Saya Ridwan Gunawan, 21 tahun sudah saya hidup di dunia ini. Namun baru saya sadari kepribadian saya belakangan ini (3-5 tahun sebelumnya), baik buruknya tingkah laku saya, sifat saya ke orang lain dan karakter saya. Seperti paragraf di atas, saya lima tahun yang lalu adalah wujud dari anak berusia lima tahun di cerita di atas.
Saya mulai berusaha memperbaiki karakter saya, terutama sifat ‘Tukang ngeyel’ saya yang sudah cukup akut. Beberapa bulan ini saya sedang berusaha menjadi manusia pendengar yang baik, mendengarkan semua masukkan, kritikan dan saran dari orang lain. Menjadi orang yang sabar (itu kata mereka), dan saya anggap proses mendengarkan itu seperti membaca buku, memang sedikit pasif di luar tapi sebetulnya aktif di pikiran dan di hati.
Salah satu pengalaman yang cukup ‘menggesek hati’ adalah, saya sering mengikuti kegiatan diskusi dan debat dalam topik yang beraneka ragam. Dalam diskusi tersebut, saya berusaha sebaik mungkin mendengarkan setiap lisan yang diucapkan peserta lainnya. Terkadang saya juga memberikan pendapat saya (tanpa berusaha mengkritik pendapat orang lain dan memberikan masukkan yang orisinil ke peserta lain).
Ternyata, pada saat ada dua-tiga peserta yang mengkritik pendapat saya, hati saya masih bergejolak untuk mematikan balik argumen mereka. Namun itu saya tahan sebaik mungkin, karena bila saya ‘bantah’, maka saya belum berhasil memperbaiki diri saya (walaupun dalam situasi argumen orang yang ditujukan pada saya salah, saya anggap tak ada manusia yang 100 persen benar, termasuk saya sendiri).
Maka saya biarkan mereka menjatuhkan saya, dan saya cuma berpikir, seperti inilah dulu saya membantah perkataan ibu saya, yang padahal tidak sepenuhnya perkataan ibu saya salah dan tidak sepenuhnya perkataan saya benar.
Tulisan ini hanya merupakan refleksi dari pemikiran batin saya, semoga bermanfaat J
Komentar
Posting Komentar