Ketika mata ini tertutup, terdengar
suara gemuruh kawan-kawan yang sedang berteriak. Bernyanyi dan juga ada yang
menepuk tangannya. Saya berada di antara kawan-kawan baru. Di tempat baru. Suasana
baru.
Masih teringat apa yang saya lakukan
tepat setahun yang lalu. Berkutat dengan laporan-laporan berupa grafik dan
tabel angka. Bertemu orang-orang tua yang keras kepala dan selalu memaksakan
kehendaknya.
Tak pernah sedikitpun saya merasa
ada sesuatu yang harus ditulis. Ketika salah satu sesi di masa pelatihan ini mengharuskan
saya untuk menulis tentang perjalanan selama masa pelatihan Indonesia Mengajar.
Oya, baiklah. Saya akan berkontemplasi.
Yap, kata ini adalah sebuah kata yang menggambarkan apa yang sering saya lakukan.
Meditasi, atau perenungan, atau apalah sebutan kata lainnya. Tak penting semua
itu. Yang penting saya yakin dengan apa yang saya lakukan ini membawa kedamaian
pada jiwa. Bukan pada kebenaran yang diusung oleh manusia kebanyakan.
Manusia terlalu banyak dibohongi
dengan apa yang mereka sebut dengan kebenaran. Padahal itu bisa saja sebuah
kebohongan yang diyakini sebagai kebenaran oleh mayoritas manusia dan diamini
bersama oleh penduduk satu bumi.
Indonesia Mengajar ini semakin menguatkan
apa yang saya yakini selama ini. Keyakinan manusia pada hal-hal yang tampak di
permukaan saja: pencitraan, pencarian jati diri, batu loncatan pencapaian
cita-cita. Atau bahkan motivasi dengan iman terlemah yaitu eksistensi.
Manusia terlalu banyak
terpengaruh dengan rencana manusia di masa lalu, mengenai penguasaan dan
pengendalian manusia lainnya. Itulah politik. Mereka terpengaruh dengan konsep
eksistensi dan keyakinan bahwa dominasi manusia dapat dilakukan dengan
peningkatan intelektualitas melalui membaca ataupun memanipulasi kenyataan.
Bahkan bersama rencana termulia dari
Indonesia Mengajar sekalipun, sebagian pengajar muda masih terlena dengan
kapasitas pemikiran dan pemahaman atas identitas diri yang masih berada di
sekitar ide tentang eksistensi.
Kita selalu lupa akan konsep Iceberg. Walaupun cerita ini sudah
diajarkan kepada kita, bahkan di dalam sesi training inipun, ide ini pernah diceritakan
kembali. Dan ternyata hanya numpang lewat saja.
Gerakan Indonesia Mengajar inipun
sebenarnya memiliki salah satu fungsi kehidupan, yaitu menggerakkan manusia
lainnya untuk melihat ke dalam, bukan keluar. Bukan sekedar melihat data tabel
ekonomi negara kita yang dikata sudah mencapai angka di atas rata-rata. Angka
kemakmuran yang semakin baik. Itu semua hanya potongan gunung es yang terlihat
di permukaan saja. Tapi bila kita tidak jeli melihat gunung sebenarnya yang
hanya dapat dilihat di bawah permukaan, kapal akan tenggelam bila kita
terlambat menyadari. Dunia kiamat. Kiamat karena manusianya sendiri. Yang tak
kunjung dapat memahami maksud Sang Pencipta menciptakan hidup yang sangat relatif
ini.
Manusia memiliki keistimewaan
yang dianugerahkan oleh Yang Maha Berilmu, bukan pada otak. Namun pada pikiran,
pikiran yang datang dari hati nurani. Organ tubuh yang seperti menjadi penghubung antar dunia
kita ini dengan Yang Maha Abadi. Bagian imaterial dalam organ material kita
yang dapat membawa kita menuju dunia yang jauh berbeda dengan dunia yang dapat
ditunjukkan melalui ilmu sains maupun teknologi. Dunia imaterial.
Ah, makin gila saja bila
kontemplasi ini saya lanjutkan. Maka saya putuskan membuka kembali mata ini,
dan melihat kawan-kawan pengajar muda. Maaf kawan, saya bukanlah orang yang
paling benar. Saya hanya lebih senang mendengarkan hati nurani ini berbisik
daripada berbicara panjang lebar di hadapan manusia.
Komentar
Posting Komentar