Aku bukanlah
pujangga seperti Chairil Anwar, maupun penulis yang mencintai alam raya
layaknya Soe Hok Gie. Aku hanyalah pemuda yang merindukan kebahagiaan utopis
dengan cara menulis. Namun jangan bayangkan tulisanku dapat disandingkan dengan
tulisan Ayu Utami, Dewi Lestari bahkan Will Eisner sekalipun.
Namun satu hal
yang Aku yakini dalam setiap huruf dalam kata, kata yang menggenapi
kalimat-kalimat kecilku adalah wujud orisinalitas petik hidup dari kehidupanku.
Seperti satu tahun kedepanku yang nampak akan sama dengan satu tahun yang
dilalui Pengajar Muda sebelumku. Namun satu hal yang kuyakini akan menjadi hal
yang berbeda di tahunku, adalah tentang bagaimana cara menikmati setiap detik
dalam hari-hariku. Bukan tentang seperti apa ceritanya.
Layaknya petikan
‘Gymnopodie’ dari Depapepe, hidup itu berjalan lambat
ketika awal memulainya, kemudian begitu mengasyikkan begitu memasuki melodi
yang menyamankan gendang telinga. Sampai-sampai membuat waktu berjalan begitu
cepat dan ingin rasanya memulai kembali dari awal.
Itulah gambaran
dari awal Aku menginjakkan kaki di talang Tebat rawas, Rambang, Muara Enim. Kaku.
Ragu. Tanpa ide.
Sampai melodi
indah itu datang, yaitu ketika melihat senyum satu anak yang begitu murni.
Hanya satu. Satu anak yang membuatku yakin bahwa lagu ini akan memberikan efek
ketagihan pada sel otakku, seperti badai serotonin yang terjangkit akibat ecstaccy. Ketagihan untuk menikmati
setiap melodi lagu, hingga penghujung lagu mampu membuatku ingin memutarnya
kembali.
Dalam perjalanan setahun ini, Aku ingin
menemui melodi indah lainnya. Dan Aku juga ingin, ingin sekali, menjadi melodi
indah bagi talangku. Talang Tebat Rawas.
-Catatan
Pengajar Muda di Muara Enim-
Komentar
Posting Komentar