Langsung ke konten utama

Ironi Sebuah Bangsa Yang Katanya Kaya


Di tengah terik matahari yang menyengat, di jalanan besar di kota Yogyakarta. Ketika itu tepat di lampu merah, semua kendaraan berhimpit-himpitan saling ingin mendahului. Mobil, motor, bis dan hingga truk bertumpuk menjadi satu di jalan besar yang tampak tak muat lagi jika di tambah satu mobil sekalipun. Di tengah hiruk pikuk macetnya kendaraan, seorang pengemis meminta-minta di bawah lampu merah. Pengemis tersebut adalah seorang pemuda yang tampak masih sehat dan segar fisiknya.

Sungguh ironi memang, bangsa kita yang terkenal sebagai jamrud khatulistiwa, Negara maritim, Negara agrikultur dan sebutan lainnya yang cukup membanggakan kita, ternyata masih banyak ditemukan masyarakat mental pecundang, yaitu menjadi ‘peminta-minta’.

Saya tak mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa pecundang. Negara kita, Negara Indonesia adalah Negara yang hebat. Dua pertiga teritorial Negara kita adalah perairan, dan kawasan Negara kita merupakan lingkar cincin gunung berapi, yang mengakibatkan tanah kita subur dan sangat cocok untuk bercocok tanam. 

Kita juga memiliki sumber daya alam yang begitu melimpah; emas, perak, timah, cengkeh, sawit, dan lainnya.
Sumber daya manusianya, juga tak kalah. Kita memiliki masyarakat yang sangat cerdas. Sudah banyak medali emas yang di’sabet’ oleh warga Negara kita di olimpiade-olimpiade sains di tingkat internasional. Beberapa organisasi elit di tingkat dunia pun juga terdapat warga kita, di NASA dan di World Bank contohnya.

Tapi mengapa masih terdapat warga dengan mental pecundang di Negara kita?
Pernah suatu kali saya bercakap dengan beberapa orang (yang terdidik), mereka kebanyakan menyebutkan permasalahan ini timbul karena pihak pemerintah kurang handal dalam ‘Menggarap’ hukum mengenai kemiskinan yang terjadi di Negara kita ini, baik kemiskinan harta maupun yang terpenting kemiskinan hati.

Bila ditilik dari seberapa besar potensi bangsa kita, dari segi SDA (Sumber Daya Alam) yang melimpah dan SDM (Sumber Daya Manusia) yang telah teruji ke tingkat internasional. Mengapa masih ada warga yang mengemis? Jawabannya adalah mental, mau sehebat apapun potensi Negara kita, secerdas apapun bangsa kita, bila sudah menyangkut mental lemah, tak berdaya, tak mau maju, berarti cukup sudah jalannya Negara kita.

Pengetahuan
Bila dilihat secara terpisah, dapat diketahui bahwa sebagian masyarakat menganggap masih adanya kemiskinan di Negara kita adalah akibat pemerintah yang kurang tegas dalam menerapkan regulasinya. Dan dari sebagian masyarakat lainnya menilai kemiskinan datang dari mental si masyarakat sendiri.

Mereka masih muda, masih kuat tapi memilih menjadi pengemis lantaran hal tersebut pekerjaan yang mudah dilakukan. Hal yang kedua ini lebih berkaitan dengan mental si pengemis itu sendiri, dia memilih untuk mengemis, karena dari sisi negaranya sendiri memberi celah dan dari sisi sosialpun masih kurang kuat dalam menekan para pengemis berkeliaran.

Namun,  bila dilihat secara menyeluruh, hal tersebut berkaitan erat dengan pendidikan. Dilihat dari pola masyarakatnya dulu. Kita adalah bangsa yang sangat kurang dalam hal membaca. Mengapa membaca? Membaca, adalah kegiatan yang dapat menambah ilmu pengetahuan kita, wawasan dan ilmu. Semakin banyak pengetahuan yang kita ketahui semakin terdidiklah kita, dan orang yang terdidik tentunya tak mau menjadi peminta-minta.

Dengan menjadi manusia yang berakal dan berilmu, mestinya dapat kita sadari bahwa hidup ini menjadi lebih mudah, karena sudah tahu ilmunya. Orang menjadi pengemis karena mereka menganggap ‘mengemis’ adalah pekerjaan yang paling mudah diantara pekerjaan lainnya.

Dari pemerintah juga sama. Pemerintah terdidik harusnya dapat menerapkan regulasi mengenai kemiskinan dengan tegas, tanpa kompromi. Dari kedua sisi saling timbal balik positif didasari oleh pengetahuan yang baik dan kesadaran penuh akan pentingnya kemajuan bangsa.

Hambatan untuk menjadi masyarakat terdidik
Pola yang menghambat pendidikan salah satunya adalah menonton televisi (TV). Siapa bilang menonton TV itu tidak boleh? Tentu saja boleh, namun sadarkah kita, banyak hal-hal yang tidak sepatutnya yang kita tiru dari TV? Gaya bicara kita, gaya berpakaian, sampai pola hidup yang sangat konsumtif kita dapat dari TV. Kita menjadi manusia persis seperti yang ditampilkan di TV.

Bukankah dari TV terkadang kita juga dapat memperoleh pengetahuan? Memang benar, namun pengetahuan yang didapat dari TV hanyalah pengetahuan permukaan saja, sangat jauh berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh dari membaca buku. Dan ironinya, banyak orang yang mengaku telah menjadi pakar akan suatu bidang, padahal ilmu yang dimiliki diperoleh dari TV, yang berarti pakarnya hanya pakar ilmu luarnya saja.

Dari perilaku inilah, sikap malas kita peroleh. Ada juga orang-orang terdidik yang akhirnya memilih menjadi pengemis. Karena sesungguhnya ilmu yang mereka miliki masih belum utuh, akal pikiran mereka jalan, namun pilihan kembali jatuh pada jalan mengemis. Itu karena sikap malas, tidak mau repot, jalan yang akhirnya dipilih adalah mengemis. Coba saja dia tahu, bahwa dengan akalnya dia mampu membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Berarti pengetahuan yang dia miliki masih ‘cetek’, alias hanya tampak terdidik di permukaannya saja. Jadi, banyaklah membaca dan kurangi menonton TV.

Agama
Sebenarnya di setiap agama, kita diajarkan untuk memberi daripada tangan di bawah. Namun bagaimana dengan bangsa kita? Apakah kita beragama? Ya, kita beragama. Namun mengapa masih saja ada orang beragama yang meminta?

Kembali lagi ke masalah pengetahuan. Mereka beragama tapi apakah mereka benar-benar mempelajari agama mereka? Mendalami apa yang diajarkan oleh agama mereka.

Agama di sini bukan sebagai solusi alternatif dalam mengatasi kemiskinan. Tapi, agama dan pengetahuan menjadi pelengkap satu sama lain. Seperti kata Albert Einstein, “Pengetahuan tanpa agama itu seperti orang cacat dan agama tanpa pengetahuan itu seperti orang bodoh”

Banyak juga Negara maju yang bangsanya tak beragama, bahkan sampai ada yang tak mengenal Tuhan. Dilihat apakah mereka sukses, iya mereka sukses. Namun tanpa agama, membuat mereka menapaki jalan kesuksesan menjadi tidak lurus.

Mereka maju, namun pada prosesnya membenarkan segala cara. Pada akhirnyapun juga dapat ditemukan Negara yang sedang menuju kehancurannya, karena fundamental spiritual mereka yang lemah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...