Langsung ke konten utama

Postingan

Dizza Arifa

Sosok gadis cilik yang riang itu muncul kembali. Dia berlari kecil menuju arahku. Semuanya tampak buram, jalanan, pepohonan, gedung sekolah, semuanya menjadi buram. Tak ada yang terlihat dengan jelas, kecuali gadis kecil itu. Ya, gadis yang riang itu kini berdiri di hadapanku. Matanya yang berwarna kebiruan tampak tajam sekaligus penuh hasrat semangat menatap mataku. Hidungnya yang mungil, rambutnya yang hitam kecoklatan dengan panjang sebahu lurus tergurai sedikit mengembang. Gadis cilik setengah Indo-setengah Jerman itu berusia sekitar 8 tahun. Dia mengenakan seragam SD nya, dengan rok mungilnya di atas lutut. Gadis itu menunggu responku atas kedatangannya. Saat ku tersadar, ternyata tubuhku kembali seperti saat aku SD. Tubuhku mengecil, kulihat sekilas tangan dan kakiku yang mungil, tubuh siapa ini, sesaat kuingat kembali. Aku kembali ke masa kecilku. Aku sedang di dalam mimpi. Mimpi bersama seorang gadis yang sudah belasan tahun tidak pernah kuingat wajah maupun namanya, Dizza Ar...

Ironi Sebuah Bangsa Yang Katanya Kaya

Di tengah terik matahari yang menyengat, di jalanan besar di kota Yogyakarta. Ketika itu tepat di lampu merah, semua kendaraan berhimpit-himpitan saling ingin mendahului. Mobil, motor, bis dan hingga truk bertumpuk menjadi satu di jalan besar yang tampak tak muat lagi jika di tambah satu mobil sekalipun. Di tengah hiruk pikuk macetnya kendaraan, seorang pengemis meminta-minta di bawah lampu merah. Pengemis tersebut adalah seorang pemuda yang tampak masih sehat dan segar fisiknya. Sungguh ironi memang, bangsa kita yang terkenal sebagai jamrud khatulistiwa, Negara maritim, Negara agrikultur dan sebutan lainnya yang cukup membanggakan kita, ternyata masih banyak ditemukan masyarakat mental pecundang, yaitu menjadi ‘peminta-minta’. Saya tak mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa pecundang. Negara kita, Negara Indonesia adalah Negara yang hebat. Dua pertiga teritorial Negara kita adalah perairan, dan kawasan Negara kita merupakan lingkar cincin gunung berapi, yang mengakibatkan tanah...

Balasan Bagi Si Tukang Ngeyel

Tercatat dalam sejarah, seorang anak berumur lima tahun. Dia sangat aktif dalam beraktivitas, cerewet dan tak mau diam. Sayang, dia adalah anak yang kurang mampu bersosialisasi, bahkan ke ibunya sekalipun. Anak tersebut sangat suka membantah perkataan ibunya, dan tak pernah mau menurut. Satu hal yang paling di’gemas’kan oleh ibu sang anak, si anak selalu membantah semua perkataan sang ibu. Membantah semua kata yang keluar, seolah itu adalah sesuatu yang salah pikir si anak. Dan bila anda perlu tahu, anak berusia lima tahun tersebut adalah saya. Saya Ridwan Gunawan, 21 tahun sudah saya hidup di dunia ini. Namun baru saya sadari kepribadian saya belakangan ini (3-5 tahun sebelumnya), baik buruknya tingkah laku saya, sifat saya ke orang lain dan karakter saya. Seperti paragraf di atas, saya lima tahun yang lalu adalah wujud dari anak berusia lima tahun di cerita di atas. Saya mulai berusaha memperbaiki karakter saya, terutama sifat ‘Tukang ngeyel’ saya yang sudah cukup akut. Beberapa b...

Surat Untukku Dari Diriku 20 Tahun Yang Lalu

Hey my brother. How about you now? Do you feel great now? Feel amazing? Awesome? Or excellent? Like I feel now. Aku 20 tahun yang lalu ini bukanlah siapa-siapa. Ya, bukanlah siapa-siapa. Tapi lihat dirimu sekarang, kini Kau telah sukses. Telah Kau penuhi janjimu kepada Ibumu yang telah lebih dahulu berangkat ke surga. Apakah Kau masih rindu padanya, ya Aku masih rindu dengan ibu, kuharap Kau masih merindukkannya juga seperti Aku. 20 tahun kawan, 20 tahun yang lalu kutulis surat ini untuk Diriku sendiri di masa depan, 20 tahun setelah surat ini kutulis. Akan banyak orang yang membaca surat pribadi ini, tapi kuharap 20 tahun, tidak akan melewatkan pertemuan antara dirimu dengan surat ini. Mengapa surat ini kutulis? Ini bukanlah sebuah keisengan kawan, ini bukanlah perbuatan konyol yang sia-sia. Aku khawatir dengan dirimu di masa depan. Aku khawatir Kau telah melupakan Janji kita 20 tahun yang lalu. Kau yang telah sukses sekarang, Kuharap masih mengingat Almarhum ibu Kita ...

Saham Masa Kini Dan Masa Lalu

Warren Buffet, orang terkaya di dunia kedua! Actually at 2009. orang super kaya ini terlahir dengan kemampuan bermain saham yang begitu apik. Murid didikan sang legenda saham, Benjammin Graham ini membuktikan ajaran gurunya pada dunia masa kini dengan menjadi salah satu orang terkaya di jagat bumi ini! Sudah banyak teman-teman yang sekarang bermain saham, dari orang tua, hingga yang muda. Sepupu saya saja yang masih SMA sudah jadi broker saham, WAW! (Sok dramatis). Namun banyak juga kisah kelam dari jenis investasi yang mampu mengangkat Warren Buffet ini menjadi jajaran orang terkaya di permukaan bumi ini. Banyak yang jatuh berguguran, alias bangkrut dari bisnis ini. Why ? Investasi saham mengklasifikasikan pemainnya menjadi dua jenis, yeah saya ulangi lagi, menjadi dua jenis (Mau diulang lagi yang ketiga kalinya? Saya kira tidak perlu). JENIS PEMAIN SAHAM 1. Spekulan, atau bahasa Las vegasnya penjudi, atau bahasa jawanya Gambler . 2. Investor. Apa...

Imajinasikan Diri Anda Tanpa Batas

Manusia adalah makhluk eksis yang sesungguhnya mati, tanpa adanya jiwa-jiwa bebas yang mengisinya. Aku sering mengalami perjalanan imajinasi yang kebanyakan orang bilang kegiatan ini disebut dengan 'melamun'. Namun Aku bilang ini perjalanan imajinasi spiritualku. Sejak kecil Aku menyadari kemampuan berfikirku yang terlalu imajinatif dan kadang menjadi sangat autis akan lingkungan sekitar (baca: Unsociable). Pernahkah terbayang bahwa diri kita di waktu ini berbeda dengan diri kita di 1 jam yang lalu maupun diri kita 1 jam yang akan datang? Aku menyebutnya kegiatan berbicara dengan jiwa kita sendiri yang dibedakan oleh waktu yang bersifat imaterial. waktu itu imaterial, tubuh ini material, sedangkan jiwa kita juga imaterial, apakah anda mengerti maksudku? Pernahkah anda mengalami kejadian ini: saat ini anda sedang bertekad bulat akan menyapu lantai rumah, namun 1 jam kemudian diri anda masih belum beranjak juga dari sofa kesayangan anda. kejadian ini kusebut dengan mengkh...

Menguak Mitos Prinsip “Mengeluarkan biaya serendah-rendahnya memperoleh pendapatan setinggi-tingginya”

*Benjamin Ridwan Gunawan Sudah pada sering mendengarkan kalimat pada judul di atas? Orang-orang kita banyak yang suka cari gampangnya saja, pakai usaha sesedikit mungkin tapi inginnya dapat sebanyak mungkin. Contohnya apa? Melakukan Korupsi, suap, dan jalan pintas lainnya untuk mendapatkan pendapatan secara instant. Well, itu adalah hal yang tidak baik. Memang prinsip ekonominya jalan, namun sama sekali tidak memberikan manfaat buat orang lain, boro-boro manfaat, yang ada malah merugikan orang lain. Kalau di versi kampungnya contoh kegiatannya adalah dukun, atau ngepet. Ingin kerjanya sedikit tapi hasilnya banyak. Hahaha dah ga jamannya begituan, yang ada babi jaman sekarang pada disembelihin buat dijadiin tas atau jaket (hati-hati bagi temen-temen yang beli barang dari kulit, bisa jadi itu adalah kulit babi ngepet :P) Ada dua hal dalam prinsip ini, yang pertama adalah biaya, dan yang kedua adalah pendapatan. Biaya, adalah apa yang kita keluarkan untuk memperoleh p...