Di suatu
heningnya malam, suara jangkrik bersahutan. Nyamuk-nyamuk terbang melayang di
atas kepala. Kepala dari seseorang yang sedang merasa candu akan heningnya
malam. Ditemani secercah cahaya tentram lampu senter. Muncul beberapa memori
dalam ingatan masa lalunya yang membuat dirinya berpikir kembali. Apa yang
telah dilakukan di masa lalunya hingga sekarang.
Bukan sebuah
kebetulan orang ini berada di dalam keheningan. Telah banyak jalan yang dilalui
di masa hidupnya. Bukan hidup yang mudah tentu saja. Bagaimana tidak, manusia
dilahirkan bersama sepaket karunia, tanggung jawab dan juga masalah. Soe Hok
gie pernah berkata, “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua,
dilahirkan tapi mati muda...”
Orang ini bukanlah
orang istimewa yang banyak dikata oleh orang lain. Orang ini menyadari bahwa
dirinya adalah manusia yang memiliki struktur DNA, yang tersusun dari atom. Dan
atom dari zarah, partikel terkecil atom, yang sama persis menyusun struktur DNA
orang lain. Bahkan binatang, dan tumbuhan, partikel atomnya juga sama. Yang
menentukan perbedaan di wujud akhirnya adalah Sang Pencipta. Bila kita sudah
mengetahui hal ini, lantas mengapa kita sebagai manusia masih bersikap sombong
dengan manusia lainnya? Dan bahkan orang ini berpikir bahwa manusia juga tidak
punya hak untuk sombong dengan binatang, tumbuhan dan batu kerikil sekalipun.
Kita hanyalah
kumpulan partikel atom yang kebetulan diciptakan oleh sang pencipta sebagai
manusia. Bukan binatang, rumput liar, bahkan tanah liat.
Banyak manusia
di luar sana yang terjangkit penyakit amnesia. Manusia lupa, bahwa dirinya
memiliki nasib yang sama dengan alam raya bumi raya ini beserta isinya, yaitu
sama-sama diciptakan, bukan tercipta dengan sendirinya.
Orang ini telah
ditemui inspirasi. Inspirasi yang datang dari alam. Bukan inspirasi yang
diperoleh dari acara televisi murahan yang hanya mementingkan rating. Juga bukan dari acara seminar tidak
bermutu yang hanya mengutamakan profit
dan ketenaran. Inspirasi ini datang, dibisikkan langsung oleh alam. Inspirasi
ini memberikan ide kepada orang ini untuk selalu bersyukur. Bersyukur atas
segala nikmat apapun yang dimilikinya hingga saat ini.
Membuat orang
ini berpikir, bahwa manusia satu dengan manusia lainnya itu sama. Lantas
mengapa kita harus menyombongkan diri atas harta, rupa atau kecerdasan?
Bila manusia
dengan alam raya ini memiliki nasib sama yaitu diciptakan. Bukan tercipta
sendirinya. Mengapa kita harus menyombongkan diri atas akal dan menggunakannya
untuk menjarah dan merusak alam?
Masih banyak
manusia amnesia di atas bumi ini, yang lupa bahwa bumi sudah terlalu baik
memberinya tumpangan hidup dan tinggal selama masa hidupnya. Bumi yang
bijaksana ini suatu saat akan kehabisan batas kesabarannya jika manusia tak
kunjung sembuh dari penyakit amnesianya.
Orang ini terus
menikmati candu atas inspirasi yang baru saja medatangi dan memberinya ide di
dalam kepalanya. Ide untuk menjadi manusia yang tidak sombong dan selalu
peduli.
-Catatan
Pengajar Muda di Muara Enim-
Komentar
Posting Komentar