20 November 2011.
Tepat satu bulan sudah, aku bekerja sebagai auditor di kantor akuntan publik ini. Waktu yang sangat cepat kurasa. Mengapa terasa cepat? Teman-teman sejawatku yang bekerja sebagai auditor di sebuah kantor akuntan publik lain masih belum diperbolehkan menangani proyek langsung padahal sudah enam bulan bekerja. Ada juga yang sudah dua tahun dan masih kerjanya Cuma ‘membantu’ saja. Memang berbeda di tempat kerjaku, sebenarnya bukan hanya berbeda, tetapi juga aneh hehe. Baru sebulan aku bekerja, sudah menangani tiga proyek lapangan langsung bersama seniorku, dan minggu depan akan datang lagi proyek raksasa dan sangat menantang. Apakah sulit? Aku tidak mau menyebut kata sulit, karena menurut Ali bin Abu Thalib, orang yang tidak takut adalah orang yang tidak mengenal kata sulit.
Teringat kembali pada dua proyek audit yang terakhirku. Yang pertama berlokasi di Boyolali, dan satunya lagi yang terakhir berposisi di Klaten. Dua perusahaan yang berbeda kepemilikan (menurut legalitasnya) tetapi satu jenis usaha, yaitu konstruksi.
Perusahaan kontruksi yang hampir semua kontraknya adalah dari PT PLN, perusahaan yang pernah dipimpin oleh salah satu CEO idolaku di Indonesia, Iskandar Dahlan (disebut juga Dahlan Iskan).
Dan ternyata, kedua perusahaan ini, yang di Boyolali dan di Klaten, memiliki satu hubungan yang erat dengan PT PLN. 20 tahun yang lalu, 700 karyawan ‘Koperasi PT PLN’ di regional Jawa Tengah terpaksa harus merumahkan dirinya masing-masing. Karena sebuah peraturan yang ditetapkan pada saat itu, bisnis simpan-pinjam dan jasa profesional lapangan harus dipisah dari ‘Koperasi PT PLN’. 700 karyawan tersebut adalah para ahli profesional lapangan yang sehari-harinya bekerja mengurusi teknis lapangan kebutuhan pelistrikan PT PLN.
Tidak tinggal diam, mereka membuat PT sendiri. Sebenarnya 700 karyawan tersebut disebut sebagai karyawan PLN juga tidak bisa. Walaupun mereka bekerja di Koperasi Simpan-pinjam PT PLN, namun mereka tidak mendapatkan fasilitas selayaknya karyawan PT PLN. Selama menjadi karyawan Koperasi pun, mereka kerap mencoba mendaftar menjadi karyawan tetapnya PT PLN yang dibuka tiap tahunnya. Namun walau sebagai karyawan Koperasi PT PLN, hal tersebut tidak memudahkan mereka lolos seleksi. Yah.. Perusahaan harus tetap adil dalam menyeleksi karyawannya, mana yang berkualitas dia yang lolos, tapi itu katanya orang-orang PT PLN pada jaman itu (Kisah ini diceritakan oleh manajer operasional dari perusahaan konstruksi yang di Klaten yang pernah merasakan menjadi karyawan Koperasi PT PLN 20 tahun yang lalu).
Perusahaan yang dibangun pun tidak serta merta langsung berhasil, walaupun terdiri dari 700 anggota yang berpengalaman di jasa konstruksi lapangan, pemasangan dan pengadaan kebutuhan pelistrikan. Mereka tidak berpengalam dalam hal pemasaran maupun kegiatan administrasi dan keuangan. Yang mereka tahu adalah bekerja di lapangan. Maka tak ada kata tidak mau belajar bila mereka tetap mau ‘survive’. Dipilihlah seorang pemimpin diantara mereka, Pak Salimni, seorang lelaki yang sangat dihormati diantara mereka. Beliau memperjuangkan agar perusahaan yang didirikan bersama ini bisa berhasil. Awalnya perusahaan ini naik turun bisnisnya, tidak selalu berhasil namun mampu bertahan hingga tahun 2007.
Titik tolak kejayaan bisnis mereka adalah pada saat tahun 2007-2008, PT PLN lah yang menjadi titik pengungkit bisnis bersama bapak Salimni. Pak Salimni dan rekan-rekannya tidak pernah menyalahkan PT PLN, mereka tak pernah mengeluh, mereka tetap membuka tangan lebar-lebar saat kini mendapatkan banyak proyek dari PT PLN. Hampir semua proyek pelistrikan di regional Jawa Tengah dipasrahkan pada perusahaan bapak Salimni. Omset pertahunnya mencapai belasan milyaran rupiah, para karyawannya kini sejahtera.
Memang hebat bila kupandang dari sisi perjuangan bisnis mereka. Namun bagaimanapun hebatnya perjuangan mereka, aku datang sebagai auditor yang ditunjuk oleh Bank untuk mengaudit perusahaan mereka. Banyak yang bilang, salah satu musuh besarnya tiap perusahaan adalah auditor, tapi menurutku itu adalah musuh bagi perusahaan yang dengan sengaja melakukan hal yang tidak wajar di perusahaannya, contoh memanipulasi laporan keuangannya.
Aku yakin, perusahaan ini memiliki semangat besar untuk berlaku jujur dan transparan. Setiap kuminta data untuk keperluan pemeriksaan, mereka dengan antusias mempersiapkannya tanpa ditutup-tutupi. Walaupun tahun ini merupakan tahun pertama bagi perusahaan mereka diaudit, mereka tidak takut. Memang banyak sih laporan-laporan yang tidak dibuat menurut standar, tapi itu bukanlah masalah besar. Yang penting mereka mau diajak bekerja sama itu sudah sangat membantu.
Tetaplah semangat Pak Salimni dan rekan-rekan.
Komentar
Posting Komentar