Langsung ke konten utama

Obrolan tentang Pengajar Muda

Pada suatu pagi terjadi percakapan antara si penulis dengan wartawan imajiner:

Wartawan Imajiner (WI): Halo kakak, selamat pagi. (Penulis dipanggil kakak demi menjaga kerahasiaan umurnya)

Penulis (P): Yaa halo. (dengan muka bantal baru bangun tidur)
WI: Sepertinya kakak baru saja begadang ya semalam. Maaf mengganggu, kalau mau bersih-bersih dulu silahkan.

P: Baiklah. (Tanpa pikir panjang, penulis langsung masuk kamar mandi. Semenit kemudian keluar dari kamar mandi dalam busana pakaian gaul)

WI: Sebagai pengajar muda, kakak cepat sekali mandinya ya?

P: Ah biasa saja, kalau di dalam tulisan saya bisa melakukannya lebih cepat lagi. Beda kalau di dunia nyata. (Penulis berusaha melawak namun sepertinya garing)

WI: Baiklah, sesuai dengan janji kemarin untuk mewawancarai kakak mengenai perjalanan menjadi Pengajar Muda bisa langsung kita mulai sekarang saja ya.

P: Sok. (bahasa sunda dari kata ‘silahkan’)

WI: Bisa ceritakan bagaimana awalnya mengetahui tentang Gerakan ini yang membawa kakak menjadi seorang guru?

P: ini ceritanya sudah lama sekali sebenarnya, dulu saat saya masih bayi (setting menjadi blur dan mulai flash back kembali ke masa lalu si penulis), saya dibisikan oleh dokter yang membantu kelahiran saya di dunia ini untuk jadilah seorang Pengajar Muda kelak. Dokter itu membisikan saya seperti ini, “ketika Anda selesai kuliah nanti akan ada sebuah Gerakan yang namanya Gerakan Indonesia Mengajar, nanti kamu ikutilah Gerakan tersebut dan menjadi guru di daerah untuk setahun. Gerakan ini bertujuan untuk memenuhi janji kemerdekaan bangsa kita, orang yang telah terdidik harus membalas dengan mendidik orang lain yang belum terdidik.” Ya begitulah ceritanya kira-kira. (setting blur dan kembali ke masa sekarang)

WI: Waw cerita kakak inspiratif sekali ya.

P: Ah biasa saja. Saya ngarang cerita juga kamu ga bakal tahu.

WI: Gak apa kak, cerita ini saya catat. Oke, pertanyaan berikutnya, setelah kakak mulai melangkah di Gerakan ini untuk menjadi seorang guru, bagaimana reaksi keluarga dan teman-teman kakak?

P: Hm.. pertanyaan ini buat saya cukup emosional untuk menjawabnya (air muka si penulis berubah, dari air tawar menjadi air asin). Awalnya keluarga saya melarang saya mengikuti Gerakan ini. Karena setelah saya selesai kuliah, saya bekerja di sebuah perusahaan dan sudah memiliki penghasilan yang cukup. Keluarga mengatakan kepada saya buat apa buang-buang waktu satu tahun di sini. Saya akan rugi, kata keluarga saya. Namun saya tetap bersikeras, percaya kalau Gerakan ini tidak akan membuat hidup saya sia-sia. Setelah beberapa bulan kami saling beradu prinsip. Akhirnya keluarga saya mengalah, dan merelakan kepergian saya selama setahun. Beda cerita dengan teman-teman saya. Mereka malah merasa menyesal dan sedih, mengapa saya pergi hanya untuk satu tahun saja, tidak sepuluh tahun sekalian. Setan!

WI: Saya terharu sekali kakak memiliki keluarga dan teman-teman yang hebat dan menyayangi kakak.

P: ... (bingung dengan respon wartawan)

WI: Pertanyaan berikutnya, sebenarnya apa sih motivasi kakak mengikuti gerakan ini?

P: untuk pertanyaan ini, saya minta pembaca bacanya pelan-pelan ya. Karena saya tidak mau kedengeran sama orang-orang yang mengenal saya. Jadi alasan saya mengikuti Gerakan ini... (suara dipelankan) adalah untuk menghilang selama setahun. Saya mau rehat dulu dari dunia penuh hingar bingar perkotaan, hedonisme dan kapitalisme (bacanya semakin pelan, hampir seperti baca dalam hati). Saya mau jalan-jalan ke pelosok negeri dibayari pula. Lagipula, mengajar adalah salah satu hal yang saya suka. Jadi saya akan menambah amal jariyah saya melalui mengajar sekalian menghilang setahun dari lingkungan saya sekarang.

WI: Omong-omong kan ini di dalam tulisan, jadi ngapain suaranya dipelankan. Lebih baik kita blurkan saja tulisan ini.

P: Lah, kalau dibikin blur, bagaimana tulisan ini bisa dibaca?

WI: Oya, kakak cerdas sekali.

P: Terima kasih.


...Bersambung ke tulisan berikutnya ya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...