima pengahasilan.
Bagi anda yang penghasilannya sedang mandeg:
Bagi anda yang masih memiliki penghasilan lebih:
Saya mengerti pandangan dan saran saya mungkin tidak dapat menjamah semua golongan. Namun apa yang saya sampaikan ini adalah berdasarkan sudut pandang saya sebagai seorang kepala keluarga. konsultan keuangan, dan praktisi pengusaha mikro.
Yang pasti saya sudah sampaikan ide dari perspektif saya, jika ada yang memiliki perspektif lain untuk ditambahkan silahkan dimasukan di komentar. Sebagai manusia saya pun juga memiliki kekeliruan dan kelupaan, saya sampaikan permohonan maaf jika ada kesalahan dan menimbulkan ketidaknyamanan di hati.
Selain awal tahun baru yang dihadang hujan besar dan banjir, kini Virus Corona menghadang. Tahun 2020 akan selalu diingat sebagai tahun penuh cobaan.
Sudah dua kuartal Virus ini menerjang tidak hanya di negeri kita, tapi dunia. Dari hari ke hari kasus demi kasus semakin bertambah. Pada awal bulan April ini, anjuran pemerintah untuk menjaga jarak dalam urusan sosial, sentuhan fisik, dan tetap tinggal di rumah semakin diwajibkan.
Semua bekerja di rumah. Semua harus tetap tinggal di rumah apapun yang terjadi. Tidak ada yang boleh keluar jika tidak penting sekali, banyak toko tutup, rumah makan, mall, dan lainnya. Semua kegiatan berkumpul di tempat publik ditiadakan, semua event dicancel. Semua itu dilakukan demi meredakan lonjakan persebaran virus. Kemudian masalah lain timbul, bagaimana roda perekonomian kita berjalan?
Mungkin buat anda yang masih bekerja di perusahaan yang memberikan kesempatan work from home namun tetap digaji, atau anda seorang pekerja freelance yang sudah terbiasa bekerja dari rumah, hal ini bukan masalah buat anda. Sedangkan bagaimana nasib para pekerja harian, yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja setiap hari, harus keluar, harus menafkahi keluarganya? Dimana tidak ada jaminan dari pemerintah memberikan makanan 3 kali sehari, logistik harian, dan segala sesuatu yang harus dibeli dengan uang. Mereka dalam masalah.
Dan seberapa lama mereka harus bertahan dalam kondisi ini? Apakah Virus Corona ini akan segera berakhir dalam jangka waktu dekat? Saya kira tidak. Saya tidak ingin menakut-nakuti. Tapi data dari negara lain yang telah terlebih dahulu menghadapi virus ini dan yang telah masuk babak recovery menunjukan angka yang signifikan dibanding angka di Indonesia.
Di Amerika Serikat, dengan jumlah penduduk 300an juta, saat ini jumlah kasusnya sudah mencapai 180ribuan. Dan di China, khususnya di Wuhan dengan pengendalian social distancing yang sangat amat ketat dari pemerintah, saat ini sudah memasuki babak recovery, dimana jumlah penduduk kota tersebut 11juta dengan total kasus 80ribuan.
Saya ingin berkata, dengan mengambil contoh di Amerika Serikat yang saat ini masih di babak pertarungan, angka kasus dibanding total penduduk adalah 0.06%. Apabila proporsi tersebut diaplikasikan di Indonesia maka hitungan kasarnya total kasus yang akan dialami di Indonesia bisa mencapai 150ribuan. Ini hitungan kasar bukan dari seorang ahli statistika atau matematika, sudah ada para ahli yang menghitung dengan berbagai asumsi dan skenario. Hanya angka mereka masih berkisar di angka ratusan ribu kasus juga.
Intinya adalah, saat ini total kasus yang dialami di Indonesia baru mencapai 1600an. Dan dari angka 1.600 menuju 150.000 itu masih 100 kalinya lagi, artinya babak pertarungan di Indonesia ini masih tahap awal, masih jauh menuju fase kembali normal. Meskipun banyak kasus yang terjangkit tapi tidak tercatat atau tidak disebarkan oleh pemerintah. Namun yang kita tahu perjalanan kita masih panjang.
Mari kita kembali lagi ke masalah ekonomi, karena saya bukan ahli kesehatan atau matematika, saya tidak akan mebahas banyak masalah penyebaran dan penanganan pandemi ini. Namun saya adalah seorang konsultan keuangan dan praktisi pengusaha mikro yang sudah berpengalaman cukup lama sejak tahun 2010. Saya ingin berbagi pada anda yang mengalami masalah ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pangan anda selama pandemi ini terjadi.
Paling tidak, anda harus bersiap menghadapinya untuk 3-4 bulan ke depan. Anda harus siap menghadapi Ramadhan lebih awal, maksud saya berpuasa lebih awal. Karena anda harus banyak menghemat, banyak rumah makan tutup selama periode ini, dan pasokan sembako saat ini mulai kewalahan memenuhi lonjakan permintaan. Banyak masyarakat kelas menengah atas yang melakukan belanja secara masif dan signifikan untuk menyimpan bahan baku selama beberapa hari atau minggu ke depan.
Lihat saja jika anda ke supermarket terdekat, semua kebutuhan pokok seperti bahan makanan utama (beras, telur, sayur), makanan ringan, alat kebersihan (hand sanitizer, sabun cuci tangan, sabun cair) hampir semuanya sudah habis dan menyisakan rak kosong. Di market online pun juga mulai kehabisan stock, seperti di TaniHub, SayurBox, dan grocery online lainnya. Di beberapa tempat hal ini menimbulkan kenaikan harga pada bahan makanan pokok.
Sekali lagi pertanyaan saya, bagaimana nasib para rakyat dengan daya beli yang rendah? Dengan kemampuan ekonomi yang terbatas dan pendapatan yang saat ini sedang mandeg atau berhenti, karena mereka tidak bisa keluar untuk bekerja. Sebut saja, tukang ojek baik yang online maupun pangkalan, pekerja buruh bangunan, pabrik, buruh harian, dan lainnya. Selain dana mereka terbatas, harga bahan pokok semakin melonjak karena penawaran semakin kewalahan memenuhi permintaan. Ingat pelajaran ekonomi tentang teori ekuilibrium (keseimbangan pasar)?
Ada beberapa hal yang bisa saya bagi buat anda yang membaca ini baik pada anda yang merupakan golongan pendapatan mandeg (yang saat ini sedang berhenti) dan untuk anda yang masih menerima pengahasilan.
Bagi anda yang penghasilannya sedang mandeg:
- Pastikan keselamatan anda dan keluarga anda terlebih dahulu. Apapun yang terjadi sebisa mungkin tetap ikuti anjuran pemerintah untuk tinggal di rumah, cuci tangan secara rutin, minimalisir sentuhan fisik dengan orang lain, hindari menyentuh wajah dan sebagainya. Karena jika anda tamat saat ini atau besok, hidup keluarga anda akan lebih sulit tanpa anda.
- Coba menjadi berguna pada kondisi ini. Hal paling dasar yang dapat manusia lakukan untuk menjemput rejeki adalah berjualan baik menawarkan jasa atau menjual produk yang dibutuhkan. Jika anda bisa memasak, jualah lauk pauk dan sayuran untuk porsi keluarga.
- Banyak sekali para wanita kantoran yang harus bekerja dari rumah kini disibukan dengan mengurus suami, anak, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Urusan memasak, mereka jadi tidak sempat, ini adalah peluang besar bagi anda yang bisa memasak. Setahu saya, pada situasi seperti ini, pasar tetap buka dan akan terus buka, karena manusia tetap butuh makan untuk menyambung hidup. Jangan sampai anda lolos dari corona tapi meninggal karena kelaparan.
- Jika anda tidak punya modal, anda bisa menawarkan jasa memasak ke tetangga anda yang punya modal, saling bekerjasamalah dengan memperhatikan poin saya nomor satu. Jangan karena saat ini anda menjadi pertner bisnis, kemudian setiap bertemu selalu berjabat tangan apalagi cipika cipiki. Bisa celaka kalian.
- Selain sayur mayur, dan lauk pauk, bisa juga menawarkan minuman herbal, jahe, beras kencur, dan lainnya. Di situasi ini, concern orang-orang pada kesehatan meningkat drastis.
- Misal jika anda tidak bisa menjahit, mulailah membuat masker kain sendiri atau baju APD sendiri dengan bahan-bahan yang dianjurkan. Silahkan cek sendiri di internet bahan apa saja yang direkomendasikan untuk membuat masker dan baju APD.
- Baik, jika anda tidak bisa memasak atau membuat minuman herbal atau menjahit, anda bisa menawarkan jasa distribusi dari produsen ke tetangga-tetangga anda. Mengantar jemput bahan sembako dari grocery, paket catering atau minuman herbal dari produsen rumah tangga, atau bisa juga jasa antar jemput barang untuk orang-orang yang benar-benar tidak bisa bepergian keluar rumah.
- Banyaklah berdoa kepada Tuhan, karena saya selalu yakin bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Setiap manusia tidak akan dibiarkan kelaparan, akan selalu ada rejeki yang mengalir selama manusia hidup di dunia ini. Selalu yakinlah bahwa rejeki Tuhan akan datang dari arah yang tidak terduga oleh manusiaNya. Saya yakin masih banyak ide lainnya yang dapat anda lakukan dalam kondisi seperti ini untuk menjemput rejeki.
Bagi anda yang masih memiliki penghasilan lebih:
- Saran saya sama untuk poin satu, yaitu ikuti anjuran pemerintah dalam menjaga kebersihan dan menjaga jarak dengan orang lain. Bagaimanapun prioritas utama kita adalah minimalisir penyebaran virus secara cepat.
- Anda dapat mulai berbagi parcel sembako lebih awal dari hari lebaran. Lebih baik jika anda memiliki rejeki lebih, bagilah sekarang jangan menunggu waktu lebaran akan tiba. Jangan sampai tetangga dan keluarga anda tiada duluan sebelum anda menyesal belum sempat menolong mereka.
- Jika anda memiliki jiwa entrepreneurship, anda bisa mulai mengkaryakan tetangga atau keluarga anda yang memiliki daya usaha dan juang untuk menjemp[ut rejeki. Ajak mereka yang bisa masak, membuat sesuatu yang berguna untuk situasi seperti ini misal bikin jamu herbal, bikin masker, atau bikin APD sendiri, dan anda juga bisa memberdayakan mereka yang berusaha memberikan jasa distribusi antar jemput. Jangan lupa beri mereka dengan upah terbaik seolah tiada hari esok.
- Gunakan jaringan pertemanan anda, di keluarga, teman sekolah, teman kantor, komunitas, dan sebaginya untuk bergotong-royong membantu kelompok yang kesulitan tersebut. Anda bisa menjangkau melalui tekonologi yang ada, melalui media sosial anda, WhatsApp, Line, dan lainnya. Ajak orang lain melakukan kebaikan bersama anda. Ingat, kekuatan utama negeri kita adalah gotong royong. Lakukan kebaikan membantu yang lain dengan cara gotong-royong, hasilnya nanti akan sangat luar biasa.
- Meskipun anda sudah berusaha banyak dan terus menerus, jangan lupa untuk berdoa juga kepada Tuhan. Mari kita beramai-ramai berdoa untuk disegerakan pemulihan kondisi di negeri kita ini. Tuhan akan mendengarkan segala doa yang dilakukan secara berjamaah. Semoga kita bisa melaluinya situasi ini dengan baik.
Saya mengerti pandangan dan saran saya mungkin tidak dapat menjamah semua golongan. Namun apa yang saya sampaikan ini adalah berdasarkan sudut pandang saya sebagai seorang kepala keluarga. konsultan keuangan, dan praktisi pengusaha mikro.
Yang pasti saya sudah sampaikan ide dari perspektif saya, jika ada yang memiliki perspektif lain untuk ditambahkan silahkan dimasukan di komentar. Sebagai manusia saya pun juga memiliki kekeliruan dan kelupaan, saya sampaikan permohonan maaf jika ada kesalahan dan menimbulkan ketidaknyamanan di hati.
Komentar
Posting Komentar