Pada suatu pagi terjadi percakapan antara si penulis dengan wartawan imajiner: Wartawan Imajiner (WI): Halo kakak, selamat pagi. (Penulis dipanggil kakak demi menjaga kerahasiaan umurnya) Penulis (P): Yaa halo. (dengan muka bantal baru bangun tidur) WI: Sepertinya kakak baru saja begadang ya semalam. Maaf mengganggu, kalau mau bersih-bersih dulu silahkan. P: Baiklah. (Tanpa pikir panjang, penulis langsung masuk kamar mandi. Semenit kemudian keluar dari kamar mandi dalam busana pakaian gaul) WI: Sebagai pengajar muda, kakak cepat sekali mandinya ya? P: Ah biasa saja, kalau di dalam tulisan saya bisa melakukannya lebih cepat lagi. Beda kalau di dunia nyata. (Penulis berusaha melawak namun sepertinya garing) WI: Baiklah, sesuai dengan janji kemarin untuk mewawancarai kakak mengenai perjalanan menjadi Pengajar Muda bisa langsung kita mulai sekarang saja ya. P: Sok. (bahasa sunda dari kata ‘silahkan’) WI: Bisa ceritakan bagaimana awalnya mengetahui tentan...
Bagaimana jika alasan manusia diturunkan ke bumi adalah untuk saling berbagi cerita? Dari satu cerita kita bisa merenung dan berpikir. Sebuah cerita dapat mengantarkan kebijaksanaan dan pencerahan dalam hidup ketika dibawakan dengan gurih dan renyah, seperti keripik keju krispi.