Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2013

Semua Manusia Adalah Guru

“Pak, lihat ini pohon Karet!” Seru muridku, Tedi, di suatu pagi. Kupandangi dengan seksama bentuk pohon yang ditunjukkan oleh muridku. Pohon ini masih kecil, tidak seperti kebanyakan pohon karet di hutan yang selalu di nakok [1] oleh masyarakat sini, di tempat Aku ditugaskan sebagai guru, di Talang [2] Tebat Rawas. Aku masih mengamati pohon muda itu sambil mendengarkan alunan instrumen ‘ Beginning of The Road ’nya Depapepe, berusaha mencari tahu apa yang sama dengan pohon karet yang sudah siap di nakok. Jepret! Suara kamera mengambil gambar yang diambil oleh muridku yang bernama Agus. Bak fotografer profesional, Agus mengambil foto pohon karet muda di hadapanku dari berbagai arah dengan berbagai posisi. “Lihat bentuk daunnya pak!”, Seru Agus mengambil perhatianku dari pengamatan pohon. Aha, itu jawabannya. Meski pohon ini masih muda, yang sama dengan pohon yang sudah besar adalah ciri daunnya. “Kalau yang ini pohon Nangka, Pak” Tedi berseru sambil men...

Catatan Di Malam Yang Hening

Di suatu heningnya malam, suara jangkrik bersahutan. Nyamuk-nyamuk terbang melayang di atas kepala. Kepala dari seseorang yang sedang merasa candu akan heningnya malam. Ditemani secercah cahaya tentram lampu senter. Muncul beberapa memori dalam ingatan masa lalunya yang membuat dirinya berpikir kembali. Apa yang telah dilakukan di masa lalunya hingga sekarang. Bukan sebuah kebetulan orang ini berada di dalam keheningan. Telah banyak jalan yang dilalui di masa hidupnya. Bukan hidup yang mudah tentu saja. Bagaimana tidak, manusia dilahirkan bersama sepaket karunia, tanggung jawab dan juga masalah. Soe Hok gie pernah berkata, “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda...” Orang ini bukanlah orang istimewa yang banyak dikata oleh orang lain. Orang ini menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki struktur DNA, yang tersusun dari atom. Dan atom dari zarah, partikel terkecil atom, yang sama persis menyusun struktur DNA orang lain....

Melodi Indah Kehidupan

Aku bukanlah pujangga seperti Chairil Anwar, maupun penulis yang mencintai alam raya layaknya Soe Hok Gie. Aku hanyalah pemuda yang merindukan kebahagiaan utopis dengan cara menulis. Namun jangan bayangkan tulisanku dapat disandingkan dengan tulisan Ayu Utami, Dewi Lestari bahkan Will Eisner sekalipun. Namun satu hal yang Aku yakini dalam setiap huruf dalam kata, kata yang menggenapi kalimat-kalimat kecilku adalah wujud orisinalitas petik hidup dari kehidupanku. Seperti satu tahun kedepanku yang nampak akan sama dengan satu tahun yang dilalui Pengajar Muda sebelumku. Namun satu hal yang kuyakini akan menjadi hal yang berbeda di tahunku, adalah tentang bagaimana cara menikmati setiap detik dalam hari-hariku. Bukan tentang seperti apa ceritanya. Layaknya petikan ‘ Gymnopodie ’ dari Depapepe, hidup itu berjalan lambat ketika awal memulainya, kemudian begitu mengasyikkan begitu memasuki melodi yang menyamankan gendang telinga. Sampai-sampai membuat waktu berjalan begitu cepat ...