Langsung ke konten utama

Catatan Di Malam Yang Hening



Di suatu heningnya malam, suara jangkrik bersahutan. Nyamuk-nyamuk terbang melayang di atas kepala. Kepala dari seseorang yang sedang merasa candu akan heningnya malam. Ditemani secercah cahaya tentram lampu senter. Muncul beberapa memori dalam ingatan masa lalunya yang membuat dirinya berpikir kembali. Apa yang telah dilakukan di masa lalunya hingga sekarang.

Bukan sebuah kebetulan orang ini berada di dalam keheningan. Telah banyak jalan yang dilalui di masa hidupnya. Bukan hidup yang mudah tentu saja. Bagaimana tidak, manusia dilahirkan bersama sepaket karunia, tanggung jawab dan juga masalah. Soe Hok gie pernah berkata, “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda...”

Orang ini bukanlah orang istimewa yang banyak dikata oleh orang lain. Orang ini menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki struktur DNA, yang tersusun dari atom. Dan atom dari zarah, partikel terkecil atom, yang sama persis menyusun struktur DNA orang lain. Bahkan binatang, dan tumbuhan, partikel atomnya juga sama. Yang menentukan perbedaan di wujud akhirnya adalah Sang Pencipta. Bila kita sudah mengetahui hal ini, lantas mengapa kita sebagai manusia masih bersikap sombong dengan manusia lainnya? Dan bahkan orang ini berpikir bahwa manusia juga tidak punya hak untuk sombong dengan binatang, tumbuhan dan batu kerikil sekalipun.

Kita hanyalah kumpulan partikel atom yang kebetulan diciptakan oleh sang pencipta sebagai manusia. Bukan binatang, rumput liar, bahkan tanah liat.

Banyak manusia di luar sana yang terjangkit penyakit amnesia. Manusia lupa, bahwa dirinya memiliki nasib yang sama dengan alam raya bumi raya ini beserta isinya, yaitu sama-sama diciptakan, bukan tercipta dengan sendirinya.

Orang ini telah ditemui inspirasi. Inspirasi yang datang dari alam. Bukan inspirasi yang diperoleh dari acara televisi murahan yang hanya mementingkan rating. Juga bukan dari acara seminar tidak bermutu yang hanya mengutamakan profit dan ketenaran. Inspirasi ini datang, dibisikkan langsung oleh alam. Inspirasi ini memberikan ide kepada orang ini untuk selalu bersyukur. Bersyukur atas segala nikmat apapun yang dimilikinya hingga saat ini.

Membuat orang ini berpikir, bahwa manusia satu dengan manusia lainnya itu sama. Lantas mengapa kita harus menyombongkan diri atas harta, rupa atau kecerdasan?

Bila manusia dengan alam raya ini memiliki nasib sama yaitu diciptakan. Bukan tercipta sendirinya. Mengapa kita harus menyombongkan diri atas akal dan menggunakannya untuk menjarah dan merusak alam?

Masih banyak manusia amnesia di atas bumi ini, yang lupa bahwa bumi sudah terlalu baik memberinya tumpangan hidup dan tinggal selama masa hidupnya. Bumi yang bijaksana ini suatu saat akan kehabisan batas kesabarannya jika manusia tak kunjung sembuh dari penyakit amnesianya.

Orang ini terus menikmati candu atas inspirasi yang baru saja medatangi dan memberinya ide di dalam kepalanya. Ide untuk menjadi manusia yang tidak sombong dan selalu peduli.

-Catatan Pengajar Muda di Muara Enim-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...