Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2013

Cinta ayah yang tak sama lagi - Bagian satu

“ Bagus... Alus... Pinter... ” ... Dari kecil aku tak pernah menghiraukan kata-kata papa. Papa yang tinggi besar. Papa yang punya kumis tebal, kalau sedang mencium pipiku, rasanya gatal seperti digaruk pakai sikat. Papa yang senang bercanda. Papa yang akan memukulku kalau aku tidak mau sholat. Papa yang menyuruhku membaca koleksi buku-buku tebal kisah Ramayana dan Mahabarata sedari aku masih kecil, juga koleksi buku-buku Ko Ping Ho punya papa yang ada puluhan jilid. Papa juga yang menemaniku belajar matematika atau IPA di malam hari ketika papa pulang kerja. Selain papa sangat menyukai kisah para dewa dari agama Hindu dan silat dari Cina, Papa begitu tergila-gila dengan ilmu paspal (baca: ilmu pasti alam), karena menurut papa, ilmu paspal akan membuatmu menjadi orang yang logis, taktis, cerkas (ini tidak salah tulis cerdas, tapi betul cerkas yang artinya sama seperti cekatan) dan dapat berbuat adil. Intinya papa ingin anak lelaki semata wayang ini, kelak menjadi pemimpi...

Semua Manusia Adalah Guru

“Pak, lihat ini pohon Karet!” Seru muridku, Tedi, di suatu pagi. Kupandangi dengan seksama bentuk pohon yang ditunjukkan oleh muridku. Pohon ini masih kecil, tidak seperti kebanyakan pohon karet di hutan yang selalu di nakok [1] oleh masyarakat sini, di tempat Aku ditugaskan sebagai guru, di Talang [2] Tebat Rawas. Aku masih mengamati pohon muda itu sambil mendengarkan alunan instrumen ‘ Beginning of The Road ’nya Depapepe, berusaha mencari tahu apa yang sama dengan pohon karet yang sudah siap di nakok. Jepret! Suara kamera mengambil gambar yang diambil oleh muridku yang bernama Agus. Bak fotografer profesional, Agus mengambil foto pohon karet muda di hadapanku dari berbagai arah dengan berbagai posisi. “Lihat bentuk daunnya pak!”, Seru Agus mengambil perhatianku dari pengamatan pohon. Aha, itu jawabannya. Meski pohon ini masih muda, yang sama dengan pohon yang sudah besar adalah ciri daunnya. “Kalau yang ini pohon Nangka, Pak” Tedi berseru sambil men...

Catatan Di Malam Yang Hening

Di suatu heningnya malam, suara jangkrik bersahutan. Nyamuk-nyamuk terbang melayang di atas kepala. Kepala dari seseorang yang sedang merasa candu akan heningnya malam. Ditemani secercah cahaya tentram lampu senter. Muncul beberapa memori dalam ingatan masa lalunya yang membuat dirinya berpikir kembali. Apa yang telah dilakukan di masa lalunya hingga sekarang. Bukan sebuah kebetulan orang ini berada di dalam keheningan. Telah banyak jalan yang dilalui di masa hidupnya. Bukan hidup yang mudah tentu saja. Bagaimana tidak, manusia dilahirkan bersama sepaket karunia, tanggung jawab dan juga masalah. Soe Hok gie pernah berkata, “Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua, dilahirkan tapi mati muda...” Orang ini bukanlah orang istimewa yang banyak dikata oleh orang lain. Orang ini menyadari bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki struktur DNA, yang tersusun dari atom. Dan atom dari zarah, partikel terkecil atom, yang sama persis menyusun struktur DNA orang lain....

Melodi Indah Kehidupan

Aku bukanlah pujangga seperti Chairil Anwar, maupun penulis yang mencintai alam raya layaknya Soe Hok Gie. Aku hanyalah pemuda yang merindukan kebahagiaan utopis dengan cara menulis. Namun jangan bayangkan tulisanku dapat disandingkan dengan tulisan Ayu Utami, Dewi Lestari bahkan Will Eisner sekalipun. Namun satu hal yang Aku yakini dalam setiap huruf dalam kata, kata yang menggenapi kalimat-kalimat kecilku adalah wujud orisinalitas petik hidup dari kehidupanku. Seperti satu tahun kedepanku yang nampak akan sama dengan satu tahun yang dilalui Pengajar Muda sebelumku. Namun satu hal yang kuyakini akan menjadi hal yang berbeda di tahunku, adalah tentang bagaimana cara menikmati setiap detik dalam hari-hariku. Bukan tentang seperti apa ceritanya. Layaknya petikan ‘ Gymnopodie ’ dari Depapepe, hidup itu berjalan lambat ketika awal memulainya, kemudian begitu mengasyikkan begitu memasuki melodi yang menyamankan gendang telinga. Sampai-sampai membuat waktu berjalan begitu cepat ...

Obrolan tentang Pengajar Muda

Pada suatu pagi terjadi percakapan antara si penulis dengan wartawan imajiner: Wartawan Imajiner (WI): Halo kakak, selamat pagi. (Penulis dipanggil kakak demi menjaga kerahasiaan umurnya) Penulis (P): Yaa halo. (dengan muka bantal baru bangun tidur) WI: Sepertinya kakak baru saja begadang ya semalam. Maaf mengganggu, kalau mau bersih-bersih dulu silahkan. P: Baiklah. (Tanpa pikir panjang, penulis langsung masuk kamar mandi. Semenit kemudian keluar dari kamar mandi dalam busana pakaian gaul) WI: Sebagai pengajar muda, kakak cepat sekali mandinya ya? P: Ah biasa saja, kalau di dalam tulisan saya bisa melakukannya lebih cepat lagi. Beda kalau di dunia nyata. (Penulis berusaha melawak namun sepertinya garing) WI: Baiklah, sesuai dengan janji kemarin untuk mewawancarai kakak mengenai perjalanan menjadi Pengajar Muda bisa langsung kita mulai sekarang saja ya. P: Sok. (bahasa sunda dari kata ‘silahkan’) WI: Bisa ceritakan bagaimana awalnya mengetahui tentan...

Bisikan Sang Nurani di Tengah Kebisingan

Ketika mata ini tertutup, terdengar suara gemuruh kawan-kawan yang sedang berteriak. Bernyanyi dan juga ada yang menepuk tangannya. Saya berada di antara kawan-kawan baru. Di tempat baru. Suasana baru. Masih teringat apa yang saya lakukan tepat setahun yang lalu. Berkutat dengan laporan-laporan berupa grafik dan tabel angka. Bertemu orang-orang tua yang keras kepala dan selalu memaksakan kehendaknya. Tak pernah sedikitpun saya merasa ada sesuatu yang harus ditulis. Ketika salah satu sesi di masa pelatihan ini mengharuskan saya untuk menulis tentang perjalanan selama masa pelatihan Indonesia Mengajar. Oya, baiklah. Saya akan berkontemplasi. Yap, kata ini adalah sebuah kata yang menggambarkan apa yang sering saya lakukan. Meditasi, atau perenungan, atau apalah sebutan kata lainnya. Tak penting semua itu. Yang penting saya yakin dengan apa yang saya lakukan ini membawa kedamaian pada jiwa. Bukan pada kebenaran yang diusung oleh manusia kebanyakan. Manusia terlalu banyak ...

Kembali Menulis

Lama tak berjumpa lagi. Bukan niat untuk menghilang. Atau mangkir dari tanggung jawab mengisi blog lagi. Satu tahun kemarin adalah satu tahun yang cukup padat dan menjemukan. Maafkan si penulis yang katanya sok sibuk diakibatkan pekerjaan absurd yang menumpuk selama setahun ke belakang. Si penulis yang katanya berlatar belakang sebagai akuntan, kemarin menghabiskan setahunnya dengan  mengerjakan pekerjaan sesuai profesinya. Hey, dia bukan orang yang sempurna. Dan juga jangan katakan inspirasi tak pernah mendatanginya. Ide aneh dan gila selalu mendatanginya hampir setiap hari selama setahun belakang. Bukan kami ingin berkelit dari kenyataan bahwa setahun ini memang kami absen dari blog ini. Tapi yaaa... gitu deh. Ini semua cuma tentang rasa malas saja. Manusia juga makhluk hidup yang butuh istirahat. Cuma kali ini istirahatnya cukup keterlaluan. Kami menyebutnya hibernasi. Sampah! Baiklah dan cukup sudah menghabiskan dua paragraf di atas dengan alasan-alasan atau pernyataa...