Kesuksesan Adalah Bagian Dari Nilai Kebahagiaan
“Everyone dreaming to become success, but after human get the success they are still not get the happiness. Because success is the little part of the happiness”
Aku dilahirkan di kota yang megah dan modern, Jakarta. Sejak kecil Aku telah mendapatkan berbagai macam fasilitas ataupun mainan yang tak didapat oleh anak-anak di desa. Aku dibesarkan dengan hanya memiliki seorang Ibu yang yang sangat sibuk. Berangkat kerja dari pagi buta, dan pulang tengah malam. Sampai Aku terkadang lupa bagaimana rupa Ibuku. setiap pagi sebelum Aku bangun pagi, Ibu sudah berangkat kerja. Dan saat malam Aku tidur Ibu masih belum juga pulang sampai Aku tidur terlelap, akhirnya Ibu pulang. Aku yang masih kecil tidak tahu apa-apa. Tidak tahu apa yang harus kuperbuat, atau apa yang harus kukatakan pada Ibu. Ibu menafkahi keluarga kami, Ibu adalah seorang wanita tangguh yang sangat hebat. Aku sayang Ibu dan Aku yakin Ibu juga sayang Aku.
Aku masih ingat betul, itu saat Aku berumur 5 tahun. Saat Aku masih sekolah TK. Ibu mengajakku bermain di luar. Kita naik mobil bersama. Piknik bareng, kita bersenang-senang. Saat itulah, momen yang begitu indah yang Aku rasakan sewaktu Aku kecil. Aku tak tahu bagaimana mendeskripsikan kata bahagia saat itu. Yang Aku tahu Aku sangat menikmati momen tersebut.
Hingga hari berikutnya Aku merasakan kebahagiaan sebagai suatu rasa candu. Aku selalu merengek pada Ibu untuk membawaku pergi keluar, untuk bermain bersama lagi. Aku begitu haus akan rasa nikmatnya bahagia itu. Padahal Ibu juga mesti bekerja pada esok harinya. Aku tak mau tahu, Aku hanya ingin keinginanku terpenuhi. Saat itulah Ibuku yang penuh kesabaran selalu berusaha meluangkan waktunya untukku. Di tengah kesibukkannya Ibu mencari celah waktu untuk mengajakku pergi keluar. Dan kadang Ibu membawaku bermain berkunjung di kantornya agar kami tetap bisa bersama. Hingga suatu hari, Aku mengatakan pada Ibuku, agar Ibu mau menemaniku bermain setiap hari seperti ini. Ibu memandangku lama. Menatap mataku, dan akhirnya mengiyakan. Aku begitu senang dengan kasih sayang yang diberikan Ibu padaku. Setiap hari Aku bermain bersama Ibu, keluar makan siang bersama. Menjemputku pulang sekolah. Semua kegiatan yang tidak pernah kurasakan saat ku masih balita. Yang Aku tidak tahu saat itu, Ibu melakukan semua itu dengan suatu pengorbanan. Yaitu mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Bertahun-tahun ku hidup bersama Ibuku. Beliau menyekolahkanku dari sekolah dasar hingga Aku SMA. Begitu banyak hal yang diajarkan oleh Ibu kepadaku mengenai kehidupan. Tentang kerja keras, menghargai sesama manusia, dan yang selalu diajarkan berulang-ulang oleh Ibu adalah tentang membahagiakan orang lain. Kata Ibu, bila kamu memperoleh kebahagiaan maka bagilah kebahagiaanmu itu dengan orang yang kamu cintai dan pada orang yang mencintai kamu, di sini Ibu menyebutnya keluarga. Sudahkah Aku membahagiakan Ibuku? Ibu selalu membahagiakan Aku, namun apakah Aku telah membalas budinya.
Itu adalah ajaran yang telah Ibu sampaikan padaku sejak Aku kecil. Kini Aku telah menginjak masa SMA. Saat SMA, Aku suka sekali naik gunung. Aku ikut organisasi pecinta alam, bersama teman-temanku dari kecil. Kita sering kemah bareng, hampir tiap bulan kami selalu mendaki. Ibu sangat mendukung kegiatanku ini, karena kata Ibu, daripada jadi anak SMA yang suka hura-hura lebih baik mencari kegiatan yang positif seperti ini.
Setahun sudah Aku di SMA, saat ini Aku kelas dua SMA, pada waktu itu jugalah Ibu juga sedang mengalami sakit berat. Sebuah gumpalan daging kecil tumbuh di tubuhnya. Makin lama daging kecil tersebut berubah menjadi benih kanker. Hampir tiap minggu Ibu dikemo, agar kanker dalam tubuhnya dapat disembuhkan.
Aku yang masih remaja saat itu, tidak terlalu banyak ambil pusing. Segala urusan penyembuhan Ibu kuserahkan pada dokter. Aku masih sering berpetualang dengan teman-teman meninggalkan Ibuku sendiri.
Dalam organisasiku, Aku memiliki tanggung jawab sebagai koordinator lapangan, bertanggung jawab terhadap rekan-rekanku selama proses pendakian. Dari survey tempat pendakian, pemilihan jalur pendakian, hingga mengkoordinir bagain logistik dan perlengkapan agar selalu siap untuk memenuhi kebutuhan rombongan pendaki. Aku ingat Pendakianku yang terakhir kalinya, gunung Lawu, menjadi gunung terkahir yang kudaki. Karena puncak gunung itu membuatku teringat akan kejadian yang tak bisa kulupakan seumur hidupku.
Pada waktu Aku naik kelas tiga SMA, saat itulah masa terakhir kepengurusanku di pecinta alam. Kami akan mendaki gunung Lawu untuk melakukan kegiatan serah terima jabatan. Ini adalah prosesi ritual yang sakral di organisasi kami. Di mana kami mendaki puncak gunung bersama. Di puncak gunung ini kami melakukan upacara formal dengan dibumbui sedkit peng-gojlok-kan pada adik kelas kami. Ini adalah tradisi di pecinta alam mengenai pembangunan mental dan fisik pada generasi penerus berikutnya. Kami melakukan hal tersebut untuk mempersiapkan generasi berikutnya siap menampuk tanggung jawab kepengurusan berikutnya yang akan lebih keras dan makin penuh tantangan. Ini adalah program terkahirku di dalam kepengurusan organisasi pecinta alam.
Kami mendaki puncak Lawu selama empat hari tiga malam. Acara serah terima jabtan kami berlangsung dengan sukses dan lancar. Hingga hari terakhir kami kembali ke basecamp di bawah kaki gunung untuk menginap semalam lagi sebelum pulang ke rumah pada keesokkan harinya. Saat di basecamp itulah Aku baru saja membuka handphoneku, karena selama di gunung Aku mematikan handphoneku agar segala kegiatan di lapangan tidak terganggu dengan urusan luar. Aku mendapat pesan di handphone dari keluargaku bahwa Ibu sedang dalam kondisi kritis.
Aku segera pulang, meninggalkan para rekanku di sana. Menitipkan para rombongan pada teman-teman seangkatanku. Aku menumpang truk yang bertujuan kearah kotaku. Empat jam akhirnya Aku sampai di rumah. Saat itu waktu maghrib, langit begitu ungu. Aku tak pernah lagi melihat warna langit seperti itu sampai sekarang. Aku masuk kedalam kamar dimana Ibuku sedang berbaring. Kanker ditubuh Ibu sudah menjalar hingga dua pertiga bagian tubuhnya. Salah satunya menyerang bagian pita suara. Namun Ibu masih bisa sedikit berbicara walaupun sangat pelan dan penuh serak. Seperti suara orang tercekik bila Ibu berbicara. Sudah hampir 3 bulan sejak Ibu memasuki stadium empat pada penyakit kankernya, Ibu tak pernah berbicara padaku. Ibu selalu di rumah sakit, hanya dokter dan perawat yang menjaganya yang berbicara pada Ibu. Bukan karena Ibu yang tak ingin bicara padaku, tapi Aku yang terlalu sibuk sendiri melupakan keberadaan Ibuku, sampai-sampai mengajak bicarapun Aku tidak melakukannya. Anak macam apa Aku ini. Saat kupandang kondisi Ibuku kini, dalam keadaan yang begitu lemas, dan layu seperti tanaman keriput yang akan mati, Aku begitu sedih melihat Ibu. Hatiku seperti tersayat oleh pisau tajam. Yang Aku bayangkan saat itu adalah saat Aku masih lima tahun, bermain bersama Ibuku, makan siang bersama, menjemputku pulang sekolah, saat Ibu mengundurkan diri dari pekerjaannya demi Aku, mengakibatkan kondisi ekonomi keluarga kami tiba-tiba menurun drastis. Aku mendekatkan diriku pada wajah Ibu, kukatakan maaf pada Ibu, “Bu masih ingat tidak waktu Aku kecil, Ibu sering mengajakku bermain keluar bersama, Ibu memberikanku kebahagiaan. Hingga Ibu mengorbankan pekerjaan yang Ibu cintai. Aku sangat berterima kasih atas pengorbanan Ibu. Aku minta maaf” Aku tidak bisa menahan isak tangisku, air mataku jatuh dari kelopak mataku. Aku mengucapkan kalimat itu sambil terisak menangis. Hati begitu perih seperti tertususk ratusan jarum. Mengapa Aku sampai saat saat terakhir masih belum bisa membahagiakan Ibuku. Ibu mengangkat wajahku dengan tangannya yang rapuh dengan penuh gemetaran. Ibu memandangku dengan tatapan mata yang bercahaya. Ibu memberiku wejangan terkahir, “jadilah lelaki yang sukses nak, dan jangan pernah lupa selalu bahagiakan keluargamu”
Itulah kalimat terakhir Ibuku. Ibu meninggal dengan memberikan tongkat estafet harapannya kepadaku. Aku mengerti ajaran yang selalu berusaha disampaikan oleh Ibu kepadaku. Mengenai kesuksesan hidup tidak berarti memiliki harta yang melimpah. Tapi sukses adalah mampu memberikan kebahagiaan pada orang-orang yang kita cintai. Percuma kita memiliki rumah mewah, mobil mewah dan uang berlimpah, tapi orang yang kamu sayang tidak mampu menikmati bahagia. Bahagiakanlah mereka yang kamu sayangi, dan juga mereka yang menyayangimu. Karena sukses itu adalah bagian dari kebahagiaan hati.
Cerita Inspirasi by: Gunawan Ridwan
Komentar
Posting Komentar