Langsung ke konten utama

Libya sebagai Alat Pengacau Ekonomi Dunia

Pada Senin 21 Maret 2011, harga minyak melampaui 103 Dolar per barel . Dari kasus perang Libya ini, seharusnya harga minyak masih bisa dibawah 100 Dolar per barel. Namun sangat disayangkan, kontrol harga ini sudah tidak dipegang oleh sektor riil lagi. Tapi para spekulan-lah yang memegang kendali harga. Dengan adanya perang yang berkepanjangan, dapat mengakibatkan terhentinya pasokan minyak. Permintaan minyak terus terakumulasi, sedangkan pasokan terhenti. Menyebabkan kelangkaan minyak, dan harga terus melambung.
Bila Amerika, Perancis dan Negara-negara maju tahu akan hal ini. Mengapa mereka terus melanjutkan perang? Dan sangat disayangkan mengapa PBB ikut merestui perang ini terjadi. Ada suatu permainan politik ekonomi yang terjadi di sini. Bila dilihat dalam kasus Libya ini, jelas masyarakat dunia akan dirugikan dengan naiknya harga minyak. Lantas siapa saja yang diuntungkan?
Negara-negara besar itu menyerang Libya, bukan untuk sekedar mendamaikan suasana panas Libya. Minyak, ya itulah sasaran mereka. Dengan adanya perang ini, akan membuat Libya terhenti memasok minyak ke seluruh dunia. Yang akibatnya harga minyak melonjak karena kelangkaan minyak. Para Negara besar yang tahu hal ini, sudah menyiapkan cadangan minyak mereka. Yang siap dijual pada level harga tertinggi.
Saat ini harga minyak masih sekitar 103 dolar per barel. Namun bila perang ini terus berlanjut lama. Harga minyak diperkirakan akan sampai pada level 120 dolar per barel, seperti krisis pada tahun 2008. Dan estimasi terburuknya, level harga minyak akan mencapai titik maksimumnya, pada harga 140 dolar per barel. Sekarang saja jumlah permintaan akan minyak telah mencapai 1,6 juta barel per hari. Dan permintaan ini akan terus meningkat. Meningkat sampai titik maksimum. Saat di point itulah para kapitalis minyak akan menjual cadangan minyak mereka ke pasar.
Mereka adalah para agen Negara haus kekayaan yang siap meraih untung besar dari perang tak berguna itu. Sebuah harga yang harus dibayar dengan perang. Kematian warga sipil tak berdosa. Kesengsaraan masyarakat dunia akan mahalnya minyak.
Kekacauan pada Libya yang berlarut-larut ini harusnya bisa diselesaikan lebih cepat. Tanpa perlu adanya jalur perang. Rezim Khadafi mestinya sudah bisa dihentikan sejak kemarin. Perang yang dilakukan Amerika ini justru mengembalikan popularitas Khadafi di hadapan masyarakatnya. Seperti yang Khadafi lakukan pada tahun 1980-1990an. Saat Khadafi menolak kerjasama dengan Amerika. Saat Libya masih diembargo. Adalah masa kejayaan Khadafi yang begitu mempesona. Hingga tahun 2000 saat Khadafi luluh pada Amerika. Menghilangkan pesona KHadafi di mata warganya. Hingga masa penurunan rezim khadafi ini. Sampai perang ini terjadi. Dan saat Amerika ikut turun tangan dalam penyerangan Libya, ngototnya Khadafi bertahan dan melawan serangan Amerika. Ada kemungkinan mengembalikan pesona khadafi di hati masyarakatnya. Dapat dipastikan gejolak perang ini akan terus berlangsung lama.
Harga minyak melesat setelah pemimpin Libya Moammar Khadafi bersumpah akan terjadi "perang panjang" saat sekutu melakukan serangan militer pada negara yang tergabung dalam OPEC tersebut (Dikutip dari artikel di vivanews.com).
Semuanya sudah diperhitungkan. Posisi Libya yang sedang dilematis. Justru dihantam perang oleh Negara besar. Semua ini tak dapat dipungkiri, minyaklah tujuannya. Memanfaatkan kesempatan ini untuk melambungkan harga minyak. Dan pada akhir dari adegan ini, sudah dapat kita pastikan siapa yang tertawa di akhir, dan siapa yang sekarat.
Namun semua ini masih bisa diselamatkan. Apabila kita semua bersatu, memprotes adanya perang tersebut. Hentikan perang ini, damaikan semua pihak tanpa jalur perang. Segera kembalikan keadaan ekonomi dunia normal lagi. Perang yang terus dilanjutkan ini hanya akan menyengsarakan banyak orang. Dan menguntungkan para kapitalis gendut itu.

Referensi:
1. “Pemerintah Indonesia harus bersikap tegas. Jangan sampai Libya jadi Irak kedua”,
http://www.trijayafmplg.net/opini/2011/03/libya-bukan-irak-kedua/
22/3/2011, 21.54 WIB
2. “Perang Libya, Harga Minyak Bisa US$140/Barel”,
http://politik.vivanews.com/news/read/210847-kiemas--perang-libya-bisa-picu-perang-dunia
22/3/2011 21.56 WIB
Berita terkait masih dalam situs yang sama:
• Kiemas, 2011, “Perang Libya Bisa Picu Perang Dunia”
• “Harga Minyak Bisa Tembus US$120 per Barel”
• “Para spekulan memanfaatkan isu Libya dan Iran yang terus memanas”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...