Langsung ke konten utama

Dizza Arifa


Sosok gadis cilik yang riang itu muncul kembali. Dia berlari kecil menuju arahku. Semuanya tampak buram, jalanan, pepohonan, gedung sekolah, semuanya menjadi buram. Tak ada yang terlihat dengan jelas, kecuali gadis kecil itu. Ya, gadis yang riang itu kini berdiri di hadapanku. Matanya yang berwarna kebiruan tampak tajam sekaligus penuh hasrat semangat menatap mataku. Hidungnya yang mungil, rambutnya yang hitam kecoklatan dengan panjang sebahu lurus tergurai sedikit mengembang. Gadis cilik setengah Indo-setengah Jerman itu berusia sekitar 8 tahun. Dia mengenakan seragam SD nya, dengan rok mungilnya di atas lutut. Gadis itu menunggu responku atas kedatangannya.

Saat ku tersadar, ternyata tubuhku kembali seperti saat aku SD. Tubuhku mengecil, kulihat sekilas tangan dan kakiku yang mungil, tubuh siapa ini, sesaat kuingat kembali. Aku kembali ke masa kecilku. Aku sedang di dalam mimpi. Mimpi bersama seorang gadis yang sudah belasan tahun tidak pernah kuingat wajah maupun namanya, Dizza Arifa.

Gadis yang selalu riang, jago olah raga khususnya lari. Dia selalu mengajakku berlomba lari dengannya, padahal tahu aku selalu kalah dengannya. Sesekali dia mengalah agar aku menang. Aku tahu dia mengalah, tapi tak pernah aku tanyakan alasannya dan aku biarkan saja begitu.

Di kelas, dia selalu menjadi juara, kalau tidak ranking satu ya dua. Aku selalu di bawah dia, ranking empat, sejak kelas satu hingga kelas tiga. Tapi entah mengapa saat pelajaran matematika dan seni rupa dia selalu memperhatikanku dan mengomentari pekerjaanku.

Aku sangat suka matematika, tapi tidak pernah suka mencatat apa yang dijelaskan guru maupun apa yang ditulis di papan tulis. Buku tulisku hanya berisi gambar-gambar aneh yang aku sendiri tidak tahu apa yang kugambar.

Dalam kelas seni rupa, jelas aku  bukanlah yang terbaik. Arsiranku, caraku mewarnai tidak pernah sempurna. Hanya saja bentuk dan desain yang kubuat selalu berbeda dengan yang lainnya. Saat Dizza mulai mengomentari buku tulis matematika ku yang penuh dengan gambar, dia tidak akan berhenti sampai puas melihat wajah ‘bete’ku. Kalau mulut kasarku keluar sudah, dia akan memukulku dan menjambak rambutku.

‘Kenapa sih ada gadis kasar dan ga jelas kayak dia’ pikirku saat dianiaya olenya. Setelah masa aniaya yang menyebalkan, Dizza Cuma akan berpura-pura tidak terjadi apapun dan meninggalkanku begitu saja. Saat pulang sekolah, dia melakukan tradisi rutin yang kubenci, meledekku, mencandakan apa yang kulakukan saat di kelas, sampai jemputanku pulang tiba.

Saat kelas empat, aku pindah sekolah. Tidak ada acara apapun untuk merayakan perpisahanku. Hanya satu dua sahabatku mengantar kepergianku. Dan tidak ada Dizza di sana. Aku sama sekali tidak ingat dengannya. Hingga kini aku 21 tahun. Telah lupa aku wajah dan namanya. Namun mimpi malam ini mengingatkanku lagi akan dirinya. Dizza Arifa, gadis riang, pintar, jago berlari dan suka mengusili dan menganiayaku.

Dalam mimpiku itu, aku tersenyum dan menyapanya, “Hai, apa kabar?”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

THE ISLAMIC VERSION OF TRICKLE DOWN EFFECT’S THEORY

‘Trickle Down Effect’, adalah sebuah sistem perekonomian peninggalan para kapitalis, yang dianut oleh Indonesia sejak jaman Orde baru hingga saat ini. Sistem ini dianggap sebagai sistem perekonomian yang paling ideal untuk memajukan perekonomian suatu bangsa, karena pola ekonominya yang dianggap dapat menyejahterakan bangsa dari level atas hingga paling bawah. ‘Trickle Down Effect’ ini cukup terkenal dan dipakai oleh hampir semua negara maju di seluruh dunia. Untuk mempermudah memahami sistem ‘Trickle Down Effect’ ini, penulis akan jelaskan dengan sebuah cerita. Ada seorang pendaki gunung. Ketika dia sudah mencapai puncaknya, dia melihat ada 3 pendaki yang sedang bergelantungan di tepi tebing dan akan jatuh, hanya seutas tali mengikat 3 orang tersebut. Mereka cukup lelah untuk memanjat. Sang pendaki yang sudah dipuncak berniat menolong mereka bertiga, dengan menolong orang yang paling atas lebih dahulu. Berharap saat orang pertama sudah tertolong, dia akan membantu mengangka...

Kartini, Sebagai Sosok Atau Hanya Sebagai Alat Pencitraan

Siapa yang tak mengenal Kartini? Sosok wanita tangguh yang lahir di Jepara, Jawa Tengah, Indonesia, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang. Nama panjangnya adalah Raden Ayu kartini, tapi semua orang mengenalnya dengan Raden Ajeng Kartini. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan emansipasi wanita. Apa sih itu emansipasi? Mengapa diperjuangkan oleh Kartini. Emansipasi di sini berarti pembebasan dari belenggu. Sejak jaman Majapahit, sebelum Islam masuk ke Indonesia. Wanita masih dianggap sebagai makhluk yang lemah. Para raja pada jaman itu wajar bila memiliki puluhan selir. Wanita hanya dianggap sebagai benda, pemuas nafsu para lelaki dan mengerjakan hal-hal remeh di rumah. Kartini memperjuangkan bahwa wanita harus dimanusiakan, tidak diperlakukan layaknya benda. Terlebih lagi pada jaman Kartini muda, hanya para lelakilah yang boleh mendapatkan ilmu pendidikan. Wanita yang bisa meraih pendidikan hanyalah para wanita dari keturunan bangsawan. Itupun setelah si wanita selesa...

Dasar Cewek Matre(alitas)!!

Waah ketemu lagi dengan saya ya.. sekarang saya mau bahas tentang materialitas dalam audit nih, mungkin dah bisa temen-temen liat di judulnya. Hmm.. ini bukan tulisan tentang psikologi cinta atau tentang dunia seputar wanita lo (saya ga jago dalam hal itu hoho). Saya buat judul begitu biar menarik aja, jadi isi dalam tulisan ini murni bukan tentang wanita matre (yaa kecewa deh, kasian bagi para remaja yang udah keburu napsu masuk ke blog ini :p). Hmm.. kenapa dengan materialitas audit?, yak karena kemaren sabtu saya baru saja mengikuti seminar audit yang keren banget (mumpung ilmunya masih nyantol, langsung aja ta tulis di sini hehe). Seminar audit ini diselenggarakan oleh HMJ Akuntansi FE UII. Pembicaranya kemarin adalah bapak Alwi Syahri Ak. MM. dari KAP Ernst & Young, pokoknya spesial banget deh tapi ga pake telor. Bapak Alwi, beliau adalah  Equity partner  dari KAP Ernst & Young.  Equity partner  adalah posisi tertinggi di perusahaan KAP itu, ibarat...