Langsung ke konten utama

Awang-awang Liar


Bola mataku memandang kakiku sendiri yang terlihat dari posisi dudukku yang menyelonjorkan kedua kaki di atas tempat tidur. Kusenderkan punggung pada tembok. Jempol kaki kiri terasa sakit sekali, ada kuku memanjang yang tidak terpotong secara sempurna menyodok kulit daging di ujung jempol. gitar kupangku di atas kedua kakiku. Sambil kupetikan sebuah lagu “Rolling in the deep” nya Adele secara akustik di dalam kamarku.

Saat petikan gitar ini menimbulkan gelombang suara mengalun renyah, pikiranku mengawang pada sosok gadis yang telah menjadi sahabatku selama aku kuliah. Puitis sekali pikirku, mengapa aku mendadak menjadi romantis begini, melankolis busuk. Brengsek.

Sebuah pikiran terliar saat kucoba berimajinasi kembali tentang sosoknya. Sahabat yang sering kuajak berdebat. Ya, kami sering bertengkar. Seperti Tony Stark dengan Captain America dalam film “The Avenger”.

Masih di atas kasurku, tepat di samping kanan angin berhembus pelan menyejukkan berasal dari sebuah mesin kipas angin yang kupasang 24 menit yang lalu setelah kubersihkan kipasnya dari debu yang sudah menumpuk tebal.

Daya ingatku kembali mengawang pada sahabatku yang telah lama kukenal. Kukenal dirinya lebih lama daripada waktu kubertemu dengan pacar pertamaku.

Ketika itu, daya khayal terbangsatku membayangkan kukecup bibirnya, bibir sahabatku. Tidak hanya kecupan, namun bercumbu. Memainkan lidah kita dalam lorong mulut kita yang basah oleh lendir liur yang diproduksi dari bawah lidah manusia. Membuat rasa sentuhan dua organ bagian manusia yang berfungsi sebagai indera pengecap rasa ini semakin sensasional. Cinta? Gembel!.

Namun, aku nyaman bersamanya. Dulu, sering kita berjalan bersama, makan malam bersama, mencicip berbagai makanan baru di kota di mana kami kuliah di satu universitas yang sama. Sampai berbincang di sebuah ruangan yang cukup privasi selama berjam-jam, namun kenyataannya kami tidak pernah melakukan apapun sampai di luar kewajaran hubungan persahabatan.

Yah, aku begitu rindu padanya, 10 tahun sudah kami tak pernah bertemu. Dan kini, hubungan yang tiba-tiba sangat kuinginkan itu sudah tak akan pernah terjadi lagi. Kini dia telah menikah dengan seorang pria yang begitu baik dengannya. Menghormatinya sebagai wanita, dan tak pernah menyakiti hatinya, apalagi raganya. Dia bahagia.

Begitu pula diriku, kini ku telah mengandung seorang anak dari pria yang telah menikahiku 2 tahun silam. This is just my privacy story, and i just will keep it in my mind. It will be secret forever till i say it. Aku rindu kamu. Sahabatku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...