Langsung ke konten utama

Say Cheese to The Thruth of Our Mind (My Mind I Mean)

Sudah 3 minggu tidak menulis, dan kini menulis lagi. Yang terjadi adalah tulisan fiksi. Heran. Dasarnya aku adalah orang yang menyukai hal-hal logis yang penting-penting saja. Tulisan seputar Leadership. Ekonomi global. Ataupun tulisan mengenai pekerjaanku saat ini, audit. Itulah tulisan yang aku gemari untuk kutulis. Dan sekarang? Aneh.

Sometimes, manusia butuh yang namanya, explore your imagination. Einstein saja punya masalah dengan metode pembelajaran tradisional, yang mendorongnya untuk penggunaan sisi kreatif dari otak. Mungkin ini yang membuatnya menjadi ilmuwan besar. Dia menatap sesuatu melalui mata yang berbeda untuk menemukan solusi untuk masalah tersembunyi. yaitu imajinasi.

Mungkin makhluk hidup di sekitar kita yang bernama manusia ini, banyak yang belum mengenal diri kita yang sebenarnya. Kebanyakan mereka berfikir sesuai dengan apa yang mereka lihat saat itu.

Misal diriku, mereka berfikir bahwa aku adalah orang yang pendiam, cuek, dan terkadang kolerik akut. Sedikit filantropis, tapi jarang kutonjolkan. Kuucapkan pada kalian wahai manusia, selamat menikmati terhadap apa yang kalian lihat.

Kadang kita lupa. Bahwa kita tidak bisa mengetahui sebuah bentuk kubus dari satu sisi saja. Kita tidak akan bisa mengetahui sebuah kaleng berisi air atau tidak bila kita tidak mencoba mengangkatnya, atau bahkan meminumnya. Minum saja. Kalau racun paling juga mati. Just it.

Ketika masing-masing dari diri kita mulai berpikir. Sibuk berpikir. Sibuk mengoceh pada setiap kuping yang mereka temukan. Di manapun, kapanpun. Mereka lupa, bahwa kebenaran sejati tak bisa didapat dari melihat satu sisi. Untuk melihat sebuah bentuk itu adalah kubus, kita perlu berkeliling melihat keenam sisinya. Atau dibantu lima manusia lainnya memastikan bahwa bentuk itu adalah kubus dengan berdiri tepat di depan setiap sisinya.

Pesan tulisan ini adalah, kebenaran sejatimu hanya bisa kamu temukan di dalam pikiranmu sendiri saja. Bukan di dunia nyata. Stop judge anyone accordance your mind. Stop it. And just enjoy yourself. Enjoy your life. Enjoy it! :-)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...