“Pak, lihat ini
pohon Karet!”
Seru muridku,
Tedi, di suatu pagi. Kupandangi dengan seksama bentuk pohon yang ditunjukkan
oleh muridku. Pohon ini masih kecil, tidak seperti kebanyakan pohon karet di
hutan yang selalu dinakok[1]
oleh masyarakat sini, di tempat Aku ditugaskan sebagai guru, di Talang[2]
Tebat Rawas.
Aku masih
mengamati pohon muda itu sambil mendengarkan alunan instrumen ‘Beginning of The Road’nya Depapepe,
berusaha mencari tahu apa yang sama dengan pohon karet yang sudah siap dinakok.
Jepret!
Suara kamera
mengambil gambar yang diambil oleh muridku yang bernama Agus. Bak fotografer
profesional, Agus mengambil foto pohon karet muda di hadapanku dari berbagai
arah dengan berbagai posisi.
“Lihat bentuk
daunnya pak!”, Seru Agus mengambil perhatianku dari pengamatan pohon.
Aha, itu
jawabannya. Meski pohon ini masih muda, yang sama dengan pohon yang sudah besar
adalah ciri daunnya.
“Kalau yang ini
pohon Nangka, Pak” Tedi berseru sambil menarikku ke arah pohon yang dia tunjukkan.
Pohon ini juga
nampak masih muda, namun tingginya hampir empat meter. Agus menyusul kami dan
segera mengambil posisi untuk menjepret gambar dari pohon yang disebut pohon
Nangka oleh Tedi.
“Lihat pak,
pohon yang ini namanya Nangka Belanda, dan yang ini Nangka biasa” Jelas Tedi
sambil menunjuk dua pohon yang menurutku terlihat sama. Alunan musik instrumen
yang kudengar mulai masuk pada bagian reff.
Tedi dan Agus
adalah dua muridku. Di tahun ini Tedi akan masuk kelas lima, dan Agus di kelas
tiga. Tedi yang periang (dan kelewat hiperaktif) memiliki wawasan luas serta
keingintahuan yang tinggi. Agus, anak yang memiliki daya ingat tinggi serta
sikap belajar yang baik ini sangat menyukai foto dan menggambar. Mereka berdua
adalah dua muridku yang selalu langganan setiap hari menemaniku mengisi waktu
liburan.
Aku sudah di
talang ini selama enam hari setelah Pengajar Muda sebelumku telah kembali
pulang ke Jakarta pada tanggal 29 Juni 2013. Belum ada kegiatan sekolah, karena
masih masa liburan. Hari-hari kuisi dengan bermain bersama muridku seperti
menggambar, bernyanyi ataupun menjelajah hutan.
Bila Aku dikirim
ke talang ini sebagai guru, bukan berarti Aku selalu menjadi guru untuk
masyarakat sini, khususnya murid-murid di sekolahku nanti Aku mengajar. Siapapun
bisa menjadi guru, tidak terkecuali muridku sendiri. Seperti kegiatan yang
kulakukan di pagi hari ini.
Aku bersama
kedua muridku. Mungkin kenampakan awalnya terlihat seperti seorang profesor
botani yang sedang mengamati tumbuhan jenis baru ditemani oleh dua asisten
ciliknya. Namun kenyataannya justru Aku sedang menemani dua profesor cilikku
dan Aku sendiri sebagai juru catat.
Anak-anak di
talang ini adalah manusia yang cerdas. Mereka tahu dan mampu melakukan banyak hal
yang Aku sendiri tidak. Mereka tidak belajar dari televisi, radio maupun
internet. Mereka belajar dari orang tua mereka langsung, wawasan yang
diturunkan secara turun temurun. Bila mereka ingin sebuah mainan, mereka tidak
merengek meminta dibelikan orang tua, seperti kebanyakan anak di kota. Mereka
membuatnya sendiri. Dari alam. Ada beberapa mainan yang mampu mereka buat
sendiri, mulai dari gangsing, layangan dan yang paling mutakhir adalah bebedilan[3].
Dan hampir semua anak di talang ini mulai dari yang masih kelas satu SD sudah
mampu membuat mainannya sendiri. Mandiri!
Baru seteguk coklat
panas rasanya Aku tinggal di talang ini, sudah banyak yang Aku pelajari dari
mereka. Bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan keberagaman. Tentang mengapa ada
kaya dan miskin. Mengapa ada tempat tinggal yang maju terdepan dan ada yang
masih tertinggal. Semua ada tujuannya. Agar kita manusia, selalu belajar. Guru
tidak harus melulu mengajarkan hal kepada murid. Terkadang guru juga dapat
belajar dari murid. Everyone is a
teacher, everyplace is a school.
-Catatan Pengajar Muda di Muara Enim-
Komentar
Posting Komentar