Langsung ke konten utama

Postingan

Obrolan tentang Pengajar Muda

Pada suatu pagi terjadi percakapan antara si penulis dengan wartawan imajiner: Wartawan Imajiner (WI): Halo kakak, selamat pagi. (Penulis dipanggil kakak demi menjaga kerahasiaan umurnya) Penulis (P): Yaa halo. (dengan muka bantal baru bangun tidur) WI: Sepertinya kakak baru saja begadang ya semalam. Maaf mengganggu, kalau mau bersih-bersih dulu silahkan. P: Baiklah. (Tanpa pikir panjang, penulis langsung masuk kamar mandi. Semenit kemudian keluar dari kamar mandi dalam busana pakaian gaul) WI: Sebagai pengajar muda, kakak cepat sekali mandinya ya? P: Ah biasa saja, kalau di dalam tulisan saya bisa melakukannya lebih cepat lagi. Beda kalau di dunia nyata. (Penulis berusaha melawak namun sepertinya garing) WI: Baiklah, sesuai dengan janji kemarin untuk mewawancarai kakak mengenai perjalanan menjadi Pengajar Muda bisa langsung kita mulai sekarang saja ya. P: Sok. (bahasa sunda dari kata ‘silahkan’) WI: Bisa ceritakan bagaimana awalnya mengetahui tentan...

Bisikan Sang Nurani di Tengah Kebisingan

Ketika mata ini tertutup, terdengar suara gemuruh kawan-kawan yang sedang berteriak. Bernyanyi dan juga ada yang menepuk tangannya. Saya berada di antara kawan-kawan baru. Di tempat baru. Suasana baru. Masih teringat apa yang saya lakukan tepat setahun yang lalu. Berkutat dengan laporan-laporan berupa grafik dan tabel angka. Bertemu orang-orang tua yang keras kepala dan selalu memaksakan kehendaknya. Tak pernah sedikitpun saya merasa ada sesuatu yang harus ditulis. Ketika salah satu sesi di masa pelatihan ini mengharuskan saya untuk menulis tentang perjalanan selama masa pelatihan Indonesia Mengajar. Oya, baiklah. Saya akan berkontemplasi. Yap, kata ini adalah sebuah kata yang menggambarkan apa yang sering saya lakukan. Meditasi, atau perenungan, atau apalah sebutan kata lainnya. Tak penting semua itu. Yang penting saya yakin dengan apa yang saya lakukan ini membawa kedamaian pada jiwa. Bukan pada kebenaran yang diusung oleh manusia kebanyakan. Manusia terlalu banyak ...

Kembali Menulis

Lama tak berjumpa lagi. Bukan niat untuk menghilang. Atau mangkir dari tanggung jawab mengisi blog lagi. Satu tahun kemarin adalah satu tahun yang cukup padat dan menjemukan. Maafkan si penulis yang katanya sok sibuk diakibatkan pekerjaan absurd yang menumpuk selama setahun ke belakang. Si penulis yang katanya berlatar belakang sebagai akuntan, kemarin menghabiskan setahunnya dengan  mengerjakan pekerjaan sesuai profesinya. Hey, dia bukan orang yang sempurna. Dan juga jangan katakan inspirasi tak pernah mendatanginya. Ide aneh dan gila selalu mendatanginya hampir setiap hari selama setahun belakang. Bukan kami ingin berkelit dari kenyataan bahwa setahun ini memang kami absen dari blog ini. Tapi yaaa... gitu deh. Ini semua cuma tentang rasa malas saja. Manusia juga makhluk hidup yang butuh istirahat. Cuma kali ini istirahatnya cukup keterlaluan. Kami menyebutnya hibernasi. Sampah! Baiklah dan cukup sudah menghabiskan dua paragraf di atas dengan alasan-alasan atau pernyataa...

Sang Prajurit

Siang itu begitu terik. Panasnya matahari membakar kerongkongan hingga kering. Kulit terbakar dan mata memerah. Keringat yang beberapa saat lalu mengucur deras, kini mulai kering. Seperti sungai yang habis airnya karena kemarau. Pria itu, berjam-jam berdiri di bawah terik matahari. Bukannya dia sengaja ingin bersengsara berjemur matahari. Namun, keadaan tidak mampu membuatnya beranjak menuju tempat yang teduh. Bersembunyi di bawah rindang dedaunan pohon yang besar. Berlindung dari panasnya matahari. Pria itu terikat di sebuah batang kayu yang besar. Tangan dan kakinya diikat di batang kayu itu. Dijemur di bawah terik matahari. Dipasung oleh masyarakat, di sebuah desa yang bernama desa Sijunjung, Padang. Pemberontak. Sebuah tuduhan yang ditujukan kepada pria tersebut oleh kepala desa Sijunjung. Di kala itu, adalah masa pasca kemerdekaan Republik tercinta, Indonesia. Di masa pemberontakan terhadap negara oleh beberapa kaum yang haus kekuasaan dan mengedepankan egonya. Pria...

CERITA TENTANG NAIK KELAS (Part 2)

Previous story :       Cerita terakhir di part 1 menceritakan tentang kelangkaan sebuah jam tangan antik yang membuat sebuah jam tangan tua mampu dihargai sampai miliaran rupiah. Memang tidak mayoritas yang akan mengincar jam tangan super langka tersebut, namun barang ini akan tetap dikejar oleh beberapa kelompok. Bangsawan, para elite atau para keluarga kerajaan. Ya masa saya yang mau beli jam tangan itu. Ngimpi! Kalau kata om Jin. Dalam beberapa artikel ekonomi yang saya baca (sok aja, padahal cuma baca judulnya), indeks peringkat ekonomi Indonesia masih di ranking 50 dalam persaingan di pasar globalisasi, padahal tetangga kita aja, Singapura ranking dua dunia. Indeks dalam Global Competitiveness yang disurvey oleh WEF ( World Economic Forum ) ini melambangkan kemakmuran suatu negara, dan indeks ini sering dipakai oleh kepala negara untuk menunjukkan kemajuan negaranya atau ketika mempromosikan surat utangnya. Dalam hal ini, terlihat bahwa usaha I...

CERITA TENTANG NAIK KELAS (Part 1)

Terinspirasi dari perkataan Hendri Sartiago, Chief Executive Oficcer (CEO) General Electric (GE) Indonesia dalam acara akademi berbagi yang saya kunjungi sebulan yang lalu. Beliau berbagi cerita mengenai keprihatinan dirinya atas lambatnya Indonesia dalam memaksimalkan potensi ekonominya. Cerita di mulai tentang harga (Naah, bagian ini saya mulai teringat tulisan mas Aul). Berdasarkan pengalaman profesional bung Hendri di GE, harga ditentukan dari tiga elemen; biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk hingga sampai ke tangan konsumen + Value + Kelangkaan. Elemen pertama, mengenai cost, kita sudah tahu dalam memproduksi suatu produk barang ataupun jasa pasti memerlukan suatu biaya yang dikeluarkan hingga produk tersebut sampai di tangan konsumen. Dalam penentuan harga jual suatu produk, elemen cost ini yang paling utama untuk diperhitungkan sebagai dasar penentuan harga. Kemudian nilai nominal selisih dari harga jual dengan harga dasar dari cost tersebut yang biasa ...

Say Cheese to The Thruth of Our Mind (My Mind I Mean)

Sudah 3 minggu tidak menulis, dan kini menulis lagi. Yang terjadi adalah tulisan fiksi. Heran. Dasarnya aku adalah orang yang menyukai hal-hal logis yang penting-penting saja. Tulisan seputar Leadership . Ekonomi global. Ataupun tulisan mengenai pekerjaanku saat ini, audit. Itulah tulisan yang aku gemari untuk kutulis. Dan sekarang? Aneh. Sometimes , manusia butuh yang namanya, explore your imagination . Einstein saja punya masalah dengan metode pembelajaran tradisional, yang mendorongnya untuk penggunaan sisi kreatif dari otak. Mungkin ini yang membuatnya menjadi ilmuwan besar. Dia menatap sesuatu melalui mata yang berbeda untuk menemukan solusi untuk masalah tersembunyi. yaitu imajinasi. Mungkin makhluk hidup di sekitar kita yang bernama manusia ini, banyak yang belum mengenal diri kita yang sebenarnya. Kebanyakan mereka berfikir sesuai dengan apa yang mereka lihat saat itu. Misal diriku, mereka berfikir bahwa aku adalah orang yang pendiam, cuek, dan terkadang kol...