Langsung ke konten utama

Cacing dan Kotoran kesayangannya

-Ajahn Brahm-

Sebuah buku luar biasa berisikan 108 cerita yang menyentuh, menggelikan dan inspiratif. Cerita-cerita yang ada di dalamnya ada yang berasal dari kisah perjalanan hidup penulis sendiri dan sebagian merupakan pengalaman dari orang lain. Merupakan buku yang nikmat untuk dibaca pada waktu sedih, galau maupun bimbang. Kisah-kisahnya mampu membangkitkan semangat hidup dan membaginya kepada orang lain.

Terbagi dalam 11 bab yang masing-masing memiliki tema tersendiri. Disesuaikan dengan kebutuhan emosional anda sendiri.

Bab pertama, kesempurnaan dan kesalahan. Berisikan 10 cerita mengenai arti kesempurnaan bagi si penulis. Diceritakan dalam salah satu kisahnya tentang sebuah bangunan yang terdiri dari 1000 batu bata. 998 buah batu bata tersusun secara sempurna, dan dua batu bata yang tersusun jelek. Sang pembuat bangunan hendak menghancurkan bangunan tersebut demi membuat ulang bangunan yang lebih sempurna. Namun tanpa adanya dua bata tersebut, sungguh 998 bata yang lain jadi tidak terlihat keindahannya. Seperti makna kehidupan, tidak ada manusia yang mampu bersikap sempurna setiap saat. Pasti kita semua pernah melakukan kesalahan. Dari kesalahan tersebut kita belajar untuk bertindak sempurna. Banyak orang yang tertuju pada kejelekan orang lain, tapi kita justru mengabaikan 998 kebaikan yang dilakukannya. Penulis mencoba mengajak kita agar merenungkan kembali sifat kita ini untuk lebih fokus pada 998 kebaikan yang dilakukan orang bukan pada dua bata jelek itu.

Bab kedua, cinta dan komitmen. Apa bedanya pacaran dan menikah? Di sini penulis menjelaskan perbedaan tersebut dengan sebuah ibarat ayam. Dalam pacaran, ibarat ayam yang bertelur. Hari ini ayam bertelur besok dia bisa melakukannya lagi. Sedangkan menikah, ibarat ayam yang dipotong untuk dijadikan ayam panggang. Hari ini ia berkomitmen dipotong maka besok ia sudah menjadi hidangan dalam perut. Dan tak bisa diulangi tentunya. Itu hanya bagian dari cerita menurut pandangan si penulis mengenai cinta dan komitmen.

Bab ketiga, rasa takut dan rasa sakit. Apa sebenarnya yang menyebabkan rasa sakit itu? Jaringan saraf yang terluka? Atau sebenarnya itu hanya ada dalam pikiran kita saja. Ajahn Brahm menceritakan kisah sahabatnya yang mampu mencabut giginya sendiri. Saat ditanya apakah itu sakit? Sahabatnya menjawab, saat mengambil tang itu tidaklah sakit. Saat mengaitkan tang di giginya itu juga belum sakit. Waktu menarik gigilah saat sakit itu muncul, tapi setelah giginya tercabut rasa sakit itu hilang lagi. Rasa sakit dan takut semuanya pikiran kitalah yang mengolahnya. Seberapa besar rasa takut setiap orang memiliki perbedaan. Yang membedakan adalah sikap kita terhadap pikiran rasa sakit dan takut.

Bab keempat, kemarahan dan pemaafan. Marah, apalah gunanya marah itu? Ada dua orang yang mengalami suatu kejadian yang sama. Yang orang pertama menanggapinya dengan kemarahan dan satunya lagi hanya bersikap biasa saja. Seringkan kita menemukan kejadian seperti itu. Marah pun sama halnya seperti rasa sakit dan takut. Itu semua juga berasalnya dari pikiran kita. Berhentilah berfikir untuk marah, dan maafkanlah. Salah satu cara melatihnya yaitu dengan berfikir bahwa kesalahan orang yang membuat kita marah hanyalah merupakan susunan dua bata jelek diantara 998 bata yang sempurna. Semua orang mungkin berbuat salah, tapi jangan lupa juga bahwa manusia mampu memberikan kebaikan pada sesamanya.

Bab kelima, menciptakan kebahagiaan. Bahagia dan kesulitan selalu datang silih berganti. Terkadang kita merasakan kesulitan yang sangat berat. Waktu bergerak serasa sangat lambat dan kita sangat ingin melalui secepatnya rasa sulit tersebut. Dan terkadang kita merasa bahagia, seolah hidup begitu indah dan kita ingin keadaan itu terus berlanjut sampai akhir hayat. Tapi perlu kita sadari bahwa itu semua pasti berlalu. Jadi, bila sedang kesulitan. Sadari bahwa kebahagiaan pasti akan datang. Dan saat bahagia, kebahagiaan itu juga pasti akan berlalu. Nikmatilah hidup apa adanya jangan terlalu berlebihan, itulah cara menikmati kebahagiaan di masa sulit sekalipun.

Bab keenam, masalah kritis dan pemecahannya. Ada salah satu kisah di bab ini yang menceritakan tentang suatu keadan di jaman perang. Suatu kompi kecil tentara telah dikepung dari bebrabagai arah. Saat itu semua prajurit begitu takut dan gempar. Sang jendral Cuma bersikap biasa dan malah menyuruh semua prajuritnya duduk sambil minum teh. Selang beberapa waktu menunggu, ternyata tentara musuh tidak jadi mengepung dan kembali ke pangkalan. Dalam kisah di bab ini menjelaskan bahwa terkadang hidup tidak hanya bisa direspon dengan sikap menyerang maupun melarikan diri. Diam tak melakukan apapun juga salah satu pilihan. Tidak ada jalan lagi, terus mau apa. Ya diam saja menunggu momentum berikutnya.

Bab ketujuh, kebijaksanaan dan keheningan batin. Terkadang kita selalu menyamakan arti dari kebaikan hati dengan kebijaksanaan. Dalam bab ini diambil salah satu contoh kisah tentang kebaikan hati yang belum tentu merupakan kebijaksanaan. Kisah tentang orang tua yang ingin menyembuhkan indera pendengaran anaknya yang tuli sejak lahir. Berapapun biaya yang dibutuhkan semuanya diatasi oleh orangtua. Mereka tidak peduli masalah biaya, yang utama adalah kesembuhan anaknya. Namun saat sang anak normal setelah menjalani sekian banyak operasi dan terapi, si anak Justru marah-marah. Ternyata dirinya sudah sangat bahagia dengan ketuliannya akan bisingnya dunia jaman sekarang. Anak itu tidak ingin ikut menderita seperti kebanyakan orang yang mampu mendengar segala macam gosip yang menjatuhkan mental hidup. Di kisah ini kita melihat arti kebijaksanaan bukanlah kebaikan hati semata, namun apakah kebaikan tersebut juga merupakan kebutuhan.

Bab kedelapan, pikiran dan realita. Dalam bab ini menceritakan tentang kebanyakn orang yang sering terjebak dengan pikirannya sendiri. Kita boleh membenarkan pikiran tapi jangan sampai meyakini satu pikiran. Dalam kisah yang menggambarkan bab ini adalah kisah tentang tujuh orang buta yang dibawa oleh seorang raja untuk menyentuh tujuh bagian tubuh gajah. Setiap orang buta memegang bagia tubuh gajah yang berbeda-beda. Dan saat orang buta tersebut ditanya oleh sang raja bagaimana bentuk gajah itu, masing-masing memiliki jawaban yang berbeda. Mereka semua benar, tapi kurang sempurna. Saat orang buta pertama bilang gajah itu seperti ular hanya karena dia kebetulan menyentuh belalai gajah. Dan orang buta yang lain bilang gajah itu seperti semacam tank karena dia menyentuh bagian gading gajah. Semua kata orang buta itu benar, tapi akan lebih tepat bila argumen kesemua orang buta tersebut disatukan. Kebenaran yang dibawa setiap orang merupakan sebuah puzzle, yang akan membentuk sebuah gambar bila disatukan dengan puzzle kebenaran dari orang lain.

Bab kesembilan, nilai-nilai dan kehidupan spiritual. Di bab ini menceritakan tentang nilai-nilai dalam kehidupan, salah satunya adalah kebebasan. Makna kebebasan itu sendiri ada dua. Bebas untuk berkeinginan dan bebas dari rasa berkeinginan. Dalam salah satu kisahnya diceritakan. Bebas untuk berkeinginan contohnya adalah masyarakat di Negara liberal. Semua orang dibebaskan untuk apapun. Mereka bebas untuk berbelanja, bebas berbuat apapun. Namun pada akhirnya rasa bebas itu justru mengungkung mereka dalam keseharian yang penuh nafsu rasa ingin. Mereka terjebak dalam rasa ingin mereka sendiri. Berbeda dengan bebas dari rasa berkeinginan. Merekalah yang justru bebas dari arti bebas yang sebenarnya. Mereka tak terjebak dengan rasa ingin. Karena mereka telah terbebas dari rasa ingin itu sendiri. Mereka tidak memiliki nafsu ingin seperti orang-orang yang bebas untuk berkeinginan.

Bab kesepuluh, kebebasan dan kerendahan hati. Masih berkaitan dengan bab nilai-nilai di atas. Kisah-kisah yang termuat menceritakan tentang langkah apa dan langkah selanjutnya setelah kita memiliki kebebasan dari rasa ingin.

Bab terakhir, penderitaan dan pelepasan. Bab ini mengisahkan tentang cerita-cerita mengenai sikap terhdap kematian. Bahwa hidup ini begitu nikmat untuk disesali ataupun dibikin susah. Beberapa kisah tentang sikap saat menemui ajal atau kematian bagi orang lain. Bahwa hidup terdapat kematian juga, tak ada kematian maka kehidupan juga tidak menjadi nyata. Semua itu seimbang dan tidak perlu mengkhawatirkan bagaimana kematian menjemput. Karena ada kehidupan lagi setelah kematian, bukankah semua agama menyatakan hal seperti itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...