Pada awal pertama galaksi terbentuk. Saat itu masih belum ada manusia yang tinggal di planet Bumi. Jangankan ditinggali, planet bumi pada saat itu saja belum diketahui apakah bisa ditinggali oleh manusia atau tidak. Ketika itu Tuhan mengirimkan empat malaikat untuk men-survey planet Bumi. Mereka dikirim untuk mengetahui apakah planet bumi pantas untuk ditinggali oleh manusia atau tidak. Dan berangkatlah empat malaikat itu ke bumi.
Empat malaikat tersebut sampai ke bumi, tapi mereka berempat terpencar di setiap belahan bumi. Malaikat yang pertama mendarat di atas lautan. Sang malaikat pertama tersebut masuk kedalam air laut, mengamati bentuk laut itu, merasakan dinginnya air laut. Begitu basah dan dingin.
Malaikat yang kedua sampai di atas sebuah gunung berapi yang aktif. Malaikat mengamati lahar yang meluap keluar dari gunung tersebut. Merasakan betapa panas dan gerahnya tempat tersebut.
Malaikat ketiga turun di padang pasir yang begitu luas. Malaikat berjalan mengitari hamparan padang pasir yang begitu coklat kemerahan itu. Hanya ada warna pasir dan birunya langit yang dipisahkan oleh garis cakrawala. Malaikat merasakan bahwa tempat itu begitu kering dan membosankan.
Malaikat keempat baru saja tiba di bumi. Malaikat turun di atas sebuah padang rumput yang begitu luas. Di sampingnya tepat mengalir sebuah aliran sungai kecil yang begitu bening. Airnya sejuk dan menyegarkan. Sang malaikat merasa sangat tentram hatinya di sana dan sempat menikmati indahnya alam bumi tersebut sampai-sampai lupa waktu untuk kembali laporan kepada Tuhan.
Saat keempat malaikat kembali ke hadapan Tuhan. Tuhan menanyai para malaikat satu persatu apakah bumi layak untuk ditinggali oleh manusia.
Malaikat pertama menjawab, “Tidak bisa ya Tuhan. Bumi ini hanya berisikan air saja. Bagaimana manusia bisa hidup di dalamnya, sedangkan manusia saja tidak mampu bernafas di dalam air.”
Saat mendengar jawaban dari malaikat pertama, malaikat kedua menyela, “Bumi terdiri dari air bagaimana?? Bumi adalah planet yang berisikan lahar api yang panas. Jangankan tidak bisa bernafas. Manusia akan langsung meleleh saat turun ke bumi.”
Malaikat ketiga langsung menimpali, “Ah lebay kamu, mana mungkin manusia langsung meleleh saat sampai di bumi. Memang bumi panas, tapi itu cuma berupa hamparan pasir doank. Mungkin manusia akan membutuhkan beberapa waktu agar dapat beradaptasi, walaupun saya sendiri sangsi manusia tidak akan bertahan lama hidup di bumi yang panas dan membosankan itu.”
Malaikat keempat langsung berusaha membela manusia agar hidup di bumi, “ kalian bertiga ini ngelantur ya?? Bumi itu planet yang indah. Manusia akan hidup nyaman dan tentram di bumi. Tidak perlu mengkhawatirkan dinginnya air, kepanasan karena api. Bumi itu tempat yang sejuk.”
Dan akhirnya keempat malaikat malah bertikai sendiri, saling mempertahankan argument masing-masing. Tidak ada yang mau saling mengalah. Mereka menganggap diri merekalah yang paling benar.
Akhirnya Tuhan menghentikan perdebatan diantara malaikat itu. “Kalian semua benar, tidak ada yang salah. Planet bumi memang berisikan air yang begitu luas. Tapi juga memiliki api lahar dari gunung berapi, hamparan padang pasir yang luas. Dan juga hamparan padang rumput yang sejuk dengan dialiri aliran sungai yang menyegarkan. Kalian semua memiliki informasi dari hasil penemuan kalian. Kalian semua benar karena kalian semua memang Aku kirimkan ke planet bumi, planet yang sama, Bumi bukanlah tempat yang jelek-jelek amat, walaupun ada beberapa tempat yang tidak bisa ditinggali oleh manusia. Semua informasi dari kalian semuanya berharga, dan bila disatukan akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar.”
Dari cerita ini, dapat kita pelajari dari kehidupan sekarang ini, banyak orang yang dengan ngototnya menjaga kebenaran yang dimilikinya. Itu benar, tapi juga jangan diyakini sepenuhnya. Karena kebenaran itu seperti puzzle. Di mana setiap orang memilki puzzle kebenaran masing-masing. Saat kita dengan penuh toleransi menerima kebenaran dari orang lain, kita mulai menyatukan puzzle-puzzle kebenaran itu menjadi satu kebenaran yang lengkap. Seperti sebuah balok yang terdiri dari enam sisi. Kita tidak akan tahu bahwa benda itu merupakan sebuah balok bila hanya dilihat dari satu sisi saja. Kita harus melihat balok itu dari enam sisi yang berbeda.
Cerita Inspirasi by: Gunawan Ridwan dimodifikasi dari cerita "Raja dan Tujuh Orang Buta"
Komentar
Posting Komentar