Sosok gadis cilik yang riang itu muncul kembali. Dia berlari kecil menuju arahku. Semuanya tampak buram, jalanan, pepohonan, gedung sekolah, semuanya menjadi buram. Tak ada yang terlihat dengan jelas, kecuali gadis kecil itu. Ya, gadis yang riang itu kini berdiri di hadapanku. Matanya yang berwarna kebiruan tampak tajam sekaligus penuh hasrat semangat menatap mataku. Hidungnya yang mungil, rambutnya yang hitam kecoklatan dengan panjang sebahu lurus tergurai sedikit mengembang. Gadis cilik setengah Indo-setengah Jerman itu berusia sekitar 8 tahun. Dia mengenakan seragam SD nya, dengan rok mungilnya di atas lutut. Gadis itu menunggu responku atas kedatangannya.
Saat ku tersadar, ternyata tubuhku kembali seperti saat aku SD. Tubuhku mengecil, kulihat sekilas tangan dan kakiku yang mungil, tubuh siapa ini, sesaat kuingat kembali. Aku kembali ke masa kecilku. Aku sedang di dalam mimpi. Mimpi bersama seorang gadis yang sudah belasan tahun tidak pernah kuingat wajah maupun namanya, Dizza Arifa.
Gadis yang selalu riang, jago olah raga khususnya lari. Dia selalu mengajakku berlomba lari dengannya, padahal tahu aku selalu kalah dengannya. Sesekali dia mengalah agar aku menang. Aku tahu dia mengalah, tapi tak pernah aku tanyakan alasannya dan aku biarkan saja begitu.
Di kelas, dia selalu menjadi juara, kalau tidak ranking satu ya dua. Aku selalu di bawah dia, ranking empat, sejak kelas satu hingga kelas tiga. Tapi entah mengapa saat pelajaran matematika dan seni rupa dia selalu memperhatikanku dan mengomentari pekerjaanku.
Aku sangat suka matematika, tapi tidak pernah suka mencatat apa yang dijelaskan guru maupun apa yang ditulis di papan tulis. Buku tulisku hanya berisi gambar-gambar aneh yang aku sendiri tidak tahu apa yang kugambar.
Dalam kelas seni rupa, jelas aku bukanlah yang terbaik. Arsiranku, caraku mewarnai tidak pernah sempurna. Hanya saja bentuk dan desain yang kubuat selalu berbeda dengan yang lainnya. Saat Dizza mulai mengomentari buku tulis matematika ku yang penuh dengan gambar, dia tidak akan berhenti sampai puas melihat wajah ‘bete’ku. Kalau mulut kasarku keluar sudah, dia akan memukulku dan menjambak rambutku.
‘Kenapa sih ada gadis kasar dan ga jelas kayak dia’ pikirku saat dianiaya olenya. Setelah masa aniaya yang menyebalkan, Dizza Cuma akan berpura-pura tidak terjadi apapun dan meninggalkanku begitu saja. Saat pulang sekolah, dia melakukan tradisi rutin yang kubenci, meledekku, mencandakan apa yang kulakukan saat di kelas, sampai jemputanku pulang tiba.
Dalam mimpiku itu, aku tersenyum dan menyapanya, “Hai, apa kabar?”
Komentar
Posting Komentar