Langsung ke konten utama

Kisah Empat Malaikat Mengenai Kebenaran

Pada awal pertama galaksi terbentuk. Saat itu masih belum ada manusia yang tinggal di planet Bumi. Jangankan ditinggali, planet bumi pada saat itu saja belum diketahui apakah bisa ditinggali oleh manusia atau tidak. Ketika itu Tuhan mengirimkan empat malaikat untuk men-survey planet Bumi. Mereka dikirim untuk mengetahui apakah planet bumi pantas untuk ditinggali oleh manusia atau tidak. Dan berangkatlah empat malaikat itu ke bumi.

Empat malaikat tersebut sampai ke bumi, tapi mereka berempat terpencar di setiap belahan bumi. Malaikat yang pertama mendarat di atas lautan. Sang malaikat pertama tersebut masuk kedalam air laut, mengamati bentuk laut itu, merasakan dinginnya air laut. Begitu basah dan dingin.

Malaikat yang kedua sampai di atas sebuah gunung berapi yang aktif. Malaikat mengamati lahar yang meluap keluar dari gunung tersebut. Merasakan betapa panas dan gerahnya tempat tersebut.

Malaikat ketiga turun di padang pasir yang begitu luas. Malaikat berjalan mengitari hamparan padang pasir yang begitu coklat kemerahan itu. Hanya ada warna pasir dan birunya langit yang dipisahkan oleh garis cakrawala. Malaikat merasakan bahwa tempat itu begitu kering dan membosankan.

Malaikat keempat baru saja tiba di bumi. Malaikat turun di atas sebuah padang rumput yang begitu luas. Di sampingnya tepat mengalir sebuah aliran sungai kecil yang begitu bening. Airnya sejuk dan menyegarkan. Sang malaikat merasa sangat tentram hatinya di sana dan sempat menikmati indahnya alam bumi tersebut sampai-sampai lupa waktu untuk kembali laporan kepada Tuhan.

Saat keempat malaikat kembali ke hadapan Tuhan. Tuhan menanyai para malaikat satu persatu apakah bumi layak untuk ditinggali oleh manusia.
Malaikat pertama menjawab, “Tidak bisa ya Tuhan. Bumi ini hanya berisikan air saja. Bagaimana manusia bisa hidup di dalamnya, sedangkan manusia saja tidak mampu bernafas di dalam air.”

Saat mendengar jawaban dari malaikat pertama, malaikat kedua menyela, “Bumi terdiri dari air bagaimana?? Bumi adalah planet yang berisikan lahar api yang panas. Jangankan tidak bisa bernafas. Manusia akan langsung meleleh saat turun ke bumi.”
Malaikat ketiga langsung menimpali, “Ah lebay kamu, mana mungkin manusia langsung meleleh saat sampai di bumi. Memang bumi panas, tapi itu cuma berupa hamparan pasir doank. Mungkin manusia akan membutuhkan beberapa waktu agar dapat beradaptasi, walaupun saya sendiri sangsi manusia tidak akan bertahan lama hidup di bumi yang panas dan membosankan itu.”

Malaikat keempat langsung berusaha membela manusia agar hidup di bumi, “ kalian bertiga ini ngelantur ya?? Bumi itu planet yang indah. Manusia akan hidup nyaman dan tentram di bumi. Tidak perlu mengkhawatirkan dinginnya air, kepanasan karena api. Bumi itu tempat yang sejuk.”

Dan akhirnya keempat malaikat malah bertikai sendiri, saling mempertahankan argument masing-masing. Tidak ada yang mau saling mengalah. Mereka menganggap diri merekalah yang paling benar.

Akhirnya Tuhan menghentikan perdebatan diantara malaikat itu. “Kalian semua benar, tidak ada yang salah. Planet bumi memang berisikan air yang begitu luas. Tapi juga memiliki api lahar dari gunung berapi, hamparan padang pasir yang luas. Dan juga hamparan padang rumput yang sejuk dengan dialiri aliran sungai yang menyegarkan. Kalian semua memiliki informasi dari hasil penemuan kalian. Kalian semua benar karena kalian semua memang Aku kirimkan ke planet bumi, planet yang sama, Bumi bukanlah tempat yang jelek-jelek amat, walaupun ada beberapa tempat yang tidak bisa ditinggali oleh manusia. Semua informasi dari kalian semuanya berharga, dan bila disatukan akan memberikan manfaat yang jauh lebih besar.”


Dari cerita ini, dapat kita pelajari dari kehidupan sekarang ini, banyak orang yang dengan ngototnya menjaga kebenaran yang dimilikinya. Itu benar, tapi juga jangan diyakini sepenuhnya. Karena kebenaran itu seperti puzzle. Di mana setiap orang memilki puzzle kebenaran masing-masing. Saat kita dengan penuh toleransi menerima kebenaran dari orang lain, kita mulai menyatukan puzzle-puzzle kebenaran itu menjadi satu kebenaran yang lengkap. Seperti sebuah balok yang terdiri dari enam sisi. Kita tidak akan tahu bahwa benda itu merupakan sebuah balok bila hanya dilihat dari satu sisi saja. Kita harus melihat balok itu dari enam sisi yang berbeda.

Cerita Inspirasi by: Gunawan Ridwan dimodifikasi dari cerita "Raja dan Tujuh Orang Buta"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...