Langsung ke konten utama

Balasan Bagi Si Tukang Ngeyel


Tercatat dalam sejarah, seorang anak berumur lima tahun. Dia sangat aktif dalam beraktivitas, cerewet dan tak mau diam. Sayang, dia adalah anak yang kurang mampu bersosialisasi, bahkan ke ibunya sekalipun. Anak tersebut sangat suka membantah perkataan ibunya, dan tak pernah mau menurut. Satu hal yang paling di’gemas’kan oleh ibu sang anak, si anak selalu membantah semua perkataan sang ibu. Membantah semua kata yang keluar, seolah itu adalah sesuatu yang salah pikir si anak. Dan bila anda perlu tahu, anak berusia lima tahun tersebut adalah saya.

Saya Ridwan Gunawan, 21 tahun sudah saya hidup di dunia ini. Namun baru saya sadari kepribadian saya belakangan ini (3-5 tahun sebelumnya), baik buruknya tingkah laku saya, sifat saya ke orang lain dan karakter saya. Seperti paragraf di atas, saya lima tahun yang lalu adalah wujud dari anak berusia lima tahun di cerita di atas.

Saya mulai berusaha memperbaiki karakter saya, terutama sifat ‘Tukang ngeyel’ saya yang sudah cukup akut. Beberapa bulan ini saya sedang berusaha menjadi manusia pendengar yang baik, mendengarkan semua masukkan, kritikan dan saran dari orang lain. Menjadi orang yang sabar (itu kata mereka), dan saya anggap proses mendengarkan itu seperti membaca buku, memang sedikit pasif di luar tapi sebetulnya aktif di pikiran dan di hati.

Salah satu pengalaman yang cukup ‘menggesek hati’ adalah, saya sering mengikuti kegiatan diskusi dan debat dalam topik yang beraneka ragam. Dalam diskusi tersebut, saya berusaha sebaik mungkin mendengarkan setiap lisan yang diucapkan peserta lainnya. Terkadang saya juga memberikan pendapat saya (tanpa berusaha mengkritik pendapat orang lain dan memberikan masukkan yang orisinil ke peserta lain).

Ternyata, pada saat ada dua-tiga peserta yang mengkritik pendapat saya, hati saya masih bergejolak untuk mematikan balik argumen mereka. Namun itu saya tahan sebaik mungkin, karena bila saya ‘bantah’, maka saya belum berhasil memperbaiki diri saya (walaupun dalam situasi argumen orang yang ditujukan pada saya salah, saya anggap tak ada manusia yang 100 persen benar, termasuk saya sendiri).

Maka saya biarkan mereka menjatuhkan saya, dan saya cuma berpikir, seperti inilah dulu saya membantah perkataan ibu saya, yang padahal tidak sepenuhnya perkataan ibu saya salah dan tidak sepenuhnya perkataan saya benar.


Tulisan ini hanya merupakan refleksi dari pemikiran batin saya, semoga bermanfaat J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...