Langsung ke konten utama

Ekonomi Jepang akan kembali

11 Maret 2011, Jepang. Mengalami sebuah bencana yang hebat. Bencana beruntun yang menewaskan ribuan orang. Dimulai dari gempa berkekuatan 8,9 SR, dilanjut oleh tsunami. Ribuan orang tewas. Tapi bencana yang melanda Jepang tak berhenti di situ saja. Terjadi kebocoran nuklir di Fukushima, akibat dua bencana beruntun yang melanda Jepang. Gempa besar menyebabkan rusaknya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) tersebut. Sistem pendingin otomatis yang siap melindungi kebocoran langsung diterjang oleh tsunami. Seketika teknologi canggih tersebut rusak. Kebocoran nuklir tak dapat dielakkan. Seperti peristiwa Chernobyl di Ukraina pada tahun 1986, namun belum separah itu. Bila tingkat waspada nuklir di Chernobyl mencapai level 7 dari 8 point. Maka Jepang baru di level 5. Namun hal itu tetap saja mengkhawatirkan.
Gempa pada tahun 1995 di Kobe, Jepang, menimbulkan kerugian sebesar 100 miliar dolar, dan termasuk di antara bencana paling mahal dalam sejarah. Dalam bencana kali ini belum dapat dipastikan berapa besar kerugian Jepang. Namun bank Jepang telah membentuk satuan siaga untuk memperhitungkan berapa dana yang dapat disiapkan untuk menanggulangi kerugian bencana ini.
Sejak tanggal 11 maret, bencana melanda Jepang. Dapat dipastikan ekonomi Jepang mengalami kekacauan. Seperti efek domino, bencana ini membawa dampak ke berbagai sektor di Jepang. Salah satunya yang utama adalah ekonomi Jepang. Berapa besar aset Jepang yang disapu habis oleh gempa dan tsunami. Ditambah adanya bencana lain berupa kebocoran nuklir, Jepang mengalami krisis. Segala fasilitas dan aset Negara mengalami gangguan. Struktur sistem Jepang berusaha keras mengendalikan keadaan. Menenangkan masyarakat, mengembalikan keadaan ekonomi Jepang seperti sedia kala. Namun pertanyaannya, seberapa cepat?
Infrastruktur rusak, akses jalan banyak yang hancur. Selain itu bahan pangan radius 30km dari fukushima terkena radiasi nuklir. Tercatat tingkat radiasi yang mengendap pada bahan pangan itu cukup tinggi. Lebih tinggi dari tingkat wajar radiasi yang boleh terendap dalam bahan pangan. Namun kata pemerintah makanan tersebut masih bisa dimakan. Pemerintah berusaha keras menenangkan masyarakatnya. Sebisa mungkin semua kegiatan jual beli dapat terus berjalan lancar. Pemerintah berusaha mengembalikan keadaan ekonomi jepang secepatnya.
Dampak perekonomian Jepang
Dalam kenyataannya, nilai tukar yen menjulang tinggi. Hal ini menyebabkan kelimpungan pada kondisi ekonomi Jepang. Harga barang ekspor menjadi lebih mahal. Ini kurang baik bagi ekonomi Jepang. Karena dapat mempengaruhi tingkat permintaan. Harga naik, permintaan turun. Maka tim G7, yaitu 7 Negara di dunia dengan ekonomi terbesar berusaha membantu perekonomian Jepang agar kembali normal. Anggota G7 ini adalah Amerika Serikat, Jerman, Perancis, Inggris, Kanada, Italia dan Jepang.
Isu mengenai G7 yang ikut terjun dalam menangani krisis Jepang ini membuat hati lega para investor. Terlihat pada kenaikan poin saham di bursa efek Jepang, Nikkei. Namun sebenarnya yang membuat nilai saham kemarin anjlok karena kepanikan masyarakat akibat bencana. Kehadiran G7 ini membuat masyarkat dapat berfikir rasional kembali. Dalam hal ini yang sebenarnya dapat mempertahankan ekonomi suatu Negara adalah ketenangan dari masyarakatnya sendiri dalam mengambil keputusan.
Pada tingkat internasional, bencana yang melanda Jepang memiliki dampak tersendiri. Akibat bencana ini nilai tukar yen pada dolar amerika meningkat tajam. Hampir setara dengan nilai tukar pasca perang dunia kedua.
Akibat dari nilai tukar yen yang buruk ini menyebabkan nilai ekspor Jepang membengkak. Hal ini menyebabkan bencana bagi ekonomi dunia. Karena Jepang sebagai bagian dari 7 Negara dengan perekonomian terbesar.
Dampaknya pada ekonomi Indonesia
Bagi Indonesia sendiri, bencana Jepang memiliki dampak yang besar. Sebagian besar ekspor Jepang ditujukan pada Asia khususnya Indonesia, di Batam. Akibat musibah yang melanda Jepang, akibatnya kegiatan ekspor harus ditunda. Jumlah permintaan yang terakumulasi setiap harinya tersendat akibat ekspor yang terhenti sementara. Hal ini menyebabkan kelangkaan, dan berimbas kenaikan harga pada barang pengganti.
Padahal nilai dari barang pengganti ini belum tentu sama nilainya dengan nilai barang ekspor dari Jepang. Hal ini menyebabkan ketidak-seimbangan antara harga dan nilai barang. Beberapa pemasok nakal dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual barangnya yang kualitasnya berada di bawah barang Jepang dengan harga yang jauh lebih tinggi.
Maka benar saja para pejabat keuangan Indonesia perlu ikut andil dalam pengembalian kondisi Jepang. Karena dengan membaiknya kondisi Jepang, maka ekonomi Jepang dapat berjalan normal kembali. Imbasnya nilai barang yang ada dalam Indonesia dapat kembali stabil.
Kesimpulan
Dalam perjalanannya, Jepang optimis dapat mengembalikan perekonomian seperti sedia kala. Mengembalikan nilai tukar yen seperti semula. Dan harga ekspor normal kembali. Jepang memiliki struktur sistem yang baik, terbukti Jepang sebagai anggota G7. Ditambah dengan kesiagaan pemerintahnya yang tanggap. Didukung oleh masyarakatnya yang tabah dan tetap kuat menghadapi bencana ini. Dalam bahasa manajemennya hal ini disebut Goal Congruence, sebuah organisasi akan cepat mencapai tujuannya apabila sudah mengalami keharmonisan hasrat dan tujuan dari pemimpinnya dan anggotanya.
Terlihat pada Keharmonisan tujuan antara pemerintah Jepang dengan ketabahan dan keteguhan hati masyarkatnya. Bersama-sama membangun kembali negaranya untuk maju kembali seperti sedia kala. Hal inilah yang perlu dicontoh oleh Indonesia dalam mengharmoniskan tujuan pemerintah dengan tujuan masyarakatnya. Menghadirkan keserasian dalam membangun negaranya maka tak dapat dipungkiri kemajuan Indonesia dapat tercapai.
Referensi:
1. Ovi Oktaviani, 2011, “Jepang Hadapi Bencana Radiasi Nuklir” http://bataviase.co.id/node/603649, 22/3/2011 17.51 WIB
2. Ksoehun, 2011, Ancaman Nuklir ke II Jepang sesudah Perang Dunia II, sebuah studi banding untuk negara lain, http://www.indorating.com/view.php?pg=2011/03/17032011/11746&judul=Ancaman%20Nuklir%20ke%20II%20Jepang%20sesudah%20Perang%20Dunia%20II,%20sebuah%20studi%20banding%20untuk%20negara%20lain, 22/3/2011 17.52 WIB

3. http://www.voanews.com/indonesian/news/Jepang-Temukan-Sayur-Bayam-dan-Susu-Tercemar-Radiasi--118291179.html, 22/3/2011 17.54 WIB
4. http://www.voanews.com/indonesian/news/G-7-Stabilkan-Nilai-Tukar-Yen-118267684.html, 22/3/2011 17.56 WIB
5. http://www.voanews.com/indonesian/news/Kekuatan-Ekonomi-Dunia-Khawatir-dengan-Dampak-Ekonomi-Bencana-Jepang-118194844.html, 22/3/2011 18.01 WIB

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...